China Desak AS Hentikan Militerisasi Luar Angkasa Usai Pengakuan Senjata Orbit

China mendesak Amerika Serikat menghentikan perluasan pembangunan militer di luar angkasa usai Washington mengakui pertama kali memiliki senjata kendali ruang angkasa di orbit. Peringatan keras itu disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers rutin di Beijing, Selasa (15/9), sehari persis setelah Menteri Angkatan Udara AS Troy Meink mengungkap keberadaan arsenal tersebut.
"Kami mendesak AS untuk menghentikan perluasan pembangunan militer di luar angkasa, dan menjunjung tinggi stabilitas strategis global dengan tindakan nyata," tegas Guo, seperti dilaporkan Reuters. Ia menegaskan Beijing menentang upaya mempersenjatai luar angkasa dan mengubah wilayah tersebut menjadi zona perang. Sikap itu konsisten dengan posisi lama China yang mendorong perlombaan senjata antariksa dihentikan sebelum tak terkendali.
Pemicu amarah Beijing datang dari pengakuan Meink pada Senin (14/9) bahwa AS memiliki "senjata kendali ruang angkasa di orbit yang mampu mempertahankan Pasukan Gabungan dari tindakan musuh yang bermusuhan". Pejabat Pentagon itu sengaja tidak merinci jenis, jumlah, maupun spesifik teknis senjata tersebut. Keterbukaan terbatas itu justru memicu spekulasi dan kecemasan komunitas internasional soal transparansi militer Washington di domain baru.
Media pemerintah China, Global Times, dalam laporannya Selasa (15/9) menilai langkah Washington sebagai upaya mencapai "hegemoni ruang angkasa". Analis militer Song Zhongping menilai pengakuan Meink menandai pergeseran doktrin: AS yang dulu fokus melindungi aset dan mengandalkan sistem anti-luar angkasa berbasis darat, kini beralih ke penempatan senjata ofensif di orbit. "Jika AS terus menempuh jalan ini, negara-negara lain mungkin terpaksa merespons," peringatan Song kepada Global Times.
Peringatan serupa sudah terdahulu disuarakan Xinhua pekan lalu. Kantor berita resmi itu menganalisis latihan militer orbital AS dan menilai upaya mempersenjatai luar angkasa berisiko menciptakan "dilema keamanan". Logikanya sederhana: langkah AS mendorong negara lain memperkuat kemampuan antariksa untuk menyeimbangkan, yang kemudian justru ditanggap Washington sebagai ancaman baru โ siklus yang sulit dihentikan tanpa kepercayaan timbal balik.
Analisis Redaksi
Pengakuan Meink bukan sekadar kebocoran informasi, melainkan sinyal strategis: AS ingin normalisasi kehadiran senjata di orbit sebagai bagian dari postur Abschreckan. Bagi China dan negara lain, ini mengubah ruang angkasa dari domain bersama menjadi medan tarung potensial. Ketidaktransparanannya โ tidak ada detail senjata, tidak ada verifikasi independen โ memperparah kebisingan informasi dan memaksa lawan berasumsi terburuk.
Langkah selanjutnya yang logis adalah tekanan diplomatik multilateral, kemungkinan besar melalui forum PBB seperti COPUOS atau Konferensi Desarmamen di Jenewa, untuk mendorong instrument hukum yang mengikat. Tanpa kerangka aturan yang disepakati bersama, setiap peluncuran satelit ganda-fungsi akan dibaca sebagai ancaman, dan kesalahan kalkulasi satu insiden โ tabrakan, gangguan sinyal, uji anti-satelit โ cukup memicu eskalasi yang tak terduga.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Skandal Rasisme Guncang Montreal: Tujuh Polisi Dipecat, Kepercayaan Publik Terancam

Iran Ancam Jangkauan Rudal ke Pangkalan AS di Eropa Jika Agresi Berlanjut

Tentara Yaman Laksanakan 951 Operasi Tempur dalam 24 Jam, Lebih dari 250.000 Warga Terpaksa Mengungsi
