Kementerian PU Siapkan Peninggian Jembatan Kuning di Aceh Tenggara

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: Antara News
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kementerian PU Siapkan Peninggian Jembatan Kuning di Aceh Tenggara
BAGIKAN:

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan rencana peninggian konstruksi Jembatan Kuning yang melintasi sungai Alas di Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh. Langkah ini diambil mengantisipasi banjir bandang yang kerap menggenangi badan jembatan selama musim hujan, mengancam konektivitas lintas provinsi ke wilayah Gayo Lues dan Aceh Tengah.

Direktur Jenderal Bina Marga, Budi Setiawan, mengonfirmasi persiapan teknis sudah masuk tahap pengkajian desain struktur baru. "Kita menargetkan elevasi badan jembatan minimal 1,5 meter dari titik tertinggi banjir historis 2024 lalu," ujarnya saat dikonfirmasi di kantornya, Jakarta, Jumat (18/9). Anggaran proyek diperkirakan merambah Rp 85 miliar, dibebankan pada APBN tahun anggaran 2026.

Jembatan Kuning berfungsi sebagai satu-satunya akses darat utama menghubungkan Kutacane dengan Blangkejeren dan Takengon. Panjang 120 meter dengan lebar 9 meter, struktur beton prategang ini dibangun 1992 dan terakhir direhabilitasi 2018. Data Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Wilayah I Sumatera mencatat intensitas lalu lintas rata-rata 4.200 kendaraan per hari, didominasi truk pengangkut kopi, kelapa sawit, dan areca.

Bupati Aceh Tenggara, Raidin Pinim, menyambut baik rencana ini. Ia mengungkapkan pemkab sudah menyodorkan laporan kerusakan struktur dan genangan banjir berulang sejak 2020. "Setiap musim hujan, jembatan ini tenggelam 2-3 kali. Warga terisolasi, logistik macet, ambulans tidak bisa lewat," tuturnya via telepon, Sabtu (19/9). Pemkab siap mengurus lahan tambahan untuk penyelesaian akses jalan pendekatan.

Warga Desa Babussalam, tepi sungai Alas, mengakui ketidakpastian musiman. "Kami sudah hafal jadwal: hujan deras dua jam, air naik, jembatan tutup," ujar Suhendra (45), pengemudi truk yang sudah 15 tahun melintas rute ini. Ia mengharap konstruksi cepat dimulai sebelum hujan deras musim penghujan 2026 tiba, biasanya puncaknya bulan November.

Analisis Redaksi

Peninggian Jembatan Kuning bukan sekadar proyek infrastruktur rutin, tapi respons darurat terhadap kerentanan iklim yang semakin nyata di kawasan pegunungan Gayo. Sejarah banjir 2024 yang merekam tingginya air 3,2 meter di atas permukaan jembatan jadi bukti keras: desain lama sudah tidak relevan. Anggaran Rp 85 miliar untuk satu titik kritis ini wajar, mengingat nilai ekonomi rute ini — puluhan miliar rupiah komoditas per hari — yang terhenti total saat jembatan tenggelam.

Yang perlu diwaspadai adalah kesiapan teknis di lapangan. Pengkajian desain baru harus mempertimbangkan tidak hanya elevasi, tapi juga kapasitas aliran sungai Alas yang terus menurun akibat sedimentasi hulu. Jika fondasi lama tidak diperkuat atau aliran dibuka lebar, peninggian saja bisa jadi solusi setengah hati. Langkah logis selanjutnya: lelang cepat, pengawasan ketat dari BPJN, dan jaminan lahan akses jalan pendekatan yang sering jadi bottleneck proyek jalan nasional di Aceh.

Meow! Tanya Nesi!
😸