⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Santri Hafiz 30 Juz di Makassar Temukan Celah Kritis NASA dan Universitas Melbourne

TeknologiReza AdityaReza AdityaSumber: CNN Nasional
Reza Aditya
Reza Aditya
Pakar Teknologi

Reviewer gadget independen dengan perspektif teknis yang mendalam.

Santri Hafiz 30 Juz di Makassar Temukan Celah Kritis NASA dan Universitas Melbourne
BAGIKAN:

Seorang santri penghafal 30 juz Alquran dari Pondok Pesantren Al Imam Ashim, Makassar, berhasil mengidentifikasi celah keamanan tingkat kritis pada sistem National Aeronautics and Space Administration (NASA) dan University of Melbourne, Australia, usai mempelajari keamanan siber secara otodidak selama empat hingga lima bulan.

Muhammad Al Hindawi, siswa kelas 12, tercatat menemukan dua celah jenis SQL Injection pada sistem NASA dan satu kerentanan serupa pada sistem University of Melbourne. Temuan-temuan itu dilaporkan melalui program resmi Vulnerability Disclosure Program (VDP) di platform Bugcrowd dan telah divalidasi oleh tim keamanan siber kedua institusi tersebut.

Atas kontribusinya, Hindawi menerima surat penghargaan Letter of Recognition (LOR) dari NASA serta konfirmasi validasi dari tim Cyber Operations University of Melbourne. "Saya baru sekitar empat hingga lima bulan mempelajari cybersecurity secara otodidak," ujarnya, Rabu (16/9).

Menguraikan metode peretasan etis yang ia gunakan, Hindawi menjelaskan tahapan identifikasi yang dimulai dari pemetaan (recon) menggunakan Subfinder untuk mengumpulkan subdomain, lalu mengecek status response code dengan httpx. "Dari sana, baru saya cari sistem yang rentan terkena SQL injection," tambahnya.

Rekam jejak kemampuannya bermula dari lingkup terdekat. Sebelum menembus sistem institusi global, Hindawi lebih dulu menemukan celah kerentanan pada sistem pondok pesantren tempatnya menimba ilmu. Kemampuan ini dikembangkan mandiri melalui video tutorial serta membaca laporan riset peneliti keamanan siber yang dipublikasikan di Bugcrowd.

Analisis Redaksi

Prestasi Hindawi bukan sekadar kebanggaan lokal, melainkan bukti nyata bahwa bakat di bidang keamanan siber bisa tumbuh dari mana saja, terlepas dari latar belakang pendidikan formal. Faktanya, seorang santri yang baru belajar empat bulan mampu menemukan kerentanan yang terlewat tim keamanan NASA dan universitas ternama — institusi yang anggaran keamanan sibernya mencapai jutaan dolar per tahun. Hal ini mengisyaratkan adanya celah tidak pada teknologi, melainkan pada metodologi pengujian yang terlalu bergantung pada pendekatan standar.

Yang perlu diwaspadai: validasi dari NASA dan University of Melbourne melalui Bugcrowd menandakan sistem responsible disclosure berfungsi, namun juga mengekspos kenyataan bahwa banyak organisasi besar masih rentan terhadap kerentanan klasik seperti SQL Injection. Langkah logis selanjutnya adalah mendorong ekosistem bug bounty di Indonesia agar lebih terstruktur, serta memastikan bakat seperti Hindawi mendapatkan jalur karir yang tepat — bukan hanya surat penghargaan, tapi akses ke pelatihan lanjutan dan sertifikasi internasional yang dia butuhkan untuk berkembang.

BERITA TERKAIT (Teknologi)

Meow! Tanya Nesi!
😸