⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Dua Daratan Baru Muncul Pasca-Erupsi Gunung Anak Krakatau, Dampak Arus Laut

TeknologiKelvin WijayaKelvin WijayaSumber: CNN Teknologi
Kelvin Wijaya
Kelvin Wijaya
Software Engineer

Membahas teknologi dari kacamata pengembang dan inovasi perangkat lunak.

Dua Daratan Baru Muncul Pasca-Erupsi Gunung Anak Krakatau, Dampak Arus Laut
BAGIKAN:

Dua daratan baru terdeteksi di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau pada 23 September 2026. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi kemunculannya setelah seri erupsi menerus yang terjadi pada awal bulan tersebut.

Plt. Kepala Badan Geologi Lana Saria menyatakan, konfirmasi ini didasarkan pada laporan pelaut, relawan, serta analisis citra satelit Sentinel. "Pulau baru terdeteksi di sektor barat laut sejauh 760 meter dari pesisir Anak Krakatau dan di sektor tenggara sejauh 495 meter dari pesisir. Jika ditarik garis lurus, keduanya membentuk kelurusan berarah barat laut-tenggara dengan kawah utama berada di antaranya," kata Lana, melansir Antara, Kamis (24/9).

Lana memaparkan bahwa pembentukan daratan baru tersebut diinterpretasikan berkaitan erat dengan erupsi menerus Anak Krakatau pada 4-6 September 2026. Erupsi berdurasi 25 jam pada periode tersebut memicu aliran lava deras yang menambah luas tubuh gunung api hingga 32,8 hektare. Meski kemunculannya terkonfirmasi, dia menyatakan tim dari Badan Geologi masih memerlukan data serta kajian lebih lanjut untuk memastikan apakah kedua pulau tersebut merupakan pusat titik erupsi baru atau akumulasi material erupsi sekunder.

Edukator mitigasi bencana Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono memastikan daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau itu bukan gunung api baru atau "Cucu Krakatau", melainkan endapan material vulkanik. Daryono mengatakan terbentuknya daratan baru di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung dipengaruhi oleh kombinasi faktor geologis dan oseanografis. Dasar laut di area cekungan atau kaldera akibat letusan Gunung Krakatau 1883 tergolong dangkal, sehingga memungkinkan material erupsi lebih cepat menumpuk tinggi. Selain itu, lontaran batuan, magma, dan aliran lava selama erupsi memang dominan menuju ke area tersebut.

"Pembentukan daratan ini terjadi akibat akumulasi dan penumpukan material vulkanik, seperti abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut," jelas Daryono saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (24/9). "Proses ini berlangsung secara bertahap seiring dengan meningkatnya aktivitas erupsi gunung tersebut, sehingga endapan materialnya lambat laun menyembul ke permukaan air laut dan membentuk daratan baru," lanjut dia. Dinamika arus serta gelombang laut Selat Sunda juga memengaruhi perpindahan endapan karena membawa material erosi ringan ke titik-titik perairan yang lebih tenang, sampai akhirnya mengendap secara permanen. Endapan ini mungkin saja makin membesar atau justru lenyap kembali, tergantung seberapa kuat pengaruh aktivitas vulkanik dan erosi alam di perairan tersebut. Jika Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi, kata Daryono, pasokan material baru akan membuat daratan tersebut makin meluas. Kepadatannya juga akan semakin kokoh sebab terus dilapisi lava cair yang membeku menjadi batuan keras.

Analisis Redaksi

Penurunan status aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) sejak 21 September 2026 berimplikasi langsung pada pembaruan zona bahaya. Badan Geologi kini melarang aktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah utama serta 1 kilometer dari kedua pulau baru. Larangan ini menandakan bahwa struktur daratan baru tersebut dianggap berpotensi tidak stabil dan berisiko bagi keselamatan publik. Warga di pesisir Banten dan Lampung diimbau untuk tetap tenang dan mematuhi arahan BPBD setempat, serta tidak memercayai isu hoaks terkait tsunami yang seringkali memicu kepanikan berlebihan di media sosial.

Kemunculan dua daratan baru ini bukan sekadar fenomena geografis, melainkan indikator intensitas aktivitas vulkanik yang cukup signifikan. Akumulasi material setebal yang memungkinkan penumpukan di laut dangkal kaldera lama menunjukkan bahwa erupsi 4-6 September 2026 memiliki volume emisi yang besar. Kemungkinan langkah selanjutnya akan berfokus pada pemetaan stabilitas endapan untuk memastikan apakah kedua pulau tersebut akan bertahan atau erosi. Jika erupsi berlanjut, potensi perluasan daratan akan meningkatkan risiko interaksi dengan gelombang laut, yang dapat memengaruhi navigasi kapal di Selat Sunda, jalur pelayaran strategis yang vital bagi logistik nasional.

BERITA TERKAIT (Teknologi)

Meow! Tanya Nesi!
😸