Drone Houthi Diklaim Targetkan Mekkah, Koalisi Saudi Cegat; OKI Kecam, Houthi Bantah
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Kota suci umat muslim Mekkah dilaporkan menjadi target serangan drone. Koalisi militer pimpinan Arab Saudi yang memerangi kelompok Houthi di Timur Tengah menyebut, pemberontak Yaman itu berupaya menyerang Mekkah, Rabu (16/9/2026).
Juru bicara koalisi, Turki al-Maliki, dalam pernyataan yang diunggah di platform X dan dikutip AFP, menyatakan pasukan pertahanan udara Kerajaan Arab Saudi mencegat dan menghancurkan drone bermusuhan milik Houthi sebelum memasuki wilayah udara terlarang kota suci. "Pasukan Pertahanan Udara Kerajaan Arab Saudi mencegat dan menghancurkan sebuah drone bermusuhan yang diluncurkan oleh Milisi Teroris Houthi sebelum drone tersebut memasuki Wilayah Udara Terlarang Kota Suci 'Makkah Al-Mukarramah'," bunyi pernyataan itu.
Al-Maliki menegaskan keamanan Dua Masjid Suci dan para peziarah adalah garis merah. Ia memperingatkan Komando Pasukan Gabungan Koalisi tidak akan ragu mengambil tindakan yang diperlukan dan pencegahan terhadap Houthi. "Keamanan 'Dua Masjid Suci' dan para peziarah adalah garis merah, dan Komando Pasukan Gabungan Koalisi tidak akan ragu untuk mengambil tindakan yang diperlukan dan pencegahan terhadap Milisi Teroris Houthi," tambahnya.
Peringatan memang dikeluarkan Arab Saudi Selasa, soal kemungkinan serangan di Mekkah dan wilayah kerajaan bagian selatan yang berbatasan dengan Yaman. Peringatan tersebut termasuk yang pertama dikeluarkan di Mekah sejak perang Amerika Serikat (AS) dan Iran meletus pada bulan Februari. Peringatan itu muncul sehari setelah gelombang serangan rudal balistik dan pesawat tak berawak yang diluncurkan dari Yaman melukai 13 orang di kerajaan tersebut.
Serangan itu membuat marah kelompok negara-negara Islam, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Dalam pernyataan bersama, blok yang terdiri dari 57 negara tersebut mengecam serangan Houthi dan menyebutnya "keji". "Sekretariat Jenderal Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengecam serangan keji yang dilakukan oleh kelompok Houthi terhadap kota Makkah dan wilayah Madinah, serta agresi berkelanjutan mereka terhadap Kerajaan Arab Saudi," demikian pernyataan OKI yang diunggah di platform X.
Pejabat Houthi menepis laporan tersebut. Hazem al-Assad dari biro politik Houthi di platform X menyatakan klaim itu kebohongan semata. "Klaim mengenai penargetan Mekkah adalah kebohongan usang yang pernah digunakan sebelumnya dan tidak lagi dapat memperdaya siapa pun," tulisnya.
Timur Tengah kembali memanas. Belum selesai dengan Israel di Gaza-Lebanon serta konflik AS dan Iran yang merembet ke Selat Hormuz, pertempuran antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi kembali terjadi. Serangan kilat dilakukan Houthi dengan blokade maritim terhadap kerajaan Arab Saudi dan menargetkan kapal-kapal mereka di Laut Merah.
Akhir pekan, Houthi menguasai keseluruhan pantai Laut Merah Yaman dan Selat Bab al-Mandab, arteri penting bagi ekspor minyak Saudi ketika perang Timur Tengah yang lebih luas menghambat rute pelayaran strategis Selat Hormuz. Pada 10 September, pipa minyak East-West Pipeline Saudi Arabia menjadi sasaran beberapa drone. Pipa tersebut kemudian ditutup sementara. Reuters melaporkan dampaknya signifikan terhadap jalur ekspor minyak Saudi.
Gangguan di Houthi juga dapat berdampak buruk bagi Mesir, mengingat Laut Merah merupakan pintu masuk menuju Terusan Suez, yang menjadi sumber pendapatan devisa penting bagi Kairo. Saat ini, pendapatan dari terusan tersebut hanya sekitar separuh dari jumlah sebelum Houthi mulai menyerang kapal-kapal di Laut Merah pada tahun 2023—sebuah kampanye yang mereka klaim sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina di tengah perang Israel melawan Hamas di Gaza. Selasa, Qatar memperingatkan akan adanya konsekuensi serius jika Bab al-Mandab ditutup. Negara itu menegaskan bahwa hal itu akan menjadi "bencana bagi seluruh dunia".
Analisis Redaksi
Klaim serangan drone ke Mekkah menempatkan perang Yaman dalam babak yang jauh lebih sensitif. Bagi Arab Saudi, Mekkah bukan sekadar wilayah geografis; ia adalah legitimasi utama kerajaan sebagai penjaga Dua Masjid Suci. Karena itu, pernyataan koalisi yang menyebut keamanan peziarah sebagai garis merah harus dibaca sebagai isyarat bahwa eskalasi militer bisa meluas jika serangan serupa terulang. Persis di titik ini, bantahan Houthi tidak menghapus risiko; ia hanya menunjukkan bahwa perang informasi juga berjalan kencang.
Yang perlu diwaspadai adalah efek berantainya. Houthi menguasai pantai Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, sementara pipa East-West Pipeline sudah menjadi sasaran drone pada 10 September. Kombinasi tekanan di Selat Hormuz dan Bab al-Mandab dapat memukul ekspor minyak Saudi, pendapatan Terusan Suez milik Mesir, dan pada akhirnya harga energi dunia. Qatar sudah memperingatkan bahwa penutupan Bab al-Mandab akan menjadi bencana global. Peringatan itu bukan retorika kosong; ia menggambarkan betapa sempitnya jalur alternatif pelayaran Timur Tengah.
Langkah selanjutnya secara logis adalah penguatan pertahanan udara Arab Saudi di sekitar Mekkah dan Madinah, tekanan diplomatik lewat OKI, serta upaya menahan Houthi agar tidak menutup total Bab al-Mandab. Namun selama perang Gaza dan konflik AS-Iran belum mereda, ruang de-eskalasi sangat terbatas. Dunia tidak hanya menonton pertempuran di Yaman; ia sedang mempertaruhkan jalur energi dan stabilitas kawasan.


