Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

BPBD Bandung Pantau Kertasari-Pangalengan Usai 42 Kali Gempa Swarm

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: Antara News
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

BPBD Bandung Pantau Kertasari-Pangalengan Usai 42 Kali Gempa Swarm
BAGIKAN:

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung menggelar monitoring langsung di wilayah Pangalengan dan Kertasari, Kamis (17/9), pasca tercatatnya 42 kali gempa swarm yang mengguncang kedua kecamatan tersebut sejak dini hari.

Tim gabungan dari BPBD Kabupaten Bandung turun ke titik-titik rawan untuk memetakan kerusakan fisik dan menilai kesiapsiagaan warga. Fokus utama pengecekan difokuskan pada struktur bangunan publik, jalan akses, serta saluran irigasi yang rentan terhadap getaran berulang.

Data BMKG Stasiun Geofisika Bandung mencatat sekuens gempa berkelompok itu bermagnitudo kecil hingga sedang, dengan hiposentrum dangkal yang terasa jelas oleh warga. Kecemasan puncak terjadi saat gempa ke-37 hingga ke-42 berlangsung dalam rentang waktu kurang dari dua jam, memaksa sejumlah warga mengungsi ke lapangan terbuka.

Kepala BPBD Kabupaten Bandung, Usep Nurhidayat, mengimbau masyarakat agar tidak panik namun tetap waspada terhadap potensi gempa susulan. "Kami memastikan jalur evakuasi dan titik pengungsian siap digunakan jika situasi memburuk," ucapnya saat meninjau posko darurat di Pangalengan.

Pemkab Bandung melalui Dinas PUPR sudah mengerahkan alat berat ke beberapa titik longsoran kecil yang mengancam akses jalan antar desa. Sementara Dinas Kesehatan menyiapkan tim medis dan ambulans di puskesmas terdekat sebagai antisipasi korban luka atau kecemasan medis mendadak.

Analisis Redaksi

Frekuensi 42 kali gempa swarm dalam waktu singkat bukan angka biasa bagi wilayah Lembang-Pangalengan yang memang duduk di atas sesar Lembang yang aktif. Pola gempa dangkal berulang seperti ini sering kali menjadi indikator tekanan tektonik lokal yang belum seimbang, berbeda karakter dengan gempa tektonik dalam yang biasanya punya aftershock menurun. Yang perlu diwaspadai bukan magnitudo terbesarnya, tapi efek kumulatif getaran berulang terhadap stabilitas lereng gunung dan struktur bangunan tua yang tidak dirancang tahan gempa berkelanjutan.

Langkah BPBD yang cepat turun ke lapangan tepat, tapi uji nyata ada pada kelanjutan: apakah data monitoring ini langsung terintegrasi ke sistem peringatan dini desa (EWS) dan apakah simulasi evakuasi rutin sudah pernah dijalankan di Kecamatan Kertasari yang geografisnya lebih terisolir. Jika BMKG mencatat peningkatan frekuensi atau perpindahan hiposentrum ke sesar lain, langkah selanjutnya logisnya adalah pengaktifkan Satgas Bencana tingkat Kabupaten dan pengungsian pra-emptif di zona longsoran tinggi, bukan menunggu kerusakan parah baru bertindak.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸