Partai Putin Kuasai 355 Kursi Duma, Pemilu Rusia Digelar di Tengah Serangan 1.600 Drone Ukraina
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Partai United Russia pimpinan Presiden Vladimir Putin mengamankan kemenangan telak dengan perolehan 57,83 persen suara dalam pemilihan legislatif pada Senin (21/9), tepat ketika langit Moskow dipenuhi 1.600 drone dari arah Ukraina.
Komisi Pemilihan Pusat Rusia telah merampungkan penghitungan lebih dari 95 persen suara hingga hari ini. Berdasarkan data yang dikutip Reuters, raihan tersebut memastikan partai penguasa itu memborong 355 dari total 450 kursi di parlemen atau Duma. Angka ini mengukuhkan kembali status mereka sebagai kekuatan mayoritas mutlak di lembaga legislatif Rusia.
Kontestasi politik kali ini jauh dari kata normal. Pemungutan suara turut digelar di empat wilayah Ukraina yang dicaplok Rusia pada 2022 lalu, yakni Donetsk, Luhansk, Kherson, dan Zaporizhzhia. Proses pencoblosan di keempat kawasan tersebut tidak berjalan secara sipil, melainkan diawasi langsung oleh tentara Rusia yang berjaga di lokasi-lokasi pemungutan suara.
Pemerintah Ukraina menolak mengakui keabsahan proses tersebut. Kyiv mengecam keras penyelenggaraan pemilu berikut hasilnya, menegaskan bahwa seluruh kontestasi politik yang melibatkan wilayah kedaulatan mereka adalah tindakan ilegal. Sikap penolakan ini memperjelas jurang pemisah diplomatik antara kedua negara yang kini sudah berperang lebih dari empat tahun.
Hanya sehari sebelum kotak suara ditutup, eskalasi militer mencapai titik didih baru. Pada Minggu, Ukraina melepaskan 1.600 drone ke wilayah Moskow. Serangan masif ini menewaskan tiga orang dan memicu ledakan hebat di sebuah kilang minyak. Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin mengklaim pasukannya berhasil mencegat ribuan drone tersebut. Ia menuding serangan itu dirancang khusus untuk merusak jalannya pemilu. "Serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini jelas direncanakan dengan tujuan mengganggu pemilu. Musuh gagal mencapainya," kata Sobyanin.
Bagi publik Rusia, hasil ini membawa pesan ganda yang kontradiktif. Di satu sisi, mesin politik Kremlin membuktikan dominasinya tak tergoyahkan. Di sisi lain, jatuhnya korban jiwa dan meledaknya infrastruktur vital seperti kilang minyak menunjukkan bahwa perang yang terus membara membawa ancaman nyata hingga ke jantung ibu kota mereka sendiri.
Analisis Redaksi
Kemenangan United Russia dengan 355 kursi bukan sekadar angka statistik. Ini adalah legitimasi institusional bagi Kremlin untuk melanjutkan kebijakan perangnya tanpa hambatan berarti dari parlemen. Penyelenggaraan pemilu di tengah bombardir selama beberapa hari terakhir, termasuk pelibatan paksa empat wilayah Ukraina, memperlihatkan bahwa Moskow menggunakan mekanisme demokrasi prosedural sebagai instrumen konsolidasi kekuasaan dan klaim teritorial.
Serangan 1.600 drone pada Minggu patut dibaca sebagai strategi asimetris Kyiv. Mengingat pertempuran darat sedang membara, Ukraina memilih menyerang logistik dan psikologis lawan tepat di momen paling sensitif secara politik. Respons cepat Sobyanin yang langsung mengaitkan serangan dengan upaya sabotase pemilu menunjukkan betapa Kremlin sangat menjaga narasi stabilitas domestik agar tidak goyah di mata rakyatnya.
Langkah selanjutnya yang perlu diwaspadai adalah bagaimana Duma yang baru akan merespons eskalasi militer ini. Dengan mayoritas mutlak di tangan partai Putin, peluang lahirnya legislasi yang memperketat mobilisasi sumber daya untuk perang terbuka lebar. Bagi komunitas internasional, hasil ini menandakan bahwa jalan menuju meja perundingan masih sangat panjang karena struktur politik Rusia justru semakin tersentralisasi untuk mendukung kelanjutan konflik.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Haley Stevens Dikecualikan Demokrat Michigan Usai Dukung Kandidat Republik

Eisenkot Bongkar Ambisi Netanyahu Giring Pemilu Ulang, Qatar Bantah Tuduhan Campur Tangan

Hasil Pemilu Israel: Survei Ditolak, Partai Arab Dipertanyakan Asing
