The Power of Mama: Jejak Patroli 140 Perempuan Penjaga Hutan Kalimantan

Lebih dari 140 perempuan di Kalimantan telah mengubah peran domestik mereka menjadi garda terdepan perlindungan lingkungan. Kelompok yang menamakan diri "The Power of Mama" ini secara konsisten menjaga hutan melalui patroli rutin, pencatatan titik api, hingga upaya pemadaman dini saat kebakaran melanda.
Mereka bukan tentara atau polisi kehutanan profesional. Profesi sehari-hari mereka adalah petani dan ibu rumah tangga. Namun, dengan mengandalkan sepeda motor sebagai kendaraan utama, para perempuan ini menembus medan berat untuk memantau kondisi hutan. Aktivitas mereka menjadi benteng pertahanan terakhir ketika negara terlihat absen dalam pencegahan bencana ekologis tahunan tersebut.
Jurnaini, salah satu anggota aktif dari Desa Sungai Putri, Kalimantan Barat, merasakan dampak langsung degradasi alam. Setiap musim kemarau tiba, desanya kerap diterpa asap tebal akibat karhutla. Ia mengaku pilu melihat hamparan hijau yang selama ini menopang kehidupan warga perlahan lenyap ditelan si jago merah.
Inisiatif kolektif ini bermula pada tahun 2022. Sebuah organisasi nonpemerintah mengambil langkah strategis dengan mengumpulkan para perempuan dari empat desa di sekitar wilayah Ketapang. Mereka tidak sekadar diberi semangat, tetapi dibekali keterampilan teknis berupa pelatihan pemadaman kebakaran yang efektif dan aman bagi pemula.
Kehadiran kelompok ini membuktikan bahwa partisipasi masyarakat sipil, khususnya perempuan, memiliki kekuatan signifikan dalam mitigasi bencana. Tanpa anggaran besar atau peralatan canggih, modal keberanian dan solidaritas antarwarga mampu menghasilkan dampak nyata bagi kelestarian ekosistem Kalimantan yang kritis.
Analisis Redaksi
Fenomena The Power of Mama mengungkap kegagalan sistematis dalam manajemen sumber daya manusia sektor lingkungan hidup. Ketika beban proteksi hutan jatuh ke pundak ibu-ibu rumah tangga dengan sepeda motor biasa, itu menandakan adanya defisit serius pada kapasitas penegakan hukum dan pencegahan oleh institusi resmi. Negara seharusnya hadir sebagai pelindung utama, bukan justru membiarkan warga sipil menjadi tameng fisik terhadap amukan api.
Penting dicermati bahwa keberlanjutan gerakan akar rumput ini rentan jika tidak didukung kebijakan struktural. Pelatihan dari NGO hanyalah solusi jangka pendek. Pemerintah daerah dan pusat perlu segera melembagakan pengetahuan lokal ini ke dalam skema pembiayaan tetap dan integrasi dengan pos-pos pemantauan satelit. Tanpa dukungan regulasi yang jelas, inisiatif mulia ini berisiko habis tenaga sebelum mencapai skala perubahan yang dibutuhkan.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Sudin Perpustakaan Jakut Luncurkan Book Camp 2026: 85 Duta Literasi Targetkan Ekosistem Kebiasaan Baca Berkelanjutan

BPS: Penumpang LRT Jakarta Melonjak 66 Persen Sepanjang September 2026, Transjakarta Tembus 39 Juta Orang

Wisatawan ke Jakarta Capai 8,58 Juta Perjalanan, Naik 6,37 Persen Sepanjang September 2026
