Harga Minyak Dunia Anjlok 1% dari Puncak US$100, Pasokan Arab Saudi Masih Terancam
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

- Mengutip data Reuters, kontrak acuan Brent turun US$1,01 menjadi US$103,77 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) AS anjlok US$1,03 ke US$100,88 per barel.
- Kedua benchmark itu sama-sama ditutup melemah sekitar 1 persen pada sesi Kamis (17/9) lalu.
- Ketegangan geopolitik itu justru mendorong harga ke level tertinggi empat bulan di awal pekan.
Harga minyak dunia melorot sekitar 1 persen pada perdagangan Jumat (18/9), meski tetap bertahan di atas ambang psikologis US$100 per barel saat pasar menilang peluang jalur pasokan alternatif untuk mengimbangi gangguan di Timur Tengah.
Mengutip data Reuters, kontrak acuan Brent turun US$1,01 menjadi US$103,77 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) AS anjlok US$1,03 ke US$100,88 per barel. Kedua benchmark itu sama-sama ditutup melemah sekitar 1 persen pada sesi Kamis (17/9) lalu.
Pelaku pasar cenderung mengabaikan eskalasi terbaru: Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman kembali saling melancarkan serangan lintas perbatasan pada Kamis, memperluas front konflik di kawasan itu. Ketegangan geopolitik itu justru mendorong harga ke level tertinggi empat bulan di awal pekan.
Pemicu lonjakan awal pekan adalah pemblokiran sementara pengiriman minyak mentah dari terminal ekspor Yanbu di Laut Merah. Riyadh pun membatalkan sejumlah pengiriman ke Eropa setelah pipa East-West โ jalur strategis mengangkut minyak dari ladang timur Arab Saudi ke pelabuhan Yanbu โ rusak akibat serangan pekan lalu.
Hingga Jumat, belum ada kepastian waktu perbaikan. Citra satelit dan tiga sumber industri mengonfirmasi tiga stasiun pompa pada jaringan pipa tersebut rusak, jumlah yang melebihi perkiraan awal. Jika gangguan berkepanjangan, pedagang memperkirakan hingga 4 persen pasokan global berpotensi tersendat.
Analisis Redaksi
Koreksi harga 1 persen terasa ringan dibandingkan getaran supply-side yang sebenarnya masih mengintai. Pasar tampak berjudi pada skenario "terbaik" โ bahwa Arab Saudi mampu mengalihkan aliran via jaringan pipa lain atau terminal alternatif โ namun bukti teknis di lapangan justru menunjuk ke arah sebaliknya: kerusakan lebih parah, tanpa timeline perbaikan pasti.
Angka 4 persen pasokan global bukanlah angka kecil. Bagi negara impor neto seperti Indonesia, ketidakpastian ini berujung pada tekanan impor bahan bakar dan risiko inflasi impor yang sulit dikendalikan kebijakan moneter domestik. Perlu diwaspadai: jika perbaikan pipa East-West melebihi dua minggu, koreksi Jumat ini bisa cepat terbalik, mendorong Brent menembus US$110.
Langkah logis selanjutnya adalah memantau sinyal dari Riyadh soal cadangan operasional (operational spare capacity) dan apakah OPEC+ akan mengeluarkan sinyal intervensi produksi dalam rapat bulanan mendatang. Tanpa jaminan pasokan fisik, sentimen pasar tetap rapuh โ dan harga US$100 per barel baru lantai, bukan atap.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

IHSG Ambruk 47,33 Poin di Pembukaan Rabu, Investor Waspada Aksi Jual LQ45

IHSG Anjlok 1,57% ke Level 4.827, Tekanan Jangka Panjang Capai 34 Persen dalam Enam Bulan

IHSG Anjlok 3,78% di 2026, Investor Asing Selektif Borong 10 Saham Ini
