ARC USK Sebut SRG Inovasi Tata Niaga Industri Nilam Nasional
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.
Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala (ARC USK) Banda Aceh menilai penerapan Sistem Resi Gudang (SRG) sebagai inovasi strategis dalam tata niaga industri nilam nasional. Penilaian itu disampaikan langsung oleh pihak peneliti pusat riset terpadu itu terkait kebijakan terbaru yang mengatur alur perdagangan komoditas unggulan Aceh tersebut.
Menurut ARC USK, kehadiran SRG mampu mengatasi kelangkaan informasi serta asimetri harga yang selama ini merugikan petani dan pengusaha kecil di hulu rantai pasok. Sistem ini mencatat fisik barang di gudang berizin sehingga resi yang diterbitkan bisa dijadikan jaminan pembiayaan bank maupun instrumen perdagangan transparan. "Ini mengubah nilam dari komoditas tertukar jadi aset bernilai likuid," ujar peneliti ARC USK saat ditemui di Banda Aceh, Rabu (17/9/2026).
Latar belakang penilaian ini adalah keluhan berulang industri hilir soal kualitas dan keberlanjutan suplai minyak nilam Aceh yang menguasai pangsa pasar global. Tanpa sistem terstandarisasi, penjualan sering terjadi di bawah nilai pasar karena petani dipaksa menjual panen ke tengkulak untuk kebutuhan mendadak. SRG hadir memecah rantai itu dengan memberikan daya tahan finansial pada petani.
Penerapan konkret sudah mulai diuji coba di beberapa gudang penampungan milik koperatif petani di Kabupaten Aceh Besar dan Pidie. Hasil awal menunjukkan peningkatan daya tawar harga hingga 15 persen dibanding skema jual beli konvensional. Pemerintah Provinsi Aceh melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan turut mendorong percepatan regulasi daerah agar SRG berjalan efektif sebelum musim panen puncak tahun depan.
Bagi publik, terutama petani nilam di 18 kabupaten/kota produsen, inovasi ini berpotensi mengubah struktur ekonomi rumah tangga dari subsisten ke komersial terkelola. Akses ke pembiayaan formal via resi gudang membuka peluang perluasan lahan, pembelian alat destilasi modern, hingga sertifikasi organik yang menambah nilai ekspor. Dampak ganda itu diramalkan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok minyak nilam terbesar dunia.
Analisis Redaksi
Kunci keberhasilan SRG tidak terletak pada teknologi pencatatan saja, melainkan pada kepercayaan pasar terhadap gudang penampung dan penerbit resi. Jika pengawasan mutu dan legalitas gudang longgar, resi itu hanya kertas tanpa nilai. Oleh karena itu, sinergi ARC USK sebagai otoritas teknis, OJK sebagai pengatur keuangan, dan pemerintah daerah sebagai pengawas lapangan harus ditata dalam satu kerangka hukum yang tajam, bukan sekadar MoU bersifat seremonial.
Langkah logis selanjutnya adalah pembentukan skema jaminan risiko (risk sharing) bagi bank yang menyalurkan kredit berbasis resi nilam. Sejarah menunjukkan bank enggan menyentuh komoditas pertanian karena volatilitas harga dan risiko fisik barang. Jika pemerintah menyiapkan dana jaminan atau skema asuransi komoditas, SRG akan berubah dari konsep akademis jadi mesin ekonomi nyata yang merasuk ke pangkal remah petani. Tanpa itu, inovasi indah ARC USK berisiko terjebak di lapisan regulasi tanpa realisasi lapangan.