Gubernur BI: Teknologi harus jadi motor produktivitas, bukan sekadar gaya
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.
Keluhan klasik tentang ketimpangan kemajuan digital di negara ini kini mendapat sorotan tajam dari barisan tertinggi sistem keuangan nasional.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyatakan secara tegas bahwa Indonesia harus memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mendongkrak produktivitas, bukan sekadar mengumbar tren tanpa dampak nyata.
Pernyataan ini bukan sekadar basa-basi di podium, melainkan teguran halus untuk sektor usaha yang masih terjebak pada adopsi teknologi secara parsial.
Fokus utama arahan gubernur BI ini adalah pergeseran paradigma: dari 'punya teknologi' menjadi 'menggunakan teknologi untuk menghasilkan lebih'.
Berdasarkan rilis resmi, penekanan tersebut merujuk pada kebutuhan mendesak untuk menjadikan inovasi sebagai pengungkit efisiensi biaya operasional dan nilai tambah barang, terutama di industri yang sensitif terhadap kompetisi regional.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa lembaga keuangan pusat sedang menyiapkan landasan regulasi atau stimulus yang lebih berorientasi pada hasil ekonomi makro daripada sekadar penetrasi penggunaan digital secara luas.
Untuk memahami bagaimana pergeseran ini terjadi, perlu ditilik ulang kondisi ekosistem keuangan Indonesia dalam beberapa kuartal terakhir, di mana adopsi digital memang melonjak, namun korelasi dengan produktivitas riil masih fluktuatif.
Banyak pelaku usaha kecil dan menengah kini menghadapi dilema: mereka sudah bertransaksi secara digital, tetapi belum mampu mengintegrasikan data transaksi tersebut ke dalam tata kelola bisnis yang lebih adaptif.
Ini menjadi ruang kosong yang ingin direspons cepat oleh Bank Indonesia agar gelombang transformasi tidak berujung pada 'digitalisasi tanpa manfaat'.
Dampak bagi publik sangat jelas: jika teknologi benar-benar diarahkan ke produktivitas, biaya barang dan jasa berpotensi turun, serta daya saing produk lokal di pasar global akan menguat.
Bagi pelaku industri, sinyal ini menjadi peringatan bahwa insentif di masa depan akan semakin berbasis pada metrik kontribusi nilai tambah, bukan sekadar angka adopsi.
Analisis Redaksi
BERITA TERKAIT (Ekonomi)

Inflasi Oktober Tembus 3,23 Persen, Airlangga Klaim Kondisi Ekonomi Masih Terkendali

Kinerja Ekonomi RI Membaik: Airlangga Laporkan Penguatan Manufaktur dan Surplus Per dagangan ke Presiden Prabowo

BPS Proyeksi Produksi Beras Jawa Tengah 2026 Tembus 5,14 Juta Ton Meski Luas Panen Menurun
