Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Houthi Perkuas Arsenal, Saudi Gali Sekutu Baru di Tengah Eskalasi Teluk

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Houthi Perkuas Arsenal, Saudi Gali Sekutu Baru di Tengah Eskalasi Teluk
BAGIKAN:

Koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi pada Rabu (16/9) mengklaim berhasil menangkis peluncuran drone Houthi menuju dekat kota suci Mekkah semalam, meski puing-puingnya jatuh di wilayah selatan kota tersebut. Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) segera mengeluarkan kecaman keras atas percobaan yang dinilai melanggar kesucian Mekkah, namun kelompok milisi yang menguasai ibukota Sanaa dan wilayah barat serta utara Yaman itu membantah dengan tegas adanya niat menyerang tempat paling suci umat Islam.

Puncak ketegangan terbaru ini bermula dari insiden 13 Juli lalu, saat bandara Sanaa diserang oleh apa yang dituding Houthi sebagai operasi militer Yaman di bawah arahan Riyadh. Sebagai balasan, kelompok yang bersekutu dengan Iran itu memblokade jalur perairan ekspor minyak Saudi, menyerang fasilitas serta situs minyak, hingga memaksa penutupan jalur pipa minyak utama menuju Riyadh. Eskalasi timbal balik itu menarik perhatian dunia karena melibatkan dua aktor berat di Teluk: Saudi sebagai eksportir minyak terbesar dan Houthi sebagai proksi Iran yang kemampuannya melonjak drastis.

Sejak muncul pada 1990-an dan dikenal luas usai pemberontakan 2014 yang memicu perang saudara dan krisis kemanusiaan parah, Houthi justru makin menguat di medan perang. Michael Knights, kepala peneliti Horizon Engage, menilai mereka sebagai "sekutu regional Iran yang paling berkomitmen, paling murni secara ideologis, dan paling agresif". Menurutnya, pengembangan Houthi hanya memakan waktu lima tahun, jauh lebih cepat dibanding Hizbullah Lebanon yang butuh dua dekade, sebagaimana dikutip Associated Press.

Arsenal Houthi kini mencakup rudal balistik, rudal jelajah, dan drone โ€” banyak di antaranya mirip desain produksi Iran โ€” dengan jangkauan mampu menyentuh seluruh negara Teluk hingga Israel. Kemampuan maritim mereka juga berkembang pesat: rudal anti-kapal canggih dan drone angkatan laut telah dipakai menyerang kapal-kapal terkait Israel di Laut Merah. Data para ahli PBB pada 2024 mencatat rekrutmen pejuang Houthi melonjak menjadi 350.000 orang, lompatan masif dari 30.000 pada 2015.

Ketidakstabilan ini menempatkan Arab Saudi di posisi sulit. Laporan tentang menipisnya stok senjata Amerika Serikat โ€” pemasok utama pesawat canggih dan sistem pertahanan rudal mutakhir bagi Riyadh โ€” semakin memperparah kecemasan. Di bawah tekanan tersebut, Saudi bergerak cepat memperluas jaringan keamanan: pada 7 Agustus lalu, Riyadh, Islamabad, dan Ankara menandatangani "Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah" yang mirip mekanisme NATO, menetapkan serangan terhadap satu anggota sebagai ancaman bagi semua.

Analisis Redaksi

Penandatanganan pakta pertahanan trilateral itu bukan sekadar gestur diplomatik, tapi pengakuan nyata bahwa payung keamanan AS di Teluk mulai retak. Saudi tidak lagi mau menunggu keputusan Washington yang sering terlambat atau dibatasi politik domestik; mereka membangun alternatif sendiri dengan Turkey dan Pakistan โ€” dua negara Muslim non-Arab dengan militer besar dan nuklir (Pakistan). Langkah ini menggeser arsitektur keamanan regional dari model sentris AS ke model multipolar yang lebih fluida, di mana blok pro-Iran (Houthi, Hizbullah, milisi Irak) dihadapi blok Sunni yang kini punya koordinasi militernya sendiri.

Yang perlu diwaspadai: semakin lengkapnya arsenal Houthi โ€” dari drone murah hingga rudal hipersonik dan anti-kapal โ€” menurunkan ambang batas perang. Saudi yang dulu mengandalkan superioritas udara kini rentan di domain darat dan laut. Jika eskalasi berlanjut, pertempuran tidak lagi terbatas di Yaman tapi bisa meluas ke selat strategis Bab el-Mandeb dan Hormuz, mengancam aliran minyak global. Langkah logis selanjutnya: Saudi akan mendesak Pakistan dan Turkey untuk berbagi intelijen real-time, latihan gabungan pertahanan udara, dan mungkin penempatan sistem radar atau bateri rudal di wilayah mereka. Di sisi lain, Iran akan terus menyalurkan teknologi ke Houthi sebagai investasi rendah risiko tapi dampak tinggi untuk menyengat lawan regional tanpa konfrontasi langsung.

BERITA TERKAIT (Dunia)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ