Saudi F-15 Serbu Yaman 40 Kali Sehari, Houthi Balas ke Yanbu dan Khamis Mushait
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Jet tempur F-15 Arab Saudi melancarkan 40 serangan udara ke provinsi Taiz, Marib, dan Hodeidah dalam 24 jam terakhir, menurut klaim juru bicara militer Houthi Yahya Saree yang dikutip AFP, Kamis (17/9/2026), menandakan eskalasi tajam yang mengancam aliran energi global.
Serangan itu lepas landas dari Pangkalan Udara Khamis Mushait, wilayah selatan Kerajaan, tepat usai laporan menyebut kelompok pro Iran itu berupaya menyerang Mekkah serta merebut kota-kota pesisir Laut Merah dan pulau-pulau strategis di Selat Bab el-Mandeb. Saree menambah, Arab Saudi telah mencatat 450 sorotan udara sepanjang pekan ini, meski ia tidak mempertunjukkan bukti visual langsung.
Pejabat pemerintah Yaman selatan yang didukung Riyadh mengakui adanya operasi udara bersama, namun istana Saudi hingga kini memilih diam. Ketenangan Riyadh itu kontras dengan deretan status siaga yang baru diterbitkan Selasa lalu, mencantumkan Yanbu—pelabuhan minyak utama—dan Khamis Mushait sendiri sebagai target potensial.
Houthi mengklaim sudah membalas dengan drone dan rudal baru ke kedua lokasi itu, tanpa menyebutkan waktu pasti. Langkah balas dendam itu datang di tengah peringatan ketat AS yang melarang pejabat pemerintah bepergian dalam radius 20 mil dari perbatasan Yaman, sinyal Washington menganggap ancaman serius sudah menembus batas toleransi.
Perang proxy enam bulan antara AS-Israel lawan Iran telah menyumbat aliran tanker di Selat Hormuz, dan sekarang Selat Bab el-Mandeb ikut goyah. Harga minyak mentah Brent menguat ke kisaran US$108 per barel Rabu lalu, menyentuh level tertinggi sejak Mei, membuka kemungkinan tekanan inflasi baru bagi impor energi negara-negara berkembang.
Analisis Redaksi
Klaim 40 sorotan sehari—jika terverifikasi—menggeser intensitas perang Yaman dari perang abit ke bombardemen strategis skala penuh. Pola serangan yang menumpang pada pangkalan Khamis Mushait menunjukkan Saudi ingin melumpuhkan kapabilitas udara Houthi di sumbernya, namun keheningan Riyadh soal kerugian sendiri menciptakan ruang ambiguitas yang justru diperlukan Houthi untuk narasi perlawanan.
Pasar minyak sudah membaca sinyal: gangguan ganda di Hormuz dan Bab el-Mandeb berarti jalur evakuasi cadangan darurat AS dan Eropa terpotong sekaligus. Jika Brent menembus US$110 dan bertahan, tekanan pada cadangan devisa dan anggaran subsidi BBM di Indonesia akan kembali jadi perdebatan panas di parpol dan DPR sebelum musim politik 2029.
Langkah logis selanjutnya adalah apakah AS akan mengaktifkan Koperasi Maritim Gabungan (CMF) untuk konvoi tanker di Bab el-Mandeb, atau justru mendorong Oman memediasi kesepakatan henti api sementara. Keduanya butuh waktu, sedangkan harga minyak tidak menunggu diplomasi.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BPS: Impor RI Melonjak 18,41 Persen ke US$24,24 M, Didorong Kebutuhan Bahan Baku Industri

Bahlil Lahadali Kaji Moratorium Smelter Setengah Jadi untuk Dorong Hilirisasi Tuntas

Bank Mandiri Raih Sertifikasi ISO 27701, Perkuat Komitmen Pelindungan Data Pribadi Nasabah
