Kepala BNN Suyudi Ario Seto: Pemahaman Bahaya Narkoba Harus Lahirkan Sikap Tegas Pemuda
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto menegaskan bahwa pemahaman mendalam mengenai bahaya narkotika wajib diterjemahkan menjadi sikap tegas dan tindakan nyata penolakan di kalangan generasi muda, Rabu (18/9/2026).
"Pemahaman itu tidak boleh berhenti pada tahap kognitif semata. Harus lahir sikap, harus lahir tindakan nyata menolak," tegas Suyudi saat menyampaikan arahan di sebuah kegiatan pemuda, Rabu. Ia menambahkan, generasi muda harus bertransformasi dari objek perlindungan menjadi subjek aktif dalam memerangi aliran narkoba yang semakin meresap ke lapisan masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan di tengah maraknya modus transaksi narkotika berbasis daring yang sasaran utamanya adalah kalangan produktif usia 15 hingga 35 tahun. Data internal BNN mencatat peningkatan kasus penyelundupan dan peredaran narkotika tipe baru—seperti fentanyl dan katinon—yang tingkat kecanduan dan kematiannya jauh lebih tinggi dibandingkan narkotika konvensional.
Suyudi mengakui, upaya penegakan hukum semata tak akan cukup memutus rantai permintaan. "Kita butuh ketahanan mental. Kita butuh karakter pemuda yang punya kekebalan untuk bilang 'tidak' saat diosong," ujarnya. Ia meminta pihak sekolah, orang tua, dan komunitas pemuda membentuk ekosistem pengawasan timbal balik agar tidak ada celah bagi sindikat memasuki lingkungan terdekat.
Mantan Irwasum Polda Metro Jaya ini juga menyoroti peran media sosial sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi menjadi sarana edukasi, di sisi lain jadi ladang rekrutmen dan promosi gelap barang terlarang. BNN kini menggandeng Kominfo dan platform digital untuk mempercepat *takedown* akun-akun yang diduga menjual narkotika terselubung.
Analisis Redaksi
Tekanan Suyudi pada "sikap tepat" menandakan geseran paradigma BNN: dari pendekatan represif murni ke pembentukan *resilience* masyarakat. Logikanya sederhana—pasokan tak akan ada tanpa permintaan, dan permintaan tidak akan tumbuh jika generasi penerus memiliki kekebalan psikologis yang kuat. Namun, slogan "ambil sikap" ini akan hampa jika tidak diiringi penguatan sistem rehabilitasi yang ramah pemuda dan akses konseling yang tidak menstigmatiskan korban.
Yang perlu diwaspadai adalah kesenjangan antara retorik di podium dan realita di lapangan. Banyak daerah yang minim fasilitas *recovery*, sementara *peer pressure* dan kemudahan akses *dark web* justru makin masif. Langkah logis selanjutnya bukan lagi ceramah berulang, tapi integrasi kurikulum anti-narkoba yang berbasis *life skill* di sekolah, serta pembukaan *clinic* rehabilitasi mandiri di tingkat kecamatan agar penanganan tidak terpusat dan terlambat.
BERITA TERKAIT (Hukum)

6 Warga Tewas Ditabrak Truk Molen Rem Blong di Bekasi, Polisi Selidiki Dampak Laka

Bareskrim Bongkar Cengkeraman Sindikat Solar Ilegal di Bandung, Amankan Ribuan Liter dan Truk Modifikasi

Bareskrim Sita 103 Aset PT DSI di Sukoharjo, Total Penelusuran Klaim Melebihi Rp500 Miliar
