Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Eks PM Jepang Yoshihiko Noda Bagi Flyer di Stasiun Usai Partai Oposisi Bubar Delapan Bulan

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Eks PM Jepang Yoshihiko Noda Bagi Flyer di Stasiun Usai Partai Oposisi Bubar Delapan Bulan
BAGIKAN:

Mantan Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda tertangkap kamera membagikan selebaran politik kepada para komuter di Stasiun Minami-Funabashi pada Jumat (18/9) sekitar pukul 07.30 waktu setempat, sebuah langkah yang langsung viral di media sosial dan menandai babak baru kekacauan oposisi Jepang setelah partai sentris mereka membubarkan diri hanya dalam delapan bulan.

Video aksi tersebut pertama kali diunggah oleh warganet @amoamo_yukiyuki. Sementara itu, akun @MarioNawfal mengungkap isi selebaran yang dibagikan Noda. Dokumen itu memuat isu-isu lokal seperti asuransi bencana, tunjangan anak, dan reformasi prefektur. Tercetak jelas di sana slogan "jangan tinggalkan siapa pun" yang merujuk pada kelompok-kelompok sentris semacam Aliansi Reformasi Sentris.

Langkah Noda turun ke jalan bukan tanpa sebab. Ketua Partai Sentris Junya Ogawa telah mengumumkan pembubaran partainya melalui konferensi pers. Keputusan ini diambil menyusul kegagalan total upaya mereka menentang pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang saat ini sangat populer. "Setelah kami menyelesaikan pembayaran yang tertunda, kami akan membubarkan partai ini," kata Ogawa secara tegas.

Partai oposisi utama ini sejatinya lahir dari ketergesaan. Dibentuk pada Januari lalu, aliansi ini mencoba menggabungkan dua kekuatan besar: Komeito dan Partai Demokratik Konstitusional Jepang. Tujuannya satu, membangun gerakan perlawanan yang solid melawan Partai Demokrat Liberal (LDP) pimpinan Takaichi. Namun ambisi itu kandas di kotak suara.

Dalam pemilu umum Februari lalu, partai baru tersebut hanya meraih 49 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat yang memiliki total 465 kursi. Sebaliknya, LDP justru menambah lebih dari 100 kursi hingga mengantongi total 316 kursi. Kekalahan telak ini sekaligus melengkapi gejolak politik Jepang yang sebelumnya ditandai pecahnya koalisi 26 tahun antara LDP dan Partai Komeito pada Oktober tahun lalu akibat skandal regulasi dana politik.

Kendati partai resmi runtuh, para anggotanya diperkirakan tetap membentuk fraksi di parlemen. Sebagian politikus diprediksi kembali ke partai lama mereka atau merintis aliansi baru untuk bertahan di gelanggang politik Jepang.

Analisis Redaksi

Turunnya seorang mantan perdana menteri ke jalanan stasiun untuk membagi flyer adalah pemandangan langka yang berbicara banyak tentang keputusasaan oposisi Jepang. Angka 49 kursi berbanding 316 kursi milik LDP pada pemilu Februari lalu bukan sekadar kekalahan elektoral. Itu adalah vonis mati bagi strategi penggabungan terburu-buru antara Komeito dan Partai Demokratik Konstitusional Jepang yang terbukti tidak punya fondasi ideologis maupun organisasional yang cukup kuat untuk menahan popularitas Sanae Takaichi.

Slogan "jangan tinggalkan siapa pun" yang dicetak Noda pada selebarannya terasa ironis ketika partai yang membawanya justru meninggalkan panggung politik dalam hitungan bulan. Pernyataan Junya Ogawa tentang penyelesaian pembayaran tertunda sebelum pembubaran menunjukkan betapa rapuhnya infrastruktur keuangan partai tersebut. Runtuhnya koalisi 26 tahun LDP-Komeito pada Oktober tahun lalu akibat skandal regulasi dana politik seharusnya menjadi alarm dini, namun alih-alih belajar dari krisis itu, kubu oposisi malah terjebak dalam euforia pembentukan partai baru tanpa kalkulasi matang.

Pembentukan fraksi parlemen oleh sisa-sisa anggota partai yang bubar ini akan menjadi ujian berikutnya. Tanpa kendaraan politik resmi, kemampuan mereka menekan kebijakan pemerintah Takaichi nyaris nihil. Publik Jepang kini menghadapi risiko minimnya mekanisme check and balances di Dewan Perwakilan Rakyat, mengingat dominasi 316 kursi LDP memungkinkan mereka meloloskan undang-undang tanpa hambatan berarti. Langkah selanjutnya yang paling logis adalah kembalinya politikus oposisi ke basis lama masing-masing untuk menyusun ulang strategi jangka panjang, ketimbang memaksakan aliansi baru yang berpotensi mengulang kegagalan delapan bulan terakhir.

Meow! Tanya Nesi!
😸