Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Syekh Ibrahim Al Madani, Muazin Masjidil Haram, Wafat Usai Kumandangkan Adzan Subuh Terakhir

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Syekh Ibrahim Al Madani, Muazin Masjidil Haram, Wafat Usai Kumandangkan Adzan Subuh Terakhir
BAGIKAN:

Syekh Ibrahim Al Madani, salah satu muazin Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi, meninggal dunia pada Senin (21/9) dini hari dalam usia 50 tahun. Ia mengembuskan napas terakhir hanya beberapa jam setelah mengumandangkan adzan pertama salat Subuh di masjid paling suci bagi umat Islam tersebut. Kabar duka ini pertama kali dilaporkan oleh Inside the Haramain dan langsung menyita perhatian jutaan muslim di seluruh dunia.

Rekaman yang dibagikan Inside the Haramain memperlihatkan suasana Masjidil Haram dan Ka'bah saat suara Al Madani mengalun melalui pengeras suara. Itu adalah adzan terakhirnya. Tidak ada tanda-tanda bahwa panggilan subuh itu akan menjadi penutup pengabdiannya selama bertahun-tahun. Shalat jenazah dijadwalkan berlangsung setelah salat Asar pada Senin (21/9) di Masjidil Haram, sebelum jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Al Mualla, Mekkah.

Al Madani resmi diangkat sebagai muazin Masjidil Haram pada 1439 Hijriah atau 2017-2018. Ia tumbuh dalam keluarga religius yang kental dengan nilai-nilai keislaman. Kakeknya merupakan seorang penghafal Al-Qur'an yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanannya. Panggilan azan sudah mendarah daging sejak ia berusia 15 tahun di sebuah masjid lingkungan tempat tinggalnya di Madinah. Saat itu, ia menjalankan tugas secara bergiliran bersama tiga tetangganya hingga menyelesaikan kuliah.

Karier panjangnya tidak selalu mulus tanpa jeda. Setelah lulus, Al Madani sempat berhenti menjadi muazin karena harus menjalankan pekerjaan mengajar di luar Madinah. Titik balik datang pada 1428 Hijriah atau 2007-2008 ketika ia kembali mengumandangkan adzan di Masjid Al Maddah. Pengabdian konsisten di masjid itulah yang kemudian membawanya melangkah ke gerbang Masjidil Haram.

Di Masjidil Haram, Al Madani merupakan salah satu dari 24 muazin utama. Sistem pembagian tugas berjalan ketat: setiap hari, enam muazin mendapat giliran untuk mengumandangkan adzan lima shalat wajib dan adzan pertama untuk shalat Subuh. Al Madani dikenal terutama karena azan Subuh dan takbiratnya. Selain itu, ia juga bertugas melakukan tabligh, yakni menyampaikan takbir dan gerakan imam kepada jamaah melalui sistem pengeras suara.

Latar belakangnya di Madinah turut mempengaruhi gaya azannya secara mendalam. Sejak kecil, ia terbiasa dengan tradisi adzan yang berkembang di kota Nabi tersebut. Namun, kunjungannya ke Mekkah bersama sang ayah membuatnya mengenal gaya adzan khas Mekkah. Dalam wawancara di podcast Ashraqat, Al Madani pernah mengenang pengalaman pertamanya mengumandangkan adzan di Masjidil Haram. Ia mengaku terharu hingga menangis ketika melihat jamaah melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah sambil mendengar suaranya sendiri. Perasaan tidak percaya menyelimutinya. "Siapakah saya sehingga berani bersuara di tempat suci ini?," ungkapnya seperti dilaporkan The Siasat Daily.

Analisis Redaksi

Wafatnya Syekh Ibrahim Al Madani bukan sekadar hilangnya satu nama dari daftar petugas masjid. Bagi komunitas muslim global, suara muazin Masjidil Haram adalah penanda waktu spiritual yang menyatukan jutaan orang lintas negara setiap harinya. Fakta bahwa ia meninggal hanya beberapa jam setelah mengumandangkan adzan Subuh terakhirnya memberikan dimensi emosional yang sangat kuat. Ini mengingatkan kita betapa rapuhnya batas antara tugas rutin sehari-hari dan akhir dari sebuah pengabdian.

Dari sisi tata kelola keagamaan di Arab Saudi, posisi 24 muazin utama Masjidil Haram bukanlah jabatan biasa. Rotasi enam muazin per hari menunjukkan tingkat presisi dan standar tinggi yang dituntut dari para pengemban tugas ini. Kehilangan sosok yang telah mengabdi sejak 2017 dan memiliki penguasaan unik atas dua tradisi adzan—Mekkah dan Madinah—tentu menuntut proses transisi internal yang cermat agar kualitas panggilan ibadah tetap terjaga tanpa cela.

Langkah selanjutnya yang logis adalah penunjukan pengganti dari jajaran muazin yang sudah ada atau promosi dari masjid-masjid besar lain di Arab Saudi, mengingat rekam jejak Al Madani sendiri dimulai dari level masjid lingkungan di Madinah. Warisan terbesarnya justru terletak pada rekaman-rekaman suaranya yang kini tersebar luas. Rekaman itu akan terus menjadi rujukan bagi generasi muazin berikutnya tentang bagaimana kerendahan hati—seperti yang ia ungkapkan sendiri saat bertanya siapa dirinya di hadapan Ka'bah—menjadi fondasi utama dalam melayani rumah Allah.

BERITA TERKAIT (Dunia)

Meow! Tanya Nesi!
😸