Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Air Kolam di Gunung Sindur Bogor Sempat Merah Setengah Jam, Warga Berebut Ambil hingga Polisi Turun Cek

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Air Kolam di Gunung Sindur Bogor Sempat Merah Setengah Jam, Warga Berebut Ambil hingga Polisi Turun Cek
BAGIKAN:

Sebuah kolam di wilayah Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, mendadak berubah warna menjadi merah pada Minggu (20/9), memicu kehebohan warga yang langsung berebut mengambil air tersebut menggunakan galon sebelum polisi dan aparat desa turun tangan memastikan kondisi lokasi. Fenomena singkat ini terekam dalam video yang kemudian menyebar luas di media sosial dan memaksa Kapolsek Gunung Sindur AKP Ucup Supriyatna melakukan pengecekan langsung ke lapangan.

Pihak kepolisian bergerak cepat setelah menerima informasi mengenai perubahan warna air yang tidak lazim itu. Kapolsek Gunung Sindur AKP Ucup Supriyatna menyatakan bahwa pengecekan dilakukan bersama Bhabin dan tokoh masyarakat setempat. Namun, respons alam ternyata lebih cepat dari langkah birokrasi. "Jadi menindaklanjuti ada info yang beredar, Kapolsek Gunung Sindur didampingi Bhabin dan tokoh masyarakat di situ ya mendatangi lokasi, namun ketika sampai air sudah kembali normal," kata Ucup.

Polisi tidak hanya datang sekali. Mereka mengecek lokasi pada sore hari dan kembali memastikan kondisinya setelah petang. Hasilnya sama. Air kolam telah pulih seperti sedia kala. "Kita lihat langsung air sudah kembali normal seperti biasanya, warnanya biasa. Kita ke lokasi sore, setelah magrib kita kesana untuk pastikan," sambung Ucup. Langkah ganda ini menunjukkan aparat berusaha menutup celah spekulasi liar di tengah masyarakat.

Rekaman video yang viral memperlihatkan situasi yang justru kontradiktif dengan kekhawatiran akan bahaya. Sejumlah orang berdiri di pinggir kolam. Beberapa warga mencuci muka menggunakan air berwarna merah tersebut. Lebih mencengangkan lagi, ada warga yang secara sengaja mengambil air itu dan memasukkannya ke dalam galon. Tindakan ini mengindikasikan adanya kepercayaan mistis atau sekadar rasa penasaran yang mengalahkan logika keamanan dasar.

Durasi peristiwa ini ternyata sangat singkat. Berdasarkan keterangan ketua RW setempat yang dihimpun polisi, anomali warna air hanya bertahan sekitar setengah jam hingga satu jam. "Berdasarkan informasi dari ketua RW memang ada perubahan warna. Tapi itu memang tadi sebentar aja (kejadiannya), sekitar setengah jam-an atau sejam lah, dari jam 11:00 siang sampai jam 11.30 atau jam 12-an," kata Ucup yang dikutip detikcom.

Kepala Desa Cibadung Badri membenarkan informasi tersebut meski ia tidak menyaksikan langsung saat air berubah merah. Ia baru tiba di lokasi ketika warna air sudah kembali normal. Merespons potensi spekulasi irasional, Badri mengambil langkah tegas berbasis sains. Ia mengambil sampel air untuk diperiksa di laboratorium. "Saya sih enggak lihat langsung, tapi kata warga memang sempat berubah merah airnya. Saya enggak lihat pas merahnya, tadi saya ke sana sudah seperti biasa lagi. Memang katanya cuma sebentar kejadiannya," ujar Badri saat dihubungi terpisah.

Badri menolak keras jika fenomena ini ditelan mentah-mentah sebagai hal gaib. Ia telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) agar kandungan air dapat dibedah secara ilmiah. "Kita jawabnya nanti pakai ilmiah saja ya, gimana juga kalau dikaitkan sama mistis kan, jadi saya sudah hubungin DLH juga, sampel air juga sudah saya ambil, biar nanti dicek di lab. Hasilnya apa, kandungannya apa, nanti ketahuan kan sebenarnya apa yang terjadi," tegas Badri. Sikap kepala desa ini menjadi jangkar penting agar isu tidak liar di tengah masyarakat Bogor.

Analisis Redaksi

Fenomena perubahan warna air secara drastis dalam waktu kurang dari satu jam bukanlah kejadian tanpa preseden dalam ilmu hidrologi. Kemungkinan besar, pergeseran warna merah ini dipicu oleh ledakan populasi alga tertentu (algae bloom) akibat perubahan suhu atau kadar nutrisi mendadak di kolam, atau adanya limpasan material tanah laterit yang kaya zat besi akibat pergerakan air bawah permukaan. Durasi yang sangat singkat—antara pukul 11.00 WIB hingga menjelang siang—menunjukkan bahwa pemicunya bersifat temporer, bukan kontaminasi limbah industri yang biasanya meninggalkan jejak warna lebih permanen dan bau menyengat.

Yang patut diwaspadai dari peristiwa ini bukanlah semata-mata anomali alamnya, melainkan respons publik. Fakta bahwa warga mencuci muka dan memasukkan air merah tersebut ke dalam galon menunjukkan tingkat literasi kesehatan lingkungan yang masih rapuh. Jika air itu mengandung bakteri patogen, logam berat, atau toksin dari alga berbahaya, tindakan warga bisa berujung pada keracunan massal atau gangguan kulit serius. Viralitas video di media sosial tanpa konteks ilmiah justru berpotensi memperkuat takhayul dan memicu eksploitasi oleh pihak-pihak yang mencari keuntungan dari kepanikan atau kepercayaan mistis masyarakat.

Langkah Kepala Desa Cibadung Badri menggandeng Dinas Lingkungan Hidup untuk uji laboratorium adalah satu-satunya jalur yang benar. Hasil uji lab ini harus segera dipublikasikan secara transparan kepada warga untuk membunuh spekulasi sejak akarnya. Kepolisian dan aparat desa juga perlu mengedukasi warga agar tidak sembarangan mengonsumsi atau memanfaatkan air dari sumber yang mengalami anomali fisik sebelum ada jaminan keamanan resmi. Tanpa penjelasan ilmiah yang gamblang, kolam di Gunung Sindur ini hanya akan menjadi panggung bagi mitos baru.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸