Wamen Giring: Pameran Foto Amerika Latin Jadi Media Kolaborasi Global
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.
Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo menegaskan pameran fotografi negara-negara Amerika Latin berfungsi sebagai media kolaborasi global yang strategis. Pernyataan itu disampaikannya saat membuka pameran yang menampilkan karya-karya fotografer dari benua itu, menandakan upaya diplomasi budaya yang lebih konkret lewat narasi visual.
Di depan undangan diplomatik dan pelaku industri kreatif, Giring menyoroti bagaimana lensa kamera mampu menjembatani jarak geografis yang jauh antara Nusantara dan Amerika Latin. "Pameran ini bukan sekadar menampilkan gambar, tapi membangun percakapan," ucap mantan frontman Nidji itu, menekankan peran seni rupa sebagai bahasa universal yang tidak mengenal batas negara.
Kebijakan ini sejalan dengan arah Kemendikbudristek di bawah naungan Menteri Fadli Zon yang mendorong diplomasi budaya ke arah wilayah-wilayah non-tradisional. Selama ini kerja sama budaya lebih condong ke negara-negara Asia Pasifik dan Eropa, sedangkan Amerika Latin sering terpinggirkan meski memiliki kekayaan budaya megabiodiversitas yang mirip Indonesia.
Giring, yang juga bekas musisi berpengalaman internasional, memanfaatkan jaringan dan sensibitas artistiknya untuk memposisikan fotografi sebagai titik temu ekonomi kreatif. Ia menilai pameran semacam ini membuka peluang kerja sama produksi film, festival seni, hingga program pertukaran pelajar antar negara-negara anggota Forum KEM-Latin America.
Bagi publik, kehadiran pameran ini memperluas cakrawala visual soal kesamaan nasib dua wilayah tropis: hutan hujan Amazon dan Kalimantan, perjuangan masyarakat adat, hingga dinamika urbanisasi. Akses gratis ke ruang pameran sengaja dirancang agar narasi kolaborasi tidak terbatas pada kalangan elit diplomatik, tapi meresap ke akar rumput.
Analisis Redaksi
Pernyataan Wamen Giring menandakan geseran paradigma diplomasi budaya Indonesia dari sekadar "memamerkan keunikan" menuju "membangun ekosistem kolaborasi". Pilihannya pada media fotografi — yang instan, viral, dan lintas bahasa — cerdas mengantisipasi dinamika konsumsi konten generasi muda di era media sosial. Risikonya, keberlanjutan program ini tidak boleh berhenti pada seremonial pembukaan; butuh skema pendanaan dan kerangka MoU yang mengikat agar kolaborasi global yang dijanjikan benar-benar menurunkan ke proyek-proyek nyata seperti koproduksi film atau residency artist.
Langkah logis selanjutnya yang harus dipantau adalah terjemahan komitmen lisan ini ke dalam program kerja tahunan Kemendikbudristek dan Kementerian Luar Negeri. Perlu ditanyakan: apakah akan ada dana khusus untuk mendorong mobilitas seniman Indonesia ke Brasil, Argentina, atau Meksiko sebaliknya? Tanpa dukungan struktural birokrasi dan anggaran, narasi "kolaborasi global" berpotensi terjebak jargon kosong. Diplomasi budaya butuh roda gigi birokrasi yang berputar, bukan hanya sorotan panggung.