Forum China-ASEAN-Indonesia 2026 di Tianjin Bahas Kemitraan Industri Kapasitas
Fokus pada liputan mendalam dan isu-isu sosial yang berdampak pada masyarakat luas.
Pebisnis China dan Indonesia menggelar dialog bisnis tingkat tinggi di Kota Tianjin, Rabu (17/9/2026), untuk mengeksplorasi prospek kerjasama investasi kapasitas industri yang lebih dalam. Kegiatan Forum China-ASEAN-Indonesia 2026 tentang Kerja Sama dan Investasi Kapasitas Industri itu dihadiri puluhan pengusaha dari kedua negara yang mencari titik temu di sektor manufaktur, energi baru, dan rantai pasok.
Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid membuka forum tersebut dengan menekankan pentingnya pergeseran paradigma dari sekadar perdagangan barang jadi ke kolaborasi industri hulu. "Kita tidak hanya mau jadi pasar, tapi ingin jadi mitra produksi," ucapnya di hadapan para pebisnis China yang tergabung di China Council for the Promotion of International Trade (CCPIT).
Di sisi China, Wakil Ketua CCPIT Zhang Yujiu menilai Indonesia sebagai mitra strategis yang memiliki pasar besar dan sumber daya alam melimpah. Ia mengakui hambatan birokrasi dan ketidakpastian regulasi masih jadi keluhan utama investor China, namun menilai kebijakan downstreaming yang ditekuni Jakarta justru menciptakan peluang investasi jangka panjang di sektor pengolahan mineral dan baterai.
Forum ini juga menjadi momentum peluncuran sejumlah memorandum of understanding (MoU) antar perusahaan, mencakup proyek pabrik kertas berkapasitas 1 juta ton per tahun, pengembangan kawasan industri hijau di Kalimantan, hingga kerjasama riset teknologi material maju. Total nilai komitmen investasi yang tercatat di forum ini mencapai US$ 3,2 miliar, menurut catatan tim Kadin yang turut hadir.
Latar belakang forum ini adalah percepatan diversifikasi rantai pasok global pasca-pandemi dan geopolitik yang memaksa negara-negara ASEAN mencari mitra industri yang lebih andal. Indonesia, sebagai ekonomi terbesar Asia Tenggara, diposisikan sebagai gerbang masuk investor China ke pasar regional melalui kerangka RCEP dan ACFTA yang sudah efektif berlaku.
Analisis Redaksi
Kunjungan delegasi Kadin ke Tianjin menandakan maturitas diplomasi ekonomi Indonesia yang tidak lagi bersifat seremonial semata. Fokus pada "kapasitas industri" โ bukan sekadar modal โ mengisyaratkan Jakarta mulai menuntut transfer teknologi dan pengelolaan Knowles-how sebagai syarat masuk investor. Ini langkah tepat mengingat sejarah investasi China di RI selama ini banyak terkonsentrasi di ekstraktif dan infrastruktur dengan nilai tambah lokal minim.
Yang perlu diwaspadai: realisasi MoU ke lapangan. Pengalaman tahun-tahun lalu, banyak MoU yang ditandatangani di forum serupa tersangkut di tingkat izin lokasi, lahan, hingga standar lingkungan. Kadin dan Kementerian Investasi harus memastikan tim pengawasan proyek (project monitoring unit) berfungsi efektif, bukan hanya daftar nama di kertas. Langkah logis selanjutnya adalah pemantauan kuartalan realisasi proyek-proyek MoU Tianjin ini, dengan sanksi jelas bagi yang melambat tanpa alasan teknis yang wajar.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Asap TPA Degayu Pekalongan Belum Padam, BNPB Sebut 1,5 Hektare Lahan Hangus

Kemensos Komitmen Bangun Dua Sekolah Rakyat di Nabire untuk Putus Rantai Kemiskinan Antargenerasi
UNESCO Ungkap Krisis Impunitas Global: 86% Pembunuhan Jurnalis Tak Tuntas
