Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Hong Kong Berikan Penghormatan Terakhir untuk Pemimpin Pertama Tung Chee Hwa

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Hong Kong Berikan Penghormatan Terakhir untuk Pemimpin Pertama Tung Chee Hwa
BAGIKAN:

Ratusan pejabat dan warga Hong Kong memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin pertama sekaligus taipan pelayaran, Tung Chee Hwa, dalam sebuah upacara pada Minggu (20/9). Jenazah pria yang berpulang pada Rabu (9/9) dini hari waktu setempat dalam usia 89 tahun itu diangkut dari Rumah Duka Hong Kong menuju krematorium dengan peti mati berselimutkan bendera nasional China.

Petugas rumah duka memindahkan peti jenazah secara perlahan. Ratusan karangan bunga kiriman para pejabat berjajar rapat di sepanjang jalan di luar ruang penghormatan. Di antara lautan bunga itu, terdapat sebuah pesan khusus dari almamater Tung, University od Liverpool, yang berbunyi "Kami mengenangnya dengan penuh rasa terima kasih dan hormat."

Tung bukan sekadar politikus biasa. Ia adalah taipan pelayaran yang dipilih langsung oleh China untuk memimpin Hong Kong usai Inggris menyerahkan wilayah tersebut ke Beijing pada 1997. Selama delapan tahun menjabat, masa kepemimpinannya penuh gejolak hingga ia akhirnya mengundurkan diri pada 2005. Beberapa kebijakan Tung kala itu menuai protes luas dari masyarakat. Ia memang dikenal kerap memicu perbedaan pendapat di tengah publik yang terbelah.

Cheung Kwok Lik, seorang pensiunan pekerja renovasi, mengingat betul beban yang ditanggung Tung semasa berkuasa. Menurut Cheung, Tung menghadapi krisis keuangan Asia dan wabah SARS secara bersamaan. Itu situasi yang "sama sekali tidak mudah", katanya. Cheung bahkan rela menempuh perjalanan selama satu jam demi menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya sang mantan pemimpin.

Sementara itu, Kiki Ho, seorang warga Hong Kong lainnya, mengaku telah memberikan penghormatan namun masih merasa "sedih dan emosional". "Dia adalah sosok yang santun dan berpengalaman yang sungguh-sungguh ingin berbuat sesuatu bagi Hong Kong... namun kancah politik mungkin terlalu rumit baginya," ujar Ho seperti dilaporkan AFP. Kalimat itu merangkum dilema panjang seorang teknokrat yang masuk ke arena politik tanpa kompas yang cukup tajam.

Di panggung global, peran Tung melampaui batas-batas kota pelabuhan tempatnya memimpin. Selama beberapa dekade, ia menjadi jembatan antara China, Hong Kong, dan AS. Max Baucus, mantan Duta Besar AS untuk China, menganggap Tung sebagai sahabat karib. Di masa akhir hidupnya, kata Baucus, Tung masih meyakini bahwa kedua negara perlu menjamin dan memelihara perdamaian bersama. "Ia meyakini bahwa cara terbaik untuk mencapainya adalah melalui diplomasi antarwarga," tambah Baucus.

Analisis Redaksi

Kepergian Tung Chee Hwa menutup satu bab penting sejarah transisi Hong Kong dari koloni Inggris menjadi wilayah administratif khusus China. Fakta bahwa peti matinya diselimuti bendera nasional China menegaskan posisi simbolisnya sebagai representasi kedaulatan Beijing. Namun, warisan politiknya tetap kompleks. Delapan tahun kepemimpinan yang diwarnai protes luas menunjukkan betapa sulitnya menyeimbangkan kepentingan pusat dengan ekspektasi warga lokal yang terbiasa dengan dinamika berbeda.

Kesaksian warga seperti Cheung Kwok Lik dan Kiki Ho memperlihatkan dua sisi mata uang yang sama. Ada pengakuan atas beratnya krisis keuangan Asia dan wabah SARS yang menghantam pemerintahannya, sekaligus kesadaran bahwa kancah politik Hong Kong terlalu rumit bagi seorang taipan pelayaran. Ini bukan sekadar evaluasi personal terhadap Tung, melainkan cerminan kerentanan sistemik ketika figur bisnis dipaksa menavigasi badai politik jalanan.

Pesan terakhir Tung melalui pandangan Max Baucus tentang diplomasi antarwarga justru terasa paling relevan saat ini. Ketegangan geopolitik antara Washington dan Beijing terus menguji stabilitas kawasan. Meninggalkan pendekatan elitis dan kembali pada interaksi akar rumput, seperti yang diyakini Tung di masa akhir hidupnya, bisa menjadi catatan penutup yang patut direnungkan oleh para pembuat kebijakan di kedua negara adidaya tersebut.

BERITA TERKAIT (Dunia)

Meow! Tanya Nesi!
😸