Tol Layang Harbour Road II Capai 38 Meter, Tahan Gempa 1.000 Tahun dan Kejar Target Rampung 2028
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Proyek Jalan Tol Harbour Road II Ruas Ancol Timur-Pluit kini menjulang dengan struktur elevated mencapai ketinggian 38 meter di atas Tol Sedyatmo, sekaligus dirancang menahan gempa berperiode ulang hingga 1.000 tahun. Direktur Utama PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) Tbk, Arief Budhy Hardono, melaporkan progres konstruksi jalan tol super tinggi ini telah menyentuh angka 44,12 persen per Minggu (20/9/2026).
Ketinggian 38 meter itu bukan sekadar catatan teknis biasa. Angka tersebut secara telak mengungguli Tol Layang MBZ yang selama ini dikenal publik sebagai salah satu infrastruktur layang tertinggi di Indonesia dengan elevasi sekitar 15 meter. Perbedaan lebih dari dua kali lipat ini menjadikan Harbour Road II sebagai proyek struktur jalan layang paling menonjol yang sedang dibangun di Jakarta saat ini.
Arief merinci capaian pembebasan lahan yang berjalan paralel dengan konstruksi fisik. "Progres kami ini 44,12% dengan availability dari tanah yang sudah UGK infonya sudah 77%. Ini adalah progres baru sebetulnya walaupun UGK sudah sampai 77%, availability area yang bisa dikerjakan oleh rekan-rekan kontraktor adalah 81,55%," kata Arief Budhy Hardono, sebagaimana dikutip dari akun Instagram resmi perusahaan @official.cmnp.
Pembangunan ruas ini mengusung konsep elevated ganda, yakni menumpuk jalur baru tepat di atas jalan tol yang sudah beroperasi. Pendekatan ini dipilih untuk menambah kapasitas lintasan kendaraan tanpa harus membebaskan lahan baru secara masif di permukaan tanah. Langkah tersebut menjadi solusi pragmatis mengingat keterbatasan ruang di kawasan pesisir utara ibu kota.
Total investasi yang digelontorkan untuk merealisasikan megaproyek ini mencapai sekitar Rp15,08 triliun. Manajemen CMNP mematok target penyelesaian pada 2028. Kehadiran Harbour Road II secara spesifik ditujukan untuk mengurai kepadatan lalu lintas yang selama ini mencekik Tol Harbour Road I dan seluruh jaringan jalan di kawasan utara Jabodetabek.
Ruas Ancol Timur-Pluit merupakan bagian vital dari upaya memperluas konektivitas sisi utara Jakarta. Setelah mulai beroperasi nanti, jalan tol ini diharapkan langsung menjadi alternatif utama bagi volume kendaraan berat maupun ringan yang setiap hari melintas di koridor padat tersebut.
Analisis Redaksi
Keputusan membangun tol layang setinggi 38 meter dengan standar ketahanan gempa periode ulang 1.000 tahun menunjukkan pergeseran paradigma dalam perencanaan infrastruktur nasional. Jakarta tidak lagi sekadar mengejar panjang kilometer jalan, melainkan memprioritaskan ketahanan struktur ekstrem di tengah ancaman bencana geologis yang nyata. Standar ini jauh melampaui spesifikasi bangunan konvensional dan menegaskan bahwa risiko seismik kini masuk sebagai variabel utama dalam kalkulasi proyek strategis.
Capaian pembebasan lahan tahap UGK sebesar 77 persen dan ketersediaan area kerja kontraktor hingga 81,55 persen memberikan sinyal positif bagi percepatan konstruksi. Namun, sisa lahan yang belum tuntas tetap menyimpan potensi hambatan klasik proyek infrastruktur di Indonesia. Mengingat nilai investasi mencapai Rp15,08 triliun, setiap keterlambatan penyerahan lahan akan langsung berdampak pada pembengkakan biaya finansial yang ditanggung konsorsium pengelola.
Target rampung pada 2028 menuntut sinkronisasi ketat antara kecepatan eksekusi di lapangan dan penyelesaian administrasi pertanahan. Jika ruas Ancol Timur-Pluit ini berhasil beroperasi sesuai jadwal, beban logistik di kawasan utara Jabodetabek akan terpangkas signifikan. Pemerintah dan pihak swasta perlu memastikan pengawasan mutu struktur tetap ketat, karena membangun jalan bertingkat di atas jalan tol aktif memiliki tingkat kompleksitas teknis yang tidak boleh dikompromikan.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BEI Gencar Audit Acak Free Float, Sanksi Tegas Menanti Direksi Pelanggar

Dirut BEI: Ketahanan Saham Syariah Teguh di Tengah Tekanan Pasar 2026

Indodax Pastikan Layanan Pulih Penuh, Seluruh Aset Kripto dan Data Member Diklaim Aman Usai Anomali
