94 Pengungsi Gempa NTT Meninggal di Pengungsian, Sebagian Besar Lansia dengan Penyakit Kronis

Kesehatan
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

94 Pengungsi Gempa NTT Meninggal di Pengungsian, Sebagian Besar Lansia dengan Penyakit Kronis
BAGIKAN:

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi 94 pengungsi gempa Nusa Tenggara Timur meninggal dunia di tempat pengungsian, angka yang hampir dua kali lipat korban jiwa langsung akibat guncangan bumi itu sendiri.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers daring pada Selasa (15/9) lalu. "Korban yang meninggal secara langsung akibat gempa bumi itu 48 orang, tetapi secara tidak langsung yang ada di pengungsian ada 94 orang," ujarnya seperti tercatat di saluran YouTube BNPB, Kamis (17/9).

Dalam unggahan akun Instagram resmi BNPB pada hari yang sama, Berton menjelaskan angka tersebut sudah melewati proses verifikasi dan validasi bersama Kementerian Kesehatan di tujuh kabupaten terdampak. Hasilnya memastikan 94 korban itu tidak meninggal karena trauma fisik langsung atau runtuhan bangunan saat gempa.

Data tim medis menunjukkan sebagian besar korban adalah warga lanjut usia yang meninggal akibat komplikasi penyakit kronis yang sudah diderita sejak lama, seperti stroke dan diabetes melitus. Kondisi pengungsian yang terbatas akses dan fasilitas medis diperkuat menjadi pemicu fatal bagi kelompok rentan ini.

Berton menegaskan penanganan medis telah dilaksanakan secara maksimal di berbagai fasilitas kesehatan dan pos kesehatan terpadu. Ia memastikan pelayanan dasar dan kesehatan bagi penyintas tetap berjalan optimal. "Sejak hari pertama, BNPB telah mengaktifkan pos dukungan logistik di Labuan Bajo dan Maumere. Bantuan medis, obat-obatan, termasuk peralatan lain yang dibutuhkan terus bergerak menjangkau pengungsi, baik terpusat maupun mandiri," tegasnya.

Analisis Redaksi

Angka 94 korban tidak langsung ini mengungkap sisi gelap bencana yang sering terabaikan: kerentanan kelompok lansia dengan komorbiditas saat sistem kesehatan terputus. Gempa hancurkan bangunan, tapi yang membunuh mereka adalah ketidakmampuan mengakses obat rutin, dialisis, atau pemantauan gula darah dalam minggu-minggu kritis pasca bencana.

Verifikasi bersama Kemenkes di tujuh kabupaten menunjukkan seriusnya upaya pemisahan data, tapi juga menegaskan betapa rawan infrastruktur kesehatan di daerah 3T. Pos logistik di Labuan Bajo dan Maumere berfungsi, namun jangkauan ke pengungsian mandiri yang tersebar di lereng gunung atau pulau-pulau kecil tetap jadi tantangan logistik yang tidak terpecahkan sepenuhnya.

Langkah selanjutnya yang logis bukan sekadar mendistribusikan obat, tapi memetakan data medis setiap pengungsi lanjut usia secara real-time dan menempatkan tenaga medis tetap di setiap kluster pengungsian. Bencana tidak berakhir saat gempa berhenti; ia berakhir saat yang paling rentan terjamin kelangsungan pengobatannya.

Meow! Tanya Nesi!
😸