Selasa, 3 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Houthi Serang Riyadh dengan Rudal Balistik, Asap Hitam Muncul Dekat Bandara King Khalid

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Houthi Serang Riyadh dengan Rudal Balistik, Asap Hitam Muncul Dekat Bandara King Khalid
BAGIKAN:

Kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah area sensitif di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, pada Sabtu (19/9/2026), yang ditandai dengan munculnya asap hitam pekat di dekat bandara utama setempat. Serangan ini menjadi aksi pertama yang menargetkan langsung pusat kekuasaan Saudi sejak eskalasi konflik dengan kelompok bersenjata dukungan Iran itu meningkat tajam pada Juli lalu.

Pemerintah Arab Saudi mengonfirmasi bahwa Houthi berupaya menyerang Riyadh menggunakan rudal balistik, namun koalisi militer pimpinan kerajaan menyatakan proyektil tersebut berhasil dicegat dan dihancurkan oleh sistem pertahanan udara sebelum mencapai target. Tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur akibat insiden ini, meskipun sejumlah warga mengaku mendengar ledakan keras dan melihat kepulan asap tebal di sekitar kawasan bandara.

Rekaman video dan foto dari Reuters memperlihatkan kolom asap hitam raksasa membumbung tinggi dari area dekat Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, dengan kobaran api terlihat muncul dari lokasi yang diduga merupakan tangki penyimpanan bahan bakar. Houthi tidak merinci target spesifik di ibu kota, tetapi kelompok itu juga mengaku menyerang fasilitas raksasa energi Saudi Aramco di Yanbu, salah satu pusat ekspor minyak utama di pesisir Laut Merah, sebagai balasan atas serangan sebelumnya di Sanaa.

Selain Riyadh, otoritas Saudi mengklaim berhasil menggagalkan serangan lain yang menyasar wilayah Bish, Farasan, Taif, dan Yanbu dalam gelombang operasi yang sama. Pemerintah kerajaan sebelumnya telah mengirimkan peringatan darurat kepada warga Riyadh dan Al-Kharj mengenai potensi ancaman serangan udara, sebelum akhirnya mencabut status siaga dan menyatakan kondisi aman pada Sabtu pagi waktu setempat.

Eskalasi terbaru ini menambah kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global karena Houthi telah melancarkan serangkaian serangan terhadap kota-kota Saudi, infrastruktur energi, dan jalur pelayaran sejak mengumumkan blokade laut pada Juli. Serangan-serangan tersebut meningkatkan risiko terhadap ekspor minyak Teluk melalui Laut Merah, sementara lalu lintas di Selat Hormuz masih terganggu akibat konflik kawasan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Analisis Redaksi

Kemunculan asap hitam di dekat Bandara Internasional King Khalid, terlepas dari klaim intersepsi penuh oleh pertahanan udara Saudi, mengindikasikan bahwa kemampuan ofensif Houthi telah berevolusi hingga mampu menjangkau titik strategis di jantung ibu kota dengan presisi yang lebih tinggi. Fakta bahwa serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah kobaran api terlihat, ditambah dengan pengakuan serangan simultan ke fasilitas Aramco di Yanbu, menunjukkan pola operasi terkoordinasi yang dirancang untuk meregangkan kapasitas pertahanan udara kerajaan di multiple front sekaligus.

Kesiapan Turki membantu kebutuhan militer Arab Saudi berdasarkan pakta pertahanan trilateral bersama Pakistan menandai pergeseran signifikan dalam arsitektur keamanan regional, di mana aliansi baru terbentuk sebagai respons langsung terhadap ancaman yang semakin nyata. Perjanjian yang menyebut serangan terhadap satu anggota sebagai serangan terhadap seluruh anggota ini berpotensi mengubah kalkulasi strategis Houthi dan patron mereka di Teheran, sekaligus menciptakan dinamika keamanan multipolar yang lebih kompleks di Timur Tengah.

Pasar energi dunia kini menghadapi ketidakpastian ganda karena gangguan di Laut Merah dan Selat Hormuz terjadi secara bersamaan, menciptakan risiko suplai yang belum pernah dialami dalam dekade terakhir. Jika serangan terhadap infrastruktur energi Saudi terus berlanjut tanpa mekanisme de-eskalasi yang kredibel, volatilitas harga minyak mentah akan menjadi kenormalan baru yang membebani pemulihan ekonomi global yang sudah rapuh.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ