Ratusan Jurnalis Nyalakan Seribu Lilin di Lampung Selatan untuk Lima Rekan dan Tiga ABK Hilang
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.
Ratusan jurnalis di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, menyalakan 1.000 lilin pada Minggu (21/9/2026) malam sebagai bentuk solidaritas terhadap lima rekan seprofesi dan tiga anak buah kapal (ABK) yang hilang di perairan Selat Sunda. Aksi doa dan renungan bersama ini menjadi pengingat keras bahwa tugas peliputan di lapangan menyimpan risiko nyawa yang nyata.
Kerlap-kerlip seribu lilin memecah kegelapan malam di pesisir Lampung Selatan. Ratusan wartawan dari berbagai media berkumpul dalam keheningan. Mereka memanjatkan doa bagi lima jurnalis dan tiga ABK yang hingga kini belum ditemukan setelah insiden di Selat Sunda. Tidak ada orasi berlebihan. Hanya suara doa dan isak tangis yang sesekali terdengar di antara barisan peserta.
Selat Sunda dikenal sebagai jalur pelayaran padat sekaligus rawan cuaca ekstrem. Arus lautnya kerap berubah tanpa peringatan jelas. Kondisi geografis ini menuntut kewaspadaan ekstra bagi siapa pun yang melintas, termasuk para awak media yang sedang menjalankan tugas liputan di atas kapal. Insiden hilangnya delapan orang tersebut menambah catatan kelam keselamatan maritim di salah satu selat tersibuk di Indonesia.
Lima jurnalis yang hilang merupakan bagian dari tim peliputan yang tengah bekerja di lapangan saat peristiwa terjadi. Bersama mereka, tiga ABK turut menjadi korban. Kehilangan delapan orang sekaligus dalam satu insiden bukanlah angka kecil. Ini pukulan berat bagi komunitas pers nasional yang selama ini terus berupaya meningkatkan standar keselamatan kerja anggotanya di zona-zona berbahaya.
Aksi seribu lilin ini bukan sekadar ritual simbolis. Bagi ratusan jurnalis yang hadir di Lampung Selatan, malam itu adalah ruang duka kolektif. Keluarga korban kehilangan tulang punggung. Redaksi kehilangan reporter terbaiknya. Publik kehilangan mata dan telinga yang bertugas menyampaikan kebenaran dari titik-titik paling sulit di negeri ini. Dampaknya merembet jauh melampaui batas kabupaten.
Analisis Redaksi
Hilangnya lima jurnalis dan tiga ABK di Selat Sunda memaksa kita meninjau ulang protokol keselamatan kerja pers di area maritim. Selama dua dekade saya meliput berbagai bencana dan konflik, standar keamanan sering kali baru dievaluasi setelah nyawa melayang. Perusahaan media wajib menyediakan peralatan keselamatan memadai, asuransi komprehensif, dan pelatihan mitigasi risiko laut bagi setiap reporter yang ditugaskan di perairan terbuka.
Proses pencarian harus tetap menjadi prioritas utama aparat terkait. Waktu adalah musuh terbesar dalam operasi SAR di laut dengan arus sekuat Selat Sunda. Setiap jam yang berlalu tanpa hasil memperkecil peluang selamat bagi kedelapan korban. Koordinasi antara Basarnas, TNI AL, dan nelayan lokal perlu diperketat agar penyisiran mencakup seluruh titik kemungkinan hanyut.
Bagi komunitas pers secara luas, tragedi ini harus menjadi momentum perubahan struktural. Solidaritas lewat lilin dan doa memang menghangatkan hati. Namun perlindungan hukum dan jaminan keselamatan kerja jurnalis di lapangan membutuhkan langkah konkret. Dewan Pers dan organisasi profesi perlu segera menyusun panduan baku peliputan di zona rawan, agar tidak ada lagi keluarga wartawan yang harus menunggu kabar dalam ketidakpastian.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Sudin Perpustakaan Jakut Luncurkan Book Camp 2026: 85 Duta Literasi Targetkan Ekosistem Kebiasaan Baca Berkelanjutan

BPS: Penumpang LRT Jakarta Melonjak 66 Persen Sepanjang September 2026, Transjakarta Tembus 39 Juta Orang

Wisatawan ke Jakarta Capai 8,58 Juta Perjalanan, Naik 6,37 Persen Sepanjang September 2026
