MACC Tangkap Mantan Bos FELDA dan FIC Terkait Dugaan Korupsi Proyek KLVC
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

- Penangkapan ini dikonfirmasi langsung oleh Ketua Pesuruhjaya MACC Abd Halim Aman dalam konferensi pers di Kajang pada Sabtu (19/9), sebagaimana dilansir dari FMT, Senin (21/9).
- Halim menegaskan bahwa penyidikan kasus terkait KLVC telah selesai.
- "MACC akan merekomendasikan agar dakwaan diajukan terhadap kedua individu tersebut berdasarkan berkas penyidikan," ujarnya.
Komisi Pemberantasan Korupsi Malaysia (MACC) resmi menangkap mantan Direktur Jenderal FELDA dan mantan CEO anak perusahaannya, Felda Investment Corporation (FIC), atas dugaan penyelewengan proyek properti Kuala Lumpur Vertical City (KLVC). Penangkapan ini dikonfirmasi langsung oleh Ketua Pesuruhjaya MACC Abd Halim Aman dalam konferensi pers di Kajang pada Sabtu (19/9), sebagaimana dilansir dari FMT, Senin (21/9).
Halim menegaskan bahwa penyidikan kasus terkait KLVC telah selesai. "MACC akan merekomendasikan agar dakwaan diajukan terhadap kedua individu tersebut berdasarkan berkas penyidikan," ujarnya. Pihaknya kini menunggu persetujuan dari Kejaksaan Agung Malaysia untuk melanjutkan proses penuntutan secara hukum.
Jaringan penyelidikan ini ternyata jauh lebih luas dari sekadar satu proyek. Selain dua mantan pimpinan tersebut, MACC memeriksa mantan Ketua FELDA Isa Samad di Penjara Sungai Buloh pada Kamis (17/9). Pemeriksaan itu menyasar tujuh berkas penyidikan terpisah yang mencakup dugaan penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, dan penyelewengan dana investasi di lingkungan FELDA maupun FIC. "Proses diperkirakan berlanjut pekan depan. Hingga Jumat (18/9), total 34 saksi telah dipanggil dan keterangan mereka dicatat terkait tujuh kasus yang tengah diselidiki," jelas Halim.
Operasi berskala besar yang dinamai Op Fella ini tidak main-main. Penyelidikan berfokus pada seluruh transaksi investasi dan akuisisi aset FELDA selama rentang satu dekade penuh, yakni periode 2010 hingga 2020. Angka sepuluh tahun menunjukkan betapa masifnya potensi kerugian negara yang sedang dibongkar oleh badan antikorupsi tetangga tersebut.
Di jalur lain, MACC juga mencatat keterangan Menteri Pertanian dan Ketahanan Pangan Malaysia Mohamad Sabu serta sekretaris jenderal kementerian terkait keterlambatan pasokan pupuk di Kedah. Keterangan Mohamad dicatat pada Rabu (16/9), sedangkan keterangan sekretaris jenderal sehari sebelumnya. Sejauh ini, 37 saksi telah diperiksa untuk penyelidikan yang dimulai sejak 26 Agustus soal penunjukan sebuah perusahaan oleh kementerian. "Penyelidikan masih berlangsung dan diperkirakan akan rampung dalam satu atau dua minggu," kata Halim seperti dilaporkan Bernama.
Analisis Redaksi
Penangkapan dua pucuk pimpinan lembaga pengelola lahan sawit terbesar milik negara Malaysia ini mengirim sinyal keras tentang tata kelola investasi publik. Op Fella yang menelusuri transaksi selama sepuluh tahun membuktikan bahwa kebocoran anggaran di sektor strategis tidak pernah luput dari audit forensik. Ketika dana yang sejatinya ditujukan untuk kesejahteraan petani sawit dialihkan ke proyek properti mewah seperti KLVC, fondasi ekonomi kerakyatan langsung terguncang.
Pemeriksaan terhadap Menteri Pertanian Mohamad Sabu menambah dimensi politik yang pelik. Keterlibatan pejabat aktif kementerian dalam penyelidikan penunjukan perusahaan pupuk memperlihatkan bahwa pengawasan pengadaan barang dan jasa masih menjadi titik rawan. Publik perlu mewaspadai potensi efek domino dari pengungkapan ini terhadap stabilitas harga komoditas pertanian di pasar domestik Malaysia.
Langkah selanjutnya sangat bergantung pada kecepatan Kejaksaan Agung Malaysia memproses rekomendasi dakwaan MACC. Jika penuntutan berjalan tanpa hambatan politik, kasus ini berpotensi menjadi preseden hukum baru bagi pertanggungjawaban pejabat badan usaha milik negara. Kita patut mengamati apakah transparansi semacam ini bisa memicu evaluasi serupa terhadap tata niaga sawit lintas batas di kawasan Asia Tenggara.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Sinergi Bappenas-BRAN: Rencana Redistribusi 23.000 Hektare Tanah Kuciutkan Kesenjangan Ekonomi Nasional

Menkeu Suahasil Ingatkan K/L Jaga Efisiensi di Tengah Sisanya APBN 2026 Rp990 Triliun

Menteri UMKM Maman Abdurrahman Inisiasi Pengendalian Harga Tepung untuk Lindungi Laba Pelaku Usaha Mikro
