Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Pakistan Gempur Afghanistan Saat Jadi Mediator AS-Iran, Tiga Warga Sipil Tewas

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Pakistan Gempur Afghanistan Saat Jadi Mediator AS-Iran, Tiga Warga Sipil Tewas
BAGIKAN:

Pakistan melancarkan serangan udara ke wilayah timur Afghanistan pada Senin (21/9), menewaskan sedikitnya tiga warga sipil dan menghancurkan rumah penduduk. Insiden ini terjadi justru saat Islamabad tengah berupaya memposisikan dirinya sebagai mediator kunci dalam ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Wakil juru bicara Taliban Afghanistan, Hamdullah Fitrat, mengonfirmasi bahwa operasi militer tersebut dimulai pukul 03.00 waktu setempat di Distrik Nurgal, Provinsi Kunar. Serangan itu berdampak fatal bagi keluarga Noor Ahmad di Desa Pathan. "Menurut informasi awal, rumah sipil milik penduduk desa bernama Noor Ahmad di Desa Pathan, Distrik Nurgal, hancur total akibat pengeboman tersebut, yang mengakibatkan syahidnya tiga anggota keluarga, termasuk Noor Ahmad," tulis Fitrat melalui akun X resminya.

Kehancuran tidak hanya menyasar infrastruktur fisik tetapi juga merenggut nyawa kelompok rentan. Fitrat menambahkan bahwa di antara para korban jiwa dan luka terdapat dua anak-anak serta dua perempuan. Sementara itu, serangan terpisah dilaporkan terjadi di Distrik Barmal, Provinsi Paktika. Dalam insiden kedua ini, satu toko dan satu rumah kosong hancur rata dengan tanah, meskipun belum ada laporan mengenai jatuhnya korban jiwa dari lokasi tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi maupun konfirmasi langsung dari kepemimpinan tertinggi Taliban terkait skala penuh kerugian materiil dan non-materiil atas agresi lintas batas tersebut. Namun, narasi resmi Kabul tetap konsisten menempatkan tindakan Pakistan sebagai pelanggaran kedaulatan yang berulang, terutama ketika dilakukan di bawah bayang-bayang diplomasi internasional yang sedang berjalan.

Latar belakang konflik ini berakar pada tuduhan Islamabad terhadap Kabul yang dianggap melindungi milisi Tahrik-e-Taliban Pakistan (TTP). Dalam beberapa tahun terakhir, Pakistan berjibaku melawan pemberontakan TTP di kawasan perbatasan, sebuah kelompok yang diyakini mendapat dukungan logistik dan tempat berlindung dari pemerintah Taliban Afghanistan. Gelombang kekerasan eskalatif, termasuk bom bunuh diri di barat laut Pakistan, telah menewaskan puluhan personel keamanan dan warga sipil, memperburuk hubungan bilateral kedua negara tetangga.

Dampak geopolitik dari serangan ini cukup signifikan bagi stabilitas regional. Di satu sisi, aksi militer menunjukkan pendekatan keras Pakistan terhadap ancaman keamanan internalnya tanpa memandang risiko diplomatik eksternal. Di sisi lain, langkah ini berpotensi merusak kredibilitas Islamabad sebagai pihak netral atau jembatan damai dalam isu-isu sensitif seperti konflik AS-Iran, di mana Pakistan sebelumnya mengklaim berusaha membawa Washington dan Teheran kembali ke meja perundingan.

Analisis Redaksi

Kontradiksi perilaku Pakistan—menjadi gembong perdamaian di panggung global sambil menggempur tetangga dekat—mencerminkan dilema klasik kebijakan luar negeri negara-negara berkembang: prioritas keamanan nasional sering kali mengalahkan ambisi diplomatik. Bagi analis hubungan internasional, serangan ini bukan sekadar balasan taktis terhadap TTP, melainkan sinyal politik bahwa Islamabad merasa terdesak oleh tekanan domestik sehingga rela mengambil risiko isolasi regional. Langkah ini kemungkinan besar akan memicu retaliasi verbal atau bahkan fisik dari Kabul, memperpanjang siklus kekerasan yang sulit diputus di Asia Selatan.

Masyarakat perlu mewaspadai dampak lanjutan berupa meningkatnya sentimen anti-Pakistan di kalangan publik Afghanistan dan potensi kegagalan misi mediasi AS-Iran jika Teheran atau Washington menilai Islamabad tidak memiliki integritas moral untuk berperan sebagai penengah. Secara logis, kita bisa mengharapkan intervensi lebih aktif dari PBB atau negara-negara Teluk untuk menekan de-eskalasi, namun tanpa perubahan fundamental dalam strategi kontra-terorisme Pakistan, bentrokan perbatasan semacam ini diprediksi akan terus berulang dengan intensitas yang semakin tinggi.

Meow! Tanya Nesi!
😸