Shalat Istisqa Digelar di Balai Kota Solo, Warga Berdoa Akhiri Kekeringan dan Karhutla

Agama
Maulana IbrahimMaulana Ibrahim
Sumber: Antara News
Maulana Ibrahim
Maulana Ibrahim
Pakar Sejarah Islam

Mengulas sejarah kebudayaan Islam dan tokoh-tokoh penting dalam agama.

Shalat Istisqa Digelar di Balai Kota Solo, Warga Berdoa Akhiri Kekeringan dan Karhutla
BAGIKAN:

Umat Islam menggelar Shalat Istisqa atau shalat memohon turunnya hujan di halaman Balai Kota Solo, Jawa Tengah, Selasa (22/9/2026). Ibadah massal ini menjadi upaya spiritual warga untuk mengakhiri rentetan bencana kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) yang mendera sejumlah wilayah.

Ratusan jamaah tampak memenuhi area terbuka gedung pemerintahan tersebut sejak pagi. Mereka berdiri berbaris rapi di atas sajadah dan tikar yang digelar langsung di atas paving block. Imam memimpin takbir pembuka dengan suara lantang membelah udara kering yang menyelimuti kota sepanjang musim kemarau tahun ini.

Pemilihan Balai Kota sebagai lokasi pelaksanaan bukan tanpa alasan. Ruang publik milik pemerintah daerah ini mampu menampung jumlah peserta yang cukup besar secara bersamaan. Kehadiran warga di pusat pemerintahan juga mengirimkan pesan simbolis bahwa krisis iklim saat ini membutuhkan perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat dan pemangku kebijakan.

Shalat Istisqa merupakan sunnah muakkadah yang dianjurkan Rasulullah SAW ketika umat menghadapi paceklik panjang akibat tiadanya curah hujan. Ritual keagamaan ini secara khusus ditujukan untuk memohon rahmat berupa air dari langit. Pelaksanaannya melibatkan tata cara spesifik, termasuk pembacaan doa-doa tertentu yang berisi permohonan ampunan sekaligus permintaan diturunkannya hujan.

Ancaman karhutla dan defisit air bersih telah mengganggu aktivitas harian ribuan warga dalam beberapa pekan terakhir. Sumber-sumber air permukaan menyusut drastis. Lahan pertanian menguning sebelum masa panen tiba. Asap tebal dari titik-titik panas yang terpantau satelit sesekali terbawa angin hingga memperburuk kualitas udara di permukiman padat penduduk.

Keterlibatan aktif masyarakat dalam ritual bersama di ruang publik menunjukkan tingkat keresahan kolektif yang sudah berada di ambang batas. Upaya teknis seperti penyaluran air bersih menggunakan tangki hanya mampu meredam dahaga sementara. Warga menyadari betul bahwa solusi struktural atas krisis ekologis ini melampaui kapasitas infrastruktur yang ada saat ini.

Analisis Redaksi

Pelaksanaan Shalat Istisqa di pusat pemerintahan membawa dimensi ganda yang patut dicermati. Di satu sisi, ia murni ekspresi keimanan umat Islam menghadapi ujian alam. Di sisi lain, berkumpulnya massa di Balai Kota Solo secara tidak langsung menekan otoritas setempat agar lebih agresif merespons ancaman kekeringan dan karhutla. Simbolisme ruang sangat kuat di sini: rakyat datang ke rumah kekuasaan untuk berdoa bersama, menuntut perhatian yang setara antara pendekatan spiritual dan penanganan birokratis.

Yang perlu diwaspadai adalah kecenderungan menyerahkan sepenuhnya penyelesaian krisis iklim pada jalur spiritual semata. Doa memang menggerakkan hati, tetapi data curah hujan dan titik api tidak berubah hanya dengan harapan. Pemerintah daerah harus memastikan bahwa momentum keramaian ini tidak sekadar menjadi seremoni tahunan yang terlupakan begitu jamaah membubarkan diri. Anggaran mitigasi bencana, patroli pencegahan karhutla, dan manajemen sumber daya air harus dievaluasi ulang hari ini juga.

Secara logis, langkah selanjutnya yang bisa kita antisipasi adalah percepatan distribusi bantuan air bersih ke kantong-kantong kekeringan paling parah di sekitar wilayah tersebut. Aparat gabungan juga kemungkinan akan meningkatkan pengawasan terhadap lahan-lahan rawan terbakar pascapelaksanaan ibadah ini. Sinergi antara kesadaran spiritual warga dan ketegasan eksekusi pemerintah akan menentukan seberapa cepat ancaman kekeringan ini benar-benar berakhir.

Meow! Tanya Nesi!
😸