Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Modus Konten Boneka Berujung Pelecehan di Jalan Tunjungan Surabaya, Polisi Dalami Kasus Viral

KriminalBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Modus Konten Boneka Berujung Pelecehan di Jalan Tunjungan Surabaya, Polisi Dalami Kasus Viral
BAGIKAN:

Polrestabes Surabaya tengah menyelidiki dugaan pelecehan seksual berkedok pembuatan konten video boneka yang menargetkan perempuan di kawasan Jalan Tunjungan. Kasus ini mencuat ke permukaan setelah seorang korban berinisial AS membongkar modus operandi dua pria tak dikenal yang mengajaknya serta seorang temannya merekam video singkat pada 5 Agustus 2026 sekitar tengah malam.

Kronologi bermula ketika AS dan temannya berjalan menuju area parkir di kawasan Jalan Tunjungan. Dua pria tiba-tiba menghampiri mereka dengan tawaran yang terdengar ringan. "Bilang, 'Halo Kak, mau masuk konten nggak? Cuma take video 20 detik aja, paling lama. Kontennya sama boneka, nanti kita tos terus aku kasih boneka ke kakak'," kata AS saat menjelaskan modus pelaku, Selasa (22/9). Penolakan awal AS tidak membuahkan hasil. Temannya merasa tidak enak hati dan akhirnya menyetujui ajakan tersebut. Upaya AS mencegah justru berujung pada dirinya yang ikut ditarik paksa ke dalam frame kamera.

Selama perekaman berlangsung, instruksi yang diberikan sekelompok pria itu berubah janggal. Para korban diberi boneka dan diminta memegang bagian ekornya. Di titik itulah dugaan pelecehan terjadi secara terbuka. "Tos-tosan, ngasih boneka, disuruh lihat ekor bonekanya, disuruh pegang ekornya, ketawa-ketawa dan saling lempar satu sama lain," beber AS merinci tindakan para pelaku. Merasa dirugikan dan dilecehkan, AS membeberkan seluruh pengalamannya melalui platform media sosial Threads.

Unggahan tersebut memicu reaksi berantai. Banyak perempuan lain tampil mengakui bahwa mereka mengalami perlakuan serupa dari kelompok yang sama di lokasi yang sama. Kegaduhan publik ini memaksa aparat bergerak cepat. Kasatres PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Melatisari mengonfirmasi bahwa kepolisian sedang mendalami kasus tersebut secara serius. Ia juga meminta warga lebih berhati-hati saat berada di ruang publik dan tidak ragu melapor ke petugas bila melihat hal mencurigakan. "Lebih jaga diri dan lingkungan sekitar serta tingkatkan kewaspadaan terhadap setiap bentuk perilaku yang mengarah pada kekerasan atau pelecehan seksual. Laporkan jika mengetahui hal tersebut," tuturnya.

Tekanan massa digital akhirnya memunculkan sosok di balik layar. Pemilik akun TikTok dan YouTube @takimofficial08 mengirimkan pesan permohonan maaf secara langsung kepada AS. "Saya hanya ingin menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada kakak yang pernah saya ajak ikut dalam konten boneka. Dengan kesadaran penuh dan ketulusan, saya benar-benar ingin meminta maaf kepada semua pihak dan terutama kepada kakak yang merasa terganggu dan saya rugikan bahkan lecehkan," tulis kreator tersebut. Ia mengklaim tidak berniat merendahkan siapa pun dan berjanji menghentikan produksi video bermuatan serupa. "Saya juga berkomitmen untuk tidak mengulangi konsep konten seperti itu ke depannya. Saya akan menjadikan kejadian ini sebagai pembelajaran agar ke depannya bisa membuat konten dengan cara yang lebih baik lagi," ujarnya dalam pesan lanjutan.

AS menerima permintaan maaf itu secara personal, tetapi menolak menghapus unggahan viralnya. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan. "Secara personal saya sudah memaafkan pelaku. Tetapi untuk postingan sebelumnya belum bisa saya hapus karena saya mau memastikan dulu apakah benar dia sudah nggak bikin konten seperti itu lagi di Jalan Tunjungan," katanya tegas. Sikap AS menunjukkan bahwa penyelesaian personal tidak otomatis menutup kebutuhan akan pengawasan publik terhadap potensi kejahatan berulang.

Analisis Redaksi

Modus operandi yang digunakan pelaku memperlihatkan pola eksploitasi ruang publik yang dikemas rapi dalam bungkus tren konten digital. Permintaan sederhana untuk merekam video selama 20 detik bersama boneka dirancang sedemikian rupa agar korban menurunkan kewaspadaan. Ketika korban sudah masuk ke dalam frame, instruksi perlahan digeser ke arah tindakan yang mengandung muatan pelecehan. Pola ini berbahaya karena menyamarkan niat jahat di balik aktivitas yang tampak lumrah di era maraknya kreator jalanan.

Pengakuan korban lain yang muncul setelah unggahan AS viral membuktikan bahwa peristiwa ini bukan insiden tunggal. Ada indikasi kuat bahwa praktik serupa telah dilakukan berulang kali terhadap banyak perempuan di sepanjang Jalan Tunjungan tanpa perlawanan berarti, hingga satu korban berani bersuara. Langkah Polrestabes Surabaya melalui Kasatres PPA AKBP Melatisari perlu diapresiasi, namun penyelidikan harus melampaui sekadar klarifikasi. Aparat perlu memeriksa riwayat seluruh video di akun @takimofficial08 untuk memastikan tidak ada korban lain yang belum melapor.

Permintaan maaf dari kreator konten memang menjadi langkah awal, tetapi tidak bisa menggantikan proses hukum jika unsur pidana terbukti terpenuhi. Keputusan AS mempertahankan unggahannya sebagai alat kontrol sosial adalah langkah cerdas yang patut dicontoh korban lain. Ke depan, pemerintah kota dan kepolisian perlu memperketat pengawasan terhadap aktivitas perekaman konten komersial di ruang publik, terutama pada jam-jam rawan tengah malam, agar kawasan seperti Jalan Tunjungan tidak berubah menjadi arena perburuan berkedok hiburan.

BERITA TERKAIT (Kriminal)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ