Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

276 Warga Batang Diduga Keracunan MBG, Pemkab Tutup Sementara Dapur Penyedia

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

276 Warga Batang Diduga Keracunan MBG, Pemkab Tutup Sementara Dapur Penyedia
BAGIKAN:

Sebanyak 276 warga di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, diduga mengalami keracunan massal setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Insiden ini memicu respons cepat Pemerintah Kabupaten Batang dengan mengerahkan empat fasilitas kesehatan utama untuk menangani para korban yang tersebar di berbagai titik.

Wakil Bupati Batang Suyono mengonfirmasi bahwa penanganan medis dilakukan secara simultan di Puskesmas Batang, RSU Limpung, Puskesmas Subah, dan RSUD Kalisari Batang. "Kita berikan layanan di sejumlah tempat layanan kesehatan," ujar Suyono saat ditemui di RSUD Kalisari pada Rabu (23/9) malam. Ia menekankan bahwa data jumlah terdampak masih bersifat dinamis karena proses pendataan dan pemeriksaan di lapangan terus berlangsung hingga pukul 20.38 WIB.

Keluhan mulai dirasakan oleh siswa maupun orang tua murid beberapa jam setelah konsumsi makanan yang dibagikan pada Selasa (22/9). Suyono menjelaskan kronologi singkat: anak sekolah makan sekitar pukul 11.00 WIB, namun gejala mual dan pusing baru muncul pada siang hingga sore hari, tepatnya antara pukul 13.00 atau 14.00 WIB. Menariknya, tidak hanya siswa yang menjadi korban; sejumlah orang tua turut merasakan efek serupa setelah mencicipi sisa makanan yang dibawa pulang oleh anak mereka.

Sumber kontaminasi ditelusuri ke satu dapur penyedia Program Gizi (SPPG) yang melayani 11 titik penerima manfaat di Kecamatan Bawang dengan total 2.700 sasaran. Titik-titik tersebut meliputi TK Al Ikhlas, SDN 3 Bawang, TK Pertiwi, MA Sunan Kalijaga, MTs Sunan Kalijaga, TK Kuncup Mekar, TP Ananda, Pos PAUD Anggrek Mas, TK Korotayun, RA Al Hidayah, dan MI Salafiyah Pasusukan. Suyono menyebut telur sebagai dugaan awal penyebab keluhan karena rasa yang dianggap berbeda, namun ia menegaskan hal ini belum pasti tanpa hasil uji laboratorium.

Pemerintah daerah telah mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional SPPG terkait. "Ya diberhentikan sementara ini SPPG yang itu. Yang bersangkutan berhenti," tegas Suyono. Selain itu, Dinas Kesehatan diminta segera mengambil sampel makanan untuk diperiksa guna memastikan sumber masalah. Di RSUD Kalisari, belasan ambulans terlihat mondar-mandir sejak pukul 19.13 WIB hingga menjelang pukul 21.00 WIB, menandakan urgensi situasi dengan setidaknya 20 pasien yang menjalani perawatan intensif pada waktu tersebut.

Analisis Redaksi

Kejadian ini menyoroti celah fatal dalam rantai pasok keamanan pangan program nasional yang berskala besar. Ketika satu unit dapur gagal menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP), dampaknya langsung meluas ke ratusan jiwa dalam hitungan jam. Pernyataan Suyono mengenai potensi penetapan Kejadian Luar Biasa (KLB) yang masih menunggu rapat khusus menunjukkan adanya kehati-hatian birokratis, namun bagi publik, kecepatan respons medis jauh lebih krusial daripada label administratif. Pengawasan ketat terhadap setiap SPPG bukan lagi opsi, melainkan kewajiban mutlak mengingat nyawa manusia dipertaruhkan.

Masa depan implementasi MBG akan ditentukan oleh transparansi hasil laboratorium dan akuntabilitas pengelola dapur yang terlibat. Jika pelanggaran terbukti, sanksi harus diberikan secara tegas tanpa pandang bulu agar kejadian serupa tidak terulang. Masyarakat berhak mendapatkan jaminan bahwa intervensi gizi negara tidak berubah menjadi ancaman kesehatan kolektif. Ini adalah ujian kredibilitas bagi pelaksana program di tingkat daerah sebelum kepercayaan publik sepenuhnya runtuh.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸