Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Airlangga: Indonesia Paling Kompetitif untuk Pusat Data di ASEAN Berkat Lahan dan Energi Hijau

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Airlangga: Indonesia Paling Kompetitif untuk Pusat Data di ASEAN Berkat Lahan dan Energi Hijau
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan posisi strategis Indonesia sebagai lokasi ideal bagi investor global yang hendak membangun infrastruktur pusat data atau data center .
  • Klaim ini didasarkan pada keunggulan komparatif berupa ketersediaan lahan luas, pasokan listrik yang ditopang energi hijau, serta sumber air melimpah.
  • Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga dalam acara Antara Business Forum 2026 di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (23/9).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan posisi strategis Indonesia sebagai lokasi ideal bagi investor global yang hendak membangun infrastruktur pusat data atau data center. Klaim ini didasarkan pada keunggulan komparatif berupa ketersediaan lahan luas, pasokan listrik yang ditopang energi hijau, serta sumber air melimpah. Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga dalam acara Antara Business Forum 2026 di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (23/9).

Airlangga memproyeksikan lonjakan kebutuhan pusat data akan terjadi seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang menuntut kinerja server ekstra tinggi. Dalam konteks ini, Indonesia hadir menawarkan solusi konkret melalui ketersediaan pasokan air yang cukup untuk mendukung proses pendinginan fasilitas pusat data secara efisien. Kombinasi elemen-elemen tersebut dinilai menjadi daya saing tersendiri dibandingkan negara-negara lain di kawasan ASEAN.

Sebagai bukti nyata tingginya daya tarik investasi digital di Tanah Air, Airlangga mengungkap rencana investasi bernilai jumbo dari perusahaan teknologi global asal Amerika Serikat, NVIDIA. "Kemarin NVIDIA sudah berbicara di Batam, di kawasan ekonomi khusus yang kita siapkan itu, mereka rencana mau investasi US$4,5 miliar," ujar Airlangga. Rencana ini menandai kepercayaan besar pemain industri terhadap ekosistem infrastruktur digital Indonesia.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia turut memperkuat argumen tersebut dengan mengajak investor agar tidak ragu menanamkan modal di Indonesia. Ia menekankan bahwa wilayah Indonesia merupakan yang terbesar di Asia Tenggara dengan jumlah pulau yang sangat banyak, sehingga opsi lokasi pembangunan masih terbuka lebar. Hal ini disampaikannya dalam acara Electricity Connect 2026 di ICE BSD City Tangerang, Banten, pada Selasa (22/9) lalu.

Bahlil menjamin pasokan listrik untuk data center tidak perlu diragukan karena PT PLN (Persero) siap menyediakan kapasitas sesuai permintaan investor. "Menyangkut listriknya saya pikir enggak ada masalah. Begitu mereka menyampaikan keinginannya, terus ditambah berapa kapasitas kebutuhan listrik yang dibutuhkan, pasti PLN akan menyiapkan," tegas Bahlil. Ia menambahkan bahwa pasokan energi dapat berasal dari berbagai sumber terbarukan seperti matahari, air, panas bumi, dan angin.

Analisis Redaksi

Narasi pemerintah tentang kesiapan infrastruktur digital kini bergeser dari sekadar retorika menuju penawaran berbasis komoditas fisik: tanah, air, dan energi. Dengan menonjolkan faktor biaya operasional yang lebih rendah berkat akses energi hijau dan air pendingin, Indonesia mencoba merebut pasar dari tetangga regional seperti Singapura atau Malaysia yang mungkin memiliki konektivitas internet lebih baik namun terkendala keterbatasan lahan dan mahalnya tarif listrik. Langkah menarik NVIDIA ke Batam juga menunjukkan pergeseran fokus pengembangan teknologi tinggi keluar dari Jawa, sebuah strategi desentralisasi ekonomi yang ambisius.

Pengawasan kritis tetap diperlukan terkait realisasi jaminan PLN dan stabilitas harga listrik kompetitif yang dijanjikan Bahlil. Sejarah mencatat sering adanya kesenjangan antara janji infrastruktur cepat dan eksekusi teknis di lapangan, terutama ketika menghadapi lonjakan permintaan mendadak akibat adopsi AI. Investor perlu memastikan bahwa komitmen 'siap kapan saja' benar-benar didukung oleh jaringan transmisi yang andal dan regulasi yang konsisten, bukan hanya berdasarkan potensi geografis semata.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ