Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Lima Perbedaan Thai Tea dan Milk Tea yang Populer di Kalangan Gen Z Berdasarkan Survei Jakpat

EkonomiSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: Antara News
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Lima Perbedaan Thai Tea dan Milk Tea yang Populer di Kalangan Gen Z Berdasarkan Survei Jakpat
BAGIKAN:

Survei bertajuk khusus dari lembaga riset Jakpat mengungkap fakta menarik soal kebiasaan minum generasi muda: thai tea dan milk tea kini menjadi dua pilihan minuman paling populer di kalangan Gen Z. Kelima perbedaan mendasar antara kedua jenis minuman ini menentukan preferensi konsumen muda Indonesia setiap kali mereka memesan di gerai minuman kekinian.

Kedua minuman tersebut memang kerap dianggap sama oleh orang awam. Padahal, thai tea memiliki identitas rasa yang sangat spesifik karena menggunakan campuran daun teh khas Thailand yang diracik bersama rempah-rempah tertentu. Proses peracikan inilah yang memberikan warna oranye mencolok sekaligus aroma kuat pada setiap gelasnya.

Milk tea mengambil jalan berbeda dalam proses pembuatannya. Minuman ini mengandalkan paduan teh hitam atau teh hijau dengan susu secara lebih dominan tanpa tambahan rempah kompleks seperti pada racikan khas Thailand. Hasil akhirnya adalah tekstur yang jauh lebih lembut dan warna yang cenderung pucat dibandingkan saudaranya.

Popularitas keduanya di kalangan Gen Z bukan kebetulan semata. Survei Jakpat merekam bagaimana anak muda masa kini menjadikan minuman berbasis teh sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. Angka konsumsi yang terus menanjak memaksa para pelaku usaha minuman untuk memahami betul kelima perbedaan tadi agar tepat menyasar selera pasar.

Bagi konsumen, mengenali lima perbedaan utama antara thai tea dan milk tea berarti menghindari kesalahan pesan di kasir. Rasa manis legit dengan sentuhan rempah pada thai tea jelas menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan kelembutan susu pada milk tea. Pemahaman sederhana ini berdampak langsung pada kepuasan pembeli yang merogoh kocek untuk segelas minuman dingin di tengah cuaca terik.

Perbedaan bahan baku juga membawa konsekuensi harga. Racikan rempah asli pada thai tea sering kali menuntut biaya produksi lebih tinggi ketimbang milk tea standar. Konsumen Gen Z yang kritis terhadap nilai uang mereka tentu mempertimbangkan faktor ini sebelum memutuskan minuman mana yang paling layak dibeli hari ini.

Analisis Redaksi

Data dari survei Jakpat memperlihatkan pergeseran pola konsumsi yang patut dicermati oleh industri makanan dan minuman nasional. Dominasi thai tea serta milk tea di kalangan Gen Z menandakan bahwa pasar tidak lagi sekadar mencari pelepas dahaga. Mereka membeli narasi budaya, estetika visual dari warna minuman, hingga sensasi rasa spesifik yang membedakan satu gelas dengan gelas lainnya. Pelaku bisnis yang gagal menangkap lima perbedaan fundamental ini akan tertinggal dalam persaingan pasar minuman yang bergerak cepat.

Satu hal yang perlu diwaspadai dari tren ini adalah tingginya kadar gula yang lazim menyertai kedua jenis minuman tersebut. Tanpa transparansi informasi gizi dari pihak penjual, lonjakan konsumsi di kalangan anak muda berpotensi memunculkan masalah kesehatan jangka panjang. Rempah pada thai tea memang menawarkan sedikit nilai tambah, tetapi sirup kental manis yang digunakan sebagai pemanis tetap menjadi variabel risiko yang jarang disinggung oleh kampanye pemasaran merek-merek besar.

Langkah logis selanjutnya bagi para produsen adalah melakukan reformulasi resep tanpa mengorbankan karakter rasa asli yang disukai Gen Z. Pengurangan gula bertahap atau penyediaan opsi pemanis alternatif bisa menjadi strategi bertahan hidup ketika kesadaran kesehatan konsumen semakin menguat. Survei lanjutan dari lembaga riset independen juga mendesak dilakukan untuk mengukur apakah preferensi ini bersifat musiman atau telah mengakar sebagai kebiasaan konsumsi permanen masyarakat urban Indonesia.

Meow! Tanya Nesi!
😸