Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Freeport Targetkan 21 Ton Emas pada 2026 di Tengah Kapasitas 65%

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Freeport Targetkan 21 Ton Emas pada 2026 di Tengah Kapasitas 65%
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan produksi emas dari tambang yang dioperasikan perusahaan saat ini mencapai 700.000 ons atau setara dengan 21 ton emas pada 2026.
  • Selain emas, perusahaan juga menargetkan produksi tembaga mencapai 800 pon di tahun ini.
  • Direktur Utama PTFI Tony Wenas menyampaikan rencana produksi itu di tengah kapasitas operasional penambangan yang berada di tingkat 65% dari kapasitas normal.

PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan produksi emas dari tambang yang dioperasikan perusahaan saat ini mencapai 700.000 ons atau setara dengan 21 ton emas pada 2026. Selain emas, perusahaan juga menargetkan produksi tembaga mencapai 800 pon di tahun ini.

Direktur Utama PTFI Tony Wenas menyampaikan rencana produksi itu di tengah kapasitas operasional penambangan yang berada di tingkat 65% dari kapasitas normal. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, Jakarta, yang dikutip Rabu (16/9/2026), ia menjelaskan kapasitas penambangan tahun ini diproyeksikan sebesar 124.000 ton bijih per hari akibat penyesuaian operasional pasca insiden longsoran material basah pada tahun lalu.

Tony membandingkan dengan kapasitas normal yang mencapai 200.000 ton bijih per hari. "Ini kalau kapasitas normal kita kira-kira 200.000 ton bijih per hari. Jadi untuk tahun ini kita masih dalam kapasitas sekitar 65% dari kapasitas normal. Ini disebabkan oleh adanya longsoran material basah pada bulan September tahun yang lalu," kata Tony.

Dari total volume pengolahan bijih tersebut, perseroan mengonversi hasil tambang menjadi emas dan tembaga. Penjualan produk emas dan komoditas pendukung lainnya turut ditopang oleh operasional fasilitas pemurnian logam berharga (Precious Metal Refinery).

Tony merinci hasil produksi yang akan datang. "Dan ini kalau dihitung berapa metal yang akan diproduksi dari hasil bijih yang ditambang tersebut, di tahun 2026 ini kami akan bisa memproduksi 800 juta pound tembaga dan 700.000 ounces emas. 700.000 ounces emas kalau kita tonasekan itu menjadi 21 ton emas di tahun 2026 ini," tuturnya.

Selain emas dan tembaga, PTFI juga memproyeksikan hasil pemurnian berupa 103 ton perak batangan, 1,4 juta ton asam sulfat, serta 900.000 ton terak tembaga (copper slag). Produksi oleh perusahaan diproyeksikan meningkat secara bertahap seiring pemulihan area penambangan Grasberg Block Caving (GBC).

Pada 2027, kapasitas penambangan ditargetkan naik menjadi 170.000 ton bijih per hari dengan produksi emas mencapai 31 ton, sebelum mendekati kapasitas penuh sebesar 39 hingga 40 ton emas pada 2028. "Kenaikan tingkat produksi ini sejalan dengan pemulihan Grasberg Block Caving yang terkena longsor di tahun yang lalu," tandasnya.

Analisis Redaksi

Angka 700.000 ons emas dan 800 juta pound tembaga menunjukkan PTFI masih menjalankan operasi pada level yang belum pulih sepenuhnya. Kapasitas 65% dari normal dan 124.000 ton bijih per hari menjadi penanda bahwa longsoran material basah September tahun lalu masih membentuk lintasan produksi tahun ini. Dengan fasilitas Precious Metal Refinery tetap beroperasi, perseroan berupaya menjaga nilai tambah di dalam negeri meski pasokan bijih belum kembali ke 200.000 ton per hari.

Yang perlu dicermati adalah konsistensi target. Proyeksi 2027 sebesar 170.000 ton bijih per hari dan 31 ton emas, lalu 39 hingga 40 ton emas pada 2028, bergantung pada pemulihan Grasberg Block Caving. Jika pemulihan berjalan sesuai rencana, kenaikan produksi dapat menopang penerimaan negara dan rantai pasok industri logam. Sebaliknya, setiap gangguan operasional berpotensi menggeser capaian target yang telah disampaikan dalam RDP Komisi XII DPR RI.

Bagi publik, perhatian tidak berhenti pada volume produksi. Ada pula dampak lingkungan, keselamatan kerja, dan tata kelola tambang yang melekat pada operasi skala besar. Karena itu, laporan berkala mengenai kapasitas penambangan, produksi emas-tembaga, serta pemulihan area tambang menjadi penting agar target 21 ton emas pada 2026 tidak sekadar angka di atas kertas.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ