Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Empat dari Lima Analis Proyeksikan BI Rate Tetap 5,75 Persen pada RDG September 2026

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Empat dari Lima Analis Proyeksikan BI Rate Tetap 5,75 Persen pada RDG September 2026
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Mayoritas ekonom dan analis keuangan memproyeksikan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2026.
  • Konsensus untuk menahan suku bunga muncul setelah The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 16 September menjadi 3,75 persen-4 persen.
  • Josua menilai langkah The Fed itu sudah diantisipasi oleh otoritas moneter domestik.

Mayoritas ekonom dan analis keuangan memproyeksikan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2026. Dari lima analis yang dihubungi CNNIndonesia.com, empat di antaranya sepakat bank sentral tidak perlu mengubah kebijakan moneter bulan ini, sementara satu analis justru mendesak agar suku bunga kembali dinaikkan.

Kelima analis tersebut adalah Ekonom Senior Bank Permata Josua Pardede, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto, Executive Director Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Muhammad Faisal, Analis Mata Uang DOO Financial Futures Lukman Leong, dan Analis Mata Uang Ariston Tjendra. Konsensus untuk menahan suku bunga muncul setelah The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 16 September menjadi 3,75 persen-4 persen.

Josua menilai langkah The Fed itu sudah diantisipasi oleh otoritas moneter domestik. "Bank Indonesia akan kembali mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen pada RDG September. Peluang BI menahan suku bunga relatif tinggi pada September," kata Josua kepada CNNIndonesia.com, Selasa (22/9). Ia mengingatkan bahwa BI telah lebih dahulu menaikkan BI Rate secara kumulatif 100 basis poin pada Mei-Juni sebagai langkah antisipatif menjaga stabilitas rupiah dan inflasi. Menaikkan bunga lagi hanya karena respons terhadap The Fed berisiko menciptakan pengetatan berlebihan.

Fundamental ekonomi domestik memberikan bantalan kuat bagi BI untuk tidak buru-buru menarik tuas suku bunga. Inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19 persen, masih aman dalam sasaran BI yakni 2,5 persen plus-minus 1 persen. Cadangan devisa pun kokoh di posisi US$146,5 miliar, setara sekitar 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Neraca perdagangan kembali surplus, dan rupiah sempat menguat sepanjang Agustus.

Rully seirama dengan pandangan tersebut. "Kalau besok saya perkirakan akan stay di 5,75 persen, sementara ini line of defense pertama adalah intervensi," ujarnya. Ia menegaskan keputusan menahan suku bunga tidak otomatis menekan rupiah ke bawah. Segalanya bergantung pada komunikasi BI dan kredibilitas bauran kebijakan yang menyertainya. Ariston Tjendra menambahkan bahwa pergerakan rupiah yang relatif stabil di kisaran Rp17.750-an pascapengumuman The Fed membuktikan pasar belum panik. Aliran dana asing pada kuartal ketiga juga masih cukup besar mencapai Rp141 triliun.

Meski demikian, ruang untuk menahan suku bunga bukan tanpa risiko. Muhammad Faisal mencatat eskalasi konflik geopolitik, kenaikan harga minyak dunia, serta kebijakan The Fed yang lebih hawkish tetap membayangi. Namun, selisih suku bunga antara BI dan The Fed dinilai masih cukup lebar. Kenaikan harga energi sebagian juga diredam oleh kebijakan subsidi pemerintah sehingga tekanan inflasi tertahan. Faisal menekankan pentingnya melindungi sektor riil, mengingat kenaikan suku bunga sebelumnya sudah mendorong lonjakan bunga kredit perbankan. Instrumen likuiditas makroprudensial, menurutnya, masih bisa diandalkan tanpa harus mengerek BI Rate.

Satu-satunya suara sumbang datang dari Lukman Leong. Ia menilai BI idealnya kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Meski inflasi domestik masih dalam target, tekanan terhadap rupiah nyata adanya. Harga minyak mentah dunia yang tinggi berpotensi menambah beban fiskal negara. "Idealnya BI kembali menaikkan suku bunga," tegas Lukman. Ia bahkan memperingatkan apabila BI memilih bertahan di 5,75 persen, rupiah diperkirakan akan melemah.

Analisis Redaksi

Peta jalan kebijakan moneter BI pada September 2026 menunjukkan pergeseran strategi yang matang. Keputusan untuk tidak latah mengikuti kenaikan 25 basis poin The Fed mencerminkan kepercayaan diri bank sentral terhadap bantalan makroekonomi domestik. Kenaikan kumulatif 100 basis poin pada Mei-Juni terbukti berfungsi efektif sebagai tameng antisipatif. Ini bukan sekadar keberuntungan timing, melainkan kalkulasi terukur agar sektor riil tidak tercekik oleh biaya pinjaman yang terus meroket tanpa jeda.

Namun, peringatan Lukman Leong soal potensi pelemahan rupiah tidak boleh diabaikan begitu saja. Stabilitas nilai tukar di kisaran Rp17.750-an saat ini sangat bergantung pada aliran modal asing masuk dan ketebalan cadangan devisa US$146,5 miliar. Jika eskalasi geopolitik memicu lonjakan harga minyak lebih tajam, instrumen intervensi dan likuiditas makroprudensial yang diandalkan para analis bisa terkuras cepat. Ruang gerak BI menyempit ketika tekanan eksternal datang bersamaan dengan kebutuhan fiskal untuk menahan subsidi energi.

Ke depan, arah kebijakan suku bunga acuan sepenuhnya dinamis. Seperti disinggung Josua dan Ariston, skenario menahan bunga di September bukanlah akhir dari siklus pengetatan. Jika The Fed kembali agresif sebelum tutup tahun 2026, pintu menuju BI Rate 6 persen tetap terbuka lebar pada triwulan keempat. Pasar harus membaca sinyal komunikasi BI pasca-RDG dengan saksama, karena jeda bulan ini hanyalah waktu tarik napas, bukan jaminan pelonggaran permanen.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ