Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Konflik Yaman Eskalasi, 100.000 Warga Mengungsi dan UNHCR Butuh Dana Darurat US$14 Juta

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNBC Indonesia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Konflik Yaman Eskalasi, 100.000 Warga Mengungsi dan UNHCR Butuh Dana Darurat US$14 Juta
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • UNHCR memperingatkan kekerasan brutal ini mengancam memicu krisis kemanusiaan skala lebih besar yang akan semakin mencekik komunitas dengan sumber daya terbatas.
  • "Banyak keluarga melarikan diri dalam waktu singkat dengan sedikit barang bawaan.
  • Tempat penampungan, makanan, air bersik, perawatan kesehatan, dan layanan perlindungan adalah di antara kebutuhan paling mendesak," tulis UNHCR dalam pernyataan resminya.

Lebih dari 100.000 warga Yaman terpaksa meninggalkan rumah mereka mengikuti eskalasi konflik berdarah antara milisi Houthi dan pasukan setia pemerintah yang diakui internasional, menurut data Badan Pengungsi PBB (UNHCR) yang dirilis Selasa lalu dan dikutip Al Jazeera, Rabu (16/9/2026).

Permusuhan yang meningkat pesat di sepanjang pantai barat Yaman memicu gelombang pengungsian massal di dalam negeri, sementara ribuan orang lain mempertaruhkan nyawa menyeberangi Selat Bab al-Mandeb yang berbahaya untuk mencari perlindungan di Djibouti. UNHCR memperingatkan kekerasan brutal ini mengancam memicu krisis kemanusiaan skala lebih besar yang akan semakin mencekik komunitas dengan sumber daya terbatas.

Untuk menanggulangi bencana ini, UNHCR membutuhkan kucuran dana darurat sebesar US$14 juta (Rp246,4 miliar) guna memenuhi kebutuhan mendesak keluarga pengungsi di Yaman serta dukungan tambahan bagi yang tiba di Djibouti. "Banyak keluarga melarikan diri dalam waktu singkat dengan sedikit barang bawaan. Tempat penampungan, makanan, air bersik, perawatan kesehatan, dan layanan perlindungan adalah di antara kebutuhan paling mendesak," tulis UNHCR dalam pernyataan resminya.

Tak hanya warga lokal, lebih dari 65.000 pengungsi dan pencari suaka terdaftar—kebanyakan berasal dari Somalia dan Ethiopia—juga menghadapi risiko mematikan. Eskalasi besar-besaran dimulai ketika milisi Houthi yang bersekutu dengan Iran melakukan pergerakan kilat merebut kendali seluruh pantai Laut Merah Yaman untuk memperkuat cengkeraman mereka di Bab al-Mandeb, koridor maritim kritis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan berfungsi sebagai rute alternatif sejak perang AS-Iran mencekik Selat Hormuz.

Di lapangan, kengerian perang telah memisahkan banyak keluarga. Aisha Muhammad, seorang pengungsi, terpaksa meninggalkan lima anaknya di desa dekat kota pelabuhan Mocha saat daerah itu diserbu Houthi pekan lalu. "Mereka diblokir dan ditembaki, sehingga terjebak di dalam rumah. Mereka hanya memasak nasi, tidak ada roti. Putri-putri saya menelepon saya ingin bergabung, tapi sudah terlalu sulit," ungkapnya. Kepanikan serupa dialami Hussein Haydara yang melarikan diri dari Hodeidah saat mortir dan peluru beterbangan. "Anda nyaris tidak bisa membawa anak-anak dan sedikit barang kebutuhan. Kami sangat ketakutan... dan hanya lari secepat yang bisa," tuturnya.

Hingga kini, UNHCR mencatat lebih dari 2.400 orang melakukan perjalanan nekat melintasi Selat Bab al-Mandeb dalam empat hari terakhir, mayoritas wanita, anak-anak, dan lansia. "Orang-orang tiba setelah perjalanan laut yang sulit, banyak yang kelelahan, tertekan, dan membawa sedikit barang yang bisa mereka bawa," ucap Perwakilan UNHCR di Djibouti, Sandrine Desamours.

Analisis Redaksi

Pengendalian Houthi atas seluruh pantai Laut Merah Yaman bukan sekadar kemenangan taktis militer, melainkan pergeseran strategis yang mengubah keseimbangan kekuatan di salah satu choke point maritim paling vital dunia. Dengan Bab al-Mandeb di tangan mereka, Tehran memperoleh leverage implisit atas aliran perdagangan global dan pasokan energi—sebuah kartu tawar yang nilainya melampaui batas-batas Yaman.

Krisis pengungsian ini juga membayangkan bahaya ganda: tekanan humaniter di dalam negeri yang sudah runtuh infrastrukturnya, dan beban tambahan bagi Djibouti—negara kecil yang sudah menampung basis militer asing dan aliran migran dari Telinga Afrika. Jika dana US$14 juta tidak tercepat terpenuhi, dan jika jalur akses humaniter tetap tertutup oleh dinamika medan tempur, angka 100.000 pengungsi bisa melonjak drastis dalam minggu-minggu mendatang.

Langkah selanjutnya yang logis adalah tekanan diplomatik multilateral agar koridor humaniter dibuka dan dana darurat dicairkan, namun realpolitik menunjukkan kesulitan: Houthi tidak mengakui otoritas internasional standar, sedangkan koalisi pendukung pemerintah Yaman terfragmentasi. Tanpa kesepakatan ceasefire minimal untuk akses bantuan, skenario terburuk—kelaparan massal dan wabah penyakit di kamp-kamp pengungsian padat—menjadi probabilitas yang nyata, bukan sekadar spekulasi.

Meow! Tanya Nesi!
😸