Kebun Raya Hadirkan Mini Ecoregion Empat Ekosistem Indonesia di FLOII Expo 2026
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.
Kebun Raya memperkenalkan karakter empat ekosistem Indonesia melalui Mini Ecoregion yang dibuka untuk publik dalam ajang Floriculture Indonesia (FLOII) Expo 2026.
Empat tatanan hayati khas nusantara itu disajikan dalam satu ruang pameran yang dirancang menyerupai habitat aslinya. Hutan hujan tropis, padang rumput, rawa-rawa, dan ekosistem karst berbagi ruang dalam instalasi miniatur yang memungkinkan pengunjung mengamati interaksi flora-fauna secara sekaligus.
Direktur Kebun Raya mengungkapkan bahwa konsep Mini Ecoregion lahir dari kekhawatiran akan fragmentasi habitat yang semakin parah. "Kami ingin masyarakat merasakan kedekatan dengan empat ekosistem utama tanpa harus pergi ke empat lokasi terpisah," ujarnya saat pembukaan pameran di Jakarta, Rabu (17/9/2026).
Dalam instalasi hutan hujan, pohon-pohon meranti dan keruing menutupi tanaman bawah seperti pakis dan anggrek liar. Bagian padang rumput menampilkan alang-alang dan sendok-sendok yang jadi sarana makan rusa timor. Rawa-rawa dihijaukan bakung dan purun, sementara zona karst ditanami sukulen dan tanaman kering lainnya yang tumbuh di celah batu kapur.
Pengelola memasang papan edukasi di setiap sudut ecoregion berisi data keanekaragaman hayati, status konservasi, dan ancaman nyata seperti konversi lahan dan perubahan iklim. Para pembimbing lapangan -- kebanyakan mahasiswa biologi dan kehutanan -- siap menjawab pertanyaan pengunjung soal peran ekologis setiap jenis tumbuhan.
Komite FLOII Expo 2026 mencatat partisipasi 120 pemasok tanaman hias dan 45 lembaga konservasi dari seluruh Indonesia. Pameran berlangsung hingga 22 September 2026 di Jakarta International Expo Kemayoran dengan target kunjungan 50 ribu orang.
Analisis Redaksi
Pendekatan Mini Ecoregion adalah langkah cerdas mengemas ilmu konservasi jadi pengalaman visual yang mudah dicerna publik awam. Kebun Raya berhasil mengubah narasi teknis soal fragmentasi habitat jadi sesuatu yang bisa dilihat, disentuh, bahkan dicium -- strategi yang jauh lebih efektif dari sekadar brosur atau seminar.
Yang perlu diwaspadai: keberlanjutan narasi ini setelah pameran berakhir. Tanpa program lanjutan -- misalnya kurikulum sekolah yang mengadopsi konsep Mini Ecoregson, atau kerjasama dengan taman-taman kota untuk replikasi mini -- momentum edukatif ini berisik mati di tempat. Langkah logis selanjutnya adalah memindahkan instalasi ini ke ruang permanen di Kebun Raya atau mendorong pemerintah daerah mengadopsi model serupa di ruang terbuka hijau masing-masing.