Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Psikolog Carly Hunt Ph.D. Ungkap Alasan Nyeri Tetap Muncul Meski Cedera Telah Sembuh

KesehatanSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: Antara News
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Psikolog Carly Hunt Ph.D. Ungkap Alasan Nyeri Tetap Muncul Meski Cedera Telah Sembuh
BAGIKAN:

Sensasi nyeri yang terus bertahan kendati cedera fisik sudah dinyatakan sembuh ternyata bukan sekadar ilusi, melainkan respons kompleks tubuh yang dijelaskan secara ilmiah oleh Psikolog olahraga dan kesehatan Carly Hunt Ph.D. Fenomena ini kerap membingungkan pasien sekaligus tenaga medis karena hasil pemeriksaan klinis menunjukkan jaringan tubuh telah pulih sepenuhnya.

Carly Hunt Ph.D. menegaskan bahwa sensasi nyeri tidak selalu berbanding lurus dengan kerusakan jaringan. Tubuh manusia memiliki mekanisme perlindungan yang kadang terus mengirimkan sinyal bahaya meskipun luka asli sudah menutup sempurna. Otak merekam pengalaman traumatis dari cedera tersebut dan memicu alarm palsu sebagai bentuk pertahanan diri.

Pemahaman ini mengubah cara pandang dunia medis terhadap penanganan pasien pascacedera. Selama puluhan tahun, pendekatan penyembuhan sering kali berhenti pada pemulihan fisik semata. Padahal, aspek psikologis memegang peran krusial dalam menentukan apakah seseorang benar-benar terbebas dari rasa sakit atau justru terjebak dalam siklus nyeri berkepanjangan.

Konteks keilmuan Carly Hunt Ph.D. sebagai psikolog olahraga dan kesehatan memberikan bobot tersendiri pada penjelasan ini. Atlet profesional maupun masyarakat umum yang aktif bergerak sering menghadapi situasi di mana dokter menyatakan mereka sehat, tetapi tubuh menolak diajak berkompromi. Ketidaksesuaian antara vonis medis dan realitas yang dirasakan inilah yang menjadi fokus kajian mendalamnya.

Dampak langsung dari temuan ini menyasar jutaan orang yang selama ini menanggung beban nyeri tak kasat mata. Pasien sering kali diragukan keluhannya, bahkan dicap melebih-lebihkan kondisi. Penjelasan logis mengenai mekanisme nyeri pascacedera memberi legitimasi atas penderitaan mereka sekaligus membuka jalan bagi metode terapi yang lebih komprehensif dan manusiawi.

Keterlibatan faktor psikologis dalam persepsi nyeri menuntut perubahan paradigma perawatan kesehatan secara menyeluruh. Pendekatan multidisiplin yang menggabungkan fisioterapi dengan intervensi psikologis menjadi kebutuhan mendesak agar pasien tidak sekadar sembuh secara struktural, tetapi juga pulih secara fungsional.

Analisis Redaksi

Penjelasan Carly Hunt Ph.D. membongkar celah besar dalam praktik penanganan cedera konvensional. Ketika dokter hanya mengandalkan pemindaian fisik untuk menyatakan kesembuhan, mereka mengabaikan arsitektur saraf dan memori otak yang menyimpan rekam jejak trauma. Rasa sakit yang menetap adalah bukti nyata bahwa tubuh manusia bukan mesin mekanis yang bisa diperbaiki hanya dengan mengganti suku cadang yang rusak.

Masyarakat perlu mewaspadai kecenderungan meremehkan keluhan nyeri pascacedera. Mengabaikan sinyal ini berpotensi memicu gangguan kesehatan mental sekunder seperti kecemasan kronis hingga depresi akibat frustrasi berkepanjangan. Pasien yang merasa suaranya tidak didengar oleh sistem medis akan kehilangan kepercayaan terhadap proses pemulihan itu sendiri.

Langkah logis selanjutnya mengharuskan fasilitas kesehatan mengintegrasikan asesmen psikologis ke dalam protokol standar rehabilitasi cedera. Tenaga medis wajib dilatih mengenali tanda-tanda nyeri yang bersumber dari memori traumatik otak, bukan semata dari kerusakan jaringan. Tanpa pergeseran kebijakan ini, kita hanya akan terus mencetak pasien yang sembuh di atas kertas namun tersiksa dalam kesehariannya.

BERITA TERKAIT (Kesehatan)

Meow! Tanya Nesi!
😸