⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Bakteri Mematikan Ditemukan di Limbah Data Center Meta Wyoming

TeknologiKelvin WijayaKelvin WijayaSumber: CNN Teknologi
Kelvin Wijaya
Kelvin Wijaya
Software Engineer

Membahas teknologi dari kacamata pengembang dan inovasi perangkat lunak.

Bakteri Mematikan Ditemukan di Limbah Data Center Meta Wyoming
BAGIKAN:

Pemerintah Cheyenne, Wyoming, menghentikan sementara penerimaan air limbah dari kontraktor pusat data Meta setelah uji laboratorium mendeteksi keberadaan bakteri Cupriavidus gilardii dalam volume pembuangan mencapai 801.000 galon awal tahun ini. Temuan ini memicu kekhawatiran serius mengenai keamanan lingkungan dan potensi paparan uap berbahaya bagi warga sekitar fasilitas tersebut.

Frank Strong, Manajer Sumber Daya Air di Dewan Utilitas Publik Kota Cheyenne, menyatakan keputusan penghentian ini diambil sebagai langkah kehati-hatian mutlak hingga informasi lebih lanjut diperoleh. "Ini sangat mengejutkan," ujar Strong kepada The Guardian, Selasa (8/9), menegaskan bahwa meskipun air tersebut tidak ditujukan untuk pasokan minum langsung, risiko inhalasi melalui irigasi tetap menjadi ancaman nyata bagi kesehatan publik.

Meta merespons temuan pemerintah setempat dengan melakukan investigasi internal bersama kontraktornya, Goat Systems. Perusahaan milik Mark Zuckerberg ini membantah adanya kontaminasi, mengklaim bahwa penelitian mereka tidak menemukan jejak bakteri Cupriavidus gilardii. Selain itu, Meta mempertanyakan validitas metodologi pengujian yang dilakukan oleh otoritas kota dan menegaskan komitmennya untuk menjaga sumber daya air lokal tetap aman.

Tekanan politik terhadap kasus ini meningkat ketika Harriet Hageman, anggota Kongres Partai Republik asal Wyoming, mengirimkan surat resmi kepada CEO Meta. Hageman menyoroti ironi bahwa sistem data center yang dipromosikan sebagai teknologi hemat air justru berpotensi mencemari sumber daya vital tersebut. "Air adalah sumber daya yang sangat berharga bagi kami... kami khawatir sistem yang seharusnya mengurangi penggunaan air di data center justru menyebabkan air tercemar," tulisnya dalam surat terbuka tersebut.

Kontroversi ini terjadi di tengah pembangunan kompleks data center AI seluas 388 hektare senilai US$800 juta di Cheyenne. Proses operasional seperti 'fill and flush' digunakan untuk mencegah penumpukan mineral pada pipa, namun metode ini berisiko melepaskan logam berat atau PFAS—bahan kimia abadi yang sulit terurai. Sementara itu, Presiden Donald Trump mempertahankan sikap defensifnya, menyebut pusat data sebagai "angsa bertelur emas" pencipta lapangan kerja dan menolak kritik publik terkait dampak lingkungannya.

Analisis Redaksi

Sengketa antara otoritas lokal dan raksasa teknologi ini mengungkap celah regulasi yang lebar dalam pengawasan infrastruktur digital modern. Ketika perusahaan bersikeras pada klaim internal tanpa transparansi data mentah, kepercayaan publik erosi. Kasus ini bukan sekadar tentang satu jenis bakteri, melainkan pertempuran naratif: apakah efisiensi energi dan ekonomi digital layak dikorbankan demi keselamatan hidrologis komunitas kecil? Ketidakmampuan kedua belah pihak memverifikasi temuan secara independen memperpanjang ketidakpastian bagi warga Cheyenne.

Langkah selanjutnya kemungkinan akan melibatkan intervensi regulator federal atau pengadilan, mengingat tekanan politik dari kongres dan sikap proteksionis pemerintahan Trump terhadap industri teknologi. Bagi masyarakat luas, insiden ini menjadi peringatan keras bahwa janji "teknologi hijau" sering kali belum sepenuhnya tervalidasi oleh audit lingkungan yang ketat. Tanpa mekanisme pemantauan eksternal yang objektif, warga di sekitar hub data global lainnya harus siap menghadapi risiko serupa, di mana keuntungan korporasi tetap privat sementara dampaknya bersifat publik.

BERITA TERKAIT (Teknologi)

Meow! Tanya Nesi!
😸