Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Menko Airlangga Dorong Investor Kanada Manfaatkan ICA-CEPA, Fokus Nuklir-AI & Mineral Kritis

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNBC Indonesia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Menko Airlangga Dorong Investor Kanada Manfaatkan ICA-CEPA, Fokus Nuklir-AI & Mineral Kritis
BAGIKAN:

Pemerintah Indonesia secara eksplisit mengajak investor Kanada memanfaatkan ICA-CEPA sebagai peluang strategis untuk memperkuat kerjasama ekonomi bilateral, sementara negara ini sedang membuka pintu lebar bagi investasi di sektor nuklir, AI, dan hilirisasi mineral kritis—seperti nikel—dengan dukungan kerangka hukum yang sudah siap.

Dalam acara Canada-ASEAN Business Council (CABC) Executive Dialogue yang berlangsung di sela-sela Canada Investment Summit di Jakarta, Rabu (16/9/2026), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa Indonesia menawarkan pasar yang tidak hanya besar melainkan juga stabil dan disiplin dalam pertumbuhan ekonomi.

Menko Airlangga menekankan bahwa ICA-CEPA, perjanjian dagang bilateral pertama Kanada dengan negara ASEAN dan komprehensif pertama Indonesia dengan kawasan Amerika Utara, sudah ditandatangani oleh kedua Menteri Perdagangan dan disaksikan Presiden kedua negara di Ottawa pada 2025 lalu. Perjanjian ini kini memasuki tahap ratifikasi dan pembahasan rules of origin, sementara peluang investasi di sektor-sektor kunci seperti energi nuklir, AI, dan hilirisasi nikel menjadi fokus utama.

Dalam sambutannya, Menko Airlangga menggarisbawahi bahwa Kanada akan menghapus atau menurunkan tarif pada 90 persen pos produk Indonesia, sementara Indonesia berkomitmen serupa untuk 86 persen pos produk Kanada. Hal ini membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha, termasuk AtkinsRealis yang sedang membahas kerja sama energi nuklir dengan CEO Ian L. Edwards, dan Sun Life yang memperkuat kolaborasi di sektor keuangan.

Di sisi lain, Menteri Industri Kanada Mélanie Joly dan Menteri Perdagangan Internasional Kanada Maninder Sidhu hadir dalam acara CABC Reception, mengungkapkan minat Kanada untuk meningkatkan investasi di Indonesia, terutama di mineral kritis, transisi energi, dan ketahanan pangan. Delegasi Indonesia yang hadir meliputi Duta Besar Muhsin Syihab, Sekretaris Kemenko Susiwijono Moegiarso, dan Deputi Edi Prio Pambudi.

Menko Airlangga menekankan bahwa dialog seperti ini krusial karena pelaku usaha adalah ujung tombak dalam mewujudkan manfaat ICA-CEPA. Ia mendorong forum ini menjadi ajang pertukaran dua arah agar masukan dapat diterjemahkan menjadi tindak lanjut konkret dalam waktu dekat.

Di balik pesan optimis tersebut, terdapat tantangan tersendiri: persiapan infrastruktur dan regulasi di Indonesia masih perlu diperkuat agar investasi nuklir dan AI dapat berjalan lancar. Selain itu, kepercayaan investor terhadap stabilitas politik dan hukum akan menjadi faktor penentu dalam menarik investasi jangka panjang.

Sektor energi nuklir dan AI menjadi dua fokus utama yang diangkat dalam pertemuan ini, mengingat potensi mereka dalam mendukung transisi energi bersih dan industri 4.0. Namun, keberhasilan implementasi ICA-CEPA juga tergantung pada kecepatan ratifikasi dan pengaturan teknis yang transparan.

Menko Airlangga menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia telah siap membangun kerangka kerja dukungan untuk investor, termasuk melalui penyederhanaan proses administratif dan peningkatan akses modal. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kesiapan dunia usaha harus dibangun sejak dini agar tidak terjadi lagi-lagi kesenjangan antara harapan dan kenyataan.

Dalam acara yang sama, Presiden CABC Wayne Farmer menyampaikan harapan bahwa kolaborasi antara Indonesia dan Kanada dapat menjadi model sukses bagi kerjasama ASEAN-Kanada di masa depan.

Sementara itu, Menteri Keuangan II Brunei Dato Dr. Amin Liew Abdullah mengungkapkan minat Brunei dalam memanfaatkan sinergi ekonomi melalui ICA-CEPA, terutama di sektor keuangan dan digital.

Analisis Redaksi

Analisis Redaksi

ICA-CEPA bukan hanya perjanjian dagang biasa, melainkan titik balik dalam hubungan ekonomi Indonesia-Kanada yang dapat mengubah dinamika investasi di kawasan ASEAN. Namun, keberhasilan implementasinya tidak hanya bergantung pada penurunan tarif bea, tetapi juga pada kesiapan infrastruktur dan regulasi yang dapat mendukung sektor nuklir dan AI. Tantangan terbesar adalah percepatan ratifikasi dan pengaturan teknis yang transparan, agar tidak terjadi kesenjangan antara harapan investor dan kenyataan lapangan.

Dari sisi politik, ICA-CEPA juga menjadi ujicoba bagi Indonesia dalam membangun hubungan strategis dengan kawasan Amerika Utara, sementara Kanada justru melihat Indonesia sebagai pasar potensial di Asia Tenggara. Namun, jika tidak diikuti dengan langkah konkret dalam bentuk investasi nyata, perjanjian ini hanya akan menjadi kertas kosong. Menko Airlangga benar-benar harus memastikan bahwa dialog antara pemerintah dan pelaku usaha tidak hanya berakhir di forum, tetapi menghasilkan tindak lanjut nyata.

Sektor nuklir dan AI menjadi perhatian utama karena potensi mereka dalam mendukung transisi energi bersih dan industri masa depan. Namun, keberhasilan di kedua sektor ini juga tergantung pada dukungan pemerintah dalam bentuk penyederhanaan regulasi dan peningkatan kapasitas SDM. Jika tidak diatasi, risiko investasi tidak berjalan atau bahkan berakhir dengan kegagalan akan tinggi. Pemerintah harus lebih proaktif dalam membangun kepercayaan investor melalui transparansi dan konsistensi kebijakan.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸