Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Raja Thailand Mendaratkan Boeing 737 di Hanoi di Tengah Hujan Deras, Ratu Suthida Jadi Kopilot

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Raja Thailand Mendaratkan Boeing 737 di Hanoi di Tengah Hujan Deras, Ratu Suthida Jadi Kopilot
BAGIKAN:

Raja Thailand Maha Vajiralongkorn memandu sendiri pesawat kerajaan Boeing 737-800 mendarat di Hanoi, Vietnam, pada Senin (14/9/2026) di tengah guyuran hujan deras, mengawali kunjungan kenegaraan pertama bagi pasangan raja ke negara tetangga itu sejak hubungan diplomatik dijalin 1976. Ratu Suthida menempati kursi kopilot, melengkapi duet langka seorang kepala negara dan permaisuri yang bersama-sama menguasai kokpit pesawat komersial berukuran besar.

Rekaman video yang dirilis Kantor Urusan Luar Negeri Thailand memperlihatkan Vajiralongkorn tenang di kursi kapten, berkoordinasi dengan Ratu Suthida hingga roda pesawat menyentuh landas pacu dengan selamat. Cuaca buruk yang menyelimuti bandara Hanoi justru menjadi latar dramatik keahlian terbang keduanya, jauh dari sekadar upacara simbolis.

Keahlian Vajiralongkorn bukan hal baru. Sang raja memiliki latar belakang perwira militer Angkatan Bersenjata Kerajaan Thailand dengan sertifikasi penerbangan Northrop F-5, F-16, hingga Boeing 737-400. Ia pernah bertugas sebagai pilot instruktur F-5E/F pada 1994 dan kembali memimpin penerbangan misi amal pada 2012, membuktikan jam terbangnya tak hanya sebatas gelar kehormatan.

Di sisi kanannya, Ratu Suthida membawa pengalaman komersial yang solid. Sebelum bergabung dengan militer kerajaan pada 2010, ia mengabdi sebagai awak kabin Thai Airways dan JALways. Kualifikasinya menerbangkan pesawat penumpang berukuran besar kini diperdalam melalui pelatihan penerbangan solo jet tempur supersonik, menempatkannya sebagai rekan setara di kokpit, bukan sekadar penumpang istimewa.

Kunjungan kenegaraan ini menandai pembukaan babak baru hubungan bilateral setelah hampir setengah abad berhubungan diplomatik. Dalam delegasi yang turut hadir, tercatat Wakil Perdana Menteri Anutin Charnvirakul, menegaskan bobot politik perjalanan yang dimulai dengan aksi piloting yang menarik perhatian media internasional.

Kehadiran keduanya di kokpit, terutama saat mendarat dalam kondisi visibilitas minim, memproyeksikan citra monarki yang tangguh dan teknokratis. Hal ini berbeda dari narasi raja-raja lain yang cenderung menitipkan penerbangan pada pilot profesional, memperkuat narasi kepemimpinan "hands-on" yang telah menjadi ciri Vajiralongkorn sejak masa putra mahkota.

Analisis Redaksi

Tindakan Raja memandu pesawat ke negara sahabat bukan sekadar gaya pribadi, melainkan proyeksi soft power yang terhitung. Vietnam adalah mitra strategis ASEAN, dan kedatangan kepala negara yang "turun tangan" mengontrol mesin negara di tengah cuaca ekstrem mengirim pesan kepercayaan diri serta komitmen personal yang dalam. Ini juga melonggokkan pertanyaan pada protokol keamanan standar: bagaimana aturan protokol keamanan VVIP mengakomodasi risiko kepala negara memegang kendali penuh saat fase kritis penerbangan, meskipun ia bersertifikat.

Ke depan, dinamika kunjungan ini kemungkinan besar akan mempercepat kerjasama pertahanan dan industri penerbangan bilateral, mengingat latar belakang militer keduanya. Peran Ratu Suthida yang semakin terlihat di domain teknis tinggi ini juga memperkuat posisinya sebagai simbol modernisasi monarki Thailand. Yang perlu diwaspadai adalah bagaimana narasi ini diterima domestik di tengah dinamika politik internal, apakah memperkuat legitimasi atau justru memicu perdebatan soal batas kewajaran peran raja di era konstitusional.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸