Polisi Selidiki Kasus Pria Tendang Wanita di Senayan City, Korban Masih Trauma

Kriminal
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Polisi Selidiki Kasus Pria Tendang Wanita di Senayan City, Korban Masih Trauma
BAGIKAN:

Polisi Seksi Tanah Abang tengah menggali kasus kekerasan fisik yang tertangkap kamera dan beredar viral di media sosial, memperlihatkan seorang pria menendang wanita dari belakang saat mangsa mengantre di area 푸드코트 Mal Senayan City, Jakarta Pusat.

Dalam rekaman yang berdurasi singkat itu, terlihat wanita berbaju putih berdiri tenang di depan gerai makanan. Di punggungnya, seorang pria berkaus hitam duduk santai sambil menyantap hidangannya, sebelum tiba-tiba mengayunkan kaki ke arah punggung korban hingga tubuh wanita itu terhentak ke depan dan jatuh ke lantai marmer.

Kejadian yang diduga terjadi beberapa hari lalu itu menyita perhatian puluhan pengunjung lain yang berada di lokasi. Beberapa warga terlihat mendekati korban, sementara pelaku justru tetap duduk diam di tempatnya seolah tidak ada apa-apa.

Kapolsek Tanah Abang AKBP Dhimas Prasetyo mengonfirmasi penyelidikan sudah dimulai sejak video tersebut menghebohkan warganet. "Tindakan yang dilakukan melakukan pengecekan TKP, cek CCTV," ujar Dhimas kepada wartawan, Kamis (17/9). Ia menambahkan, petugas juga sudah mengumpulkan keterangan awal dari saksi mata yang sempat berada di tempat saat insiden berlangsung.

Pihak kepolisian telah menghubungi teman korban untuk mendorong pelaporan formal. "Teman korban sudah dihubungi dan dihimbau oleh anggota kepolisian Polsek Metro Tanah Abang untuk segera membuat laporan polisi atas kejadian tersebut. Namun korban belum bisa membuat laporan polisi karena masih syok/trauma," tutur Dhimas. Hingga berita diturunkan, identitas pelaku dan motif di balik tendangan sadis itu belum terungkap.

Analisis Redaksi

Kasus ini memperlihatkan celah keamanan di ruang publik yang seharusnya terawat: pelaku berani bertindak sadis di hadapan keramaian dan CCTV, percaya diri tidak akan teridentifikasi atau dikejar. Fakta bahwa korban hingga kini tidak berani melapor meski didorong polisi menegaskan betapa dalamnya dampak psikologis kekerasan tiba-tiba, apalagi saat dilakukan oleh orang asli di tempat yang dianggap aman.

Langkah polisi mengecek CCTV dan TKP adalah standar prosedur, tapi kecepatan identifikasi pelaku jadi uji nyata. Jika pelaku berhasil melarikan diri sebelum tertangkap, kepercayaan publik pada respons cepat aparat akan teruji. Sementara itu, keengganan korban melapor membuka pertanyaan klasik: apakah sistem perlindungan saksi dan korban di tingkat penyidikan sudah cukup meyakinkan agar korban trauma berani keluar dari bayang-bayang ketakutan?

Meow! Tanya Nesi!
😸