China Temukan Deposit Mineral Dasar Laut Kaya Emas Perak di Zona Ekonomi Eksklusif
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Tim peneliti China mengungkap penemuan deposit sulfida polimetalik kelas dunia di dasar laut Pasifik Barat yang mengandung konsentrasi emas dan perak sangat tinggi. Hasil analisis laboratorium kapal menunjukkan kandungan emas mencapai 15,4 parts per million (ppm) atau setara 15,4 gram per ton bijih. Sementara itu, kadar perak terdeteksi hingga 1.271 ppm, yakni 1.271 gram per ton mineral tersebut.
Penemuan ini merupakan buah dari ekspedisi oseanografi "Xiangyanghong 10" yang dipimpin Universitas Tsinghua bersama Institut Geologi Kelautan Qingdao dan Universitas Shanghai Jiao Tong. Tim melakukan tujuh kali penyelaman menggunakan kapal selam khusus selama 18 hari sejak 10 Agustus 2026. Lokasi endapan berada di cekungan busur belakang zona ekonomi eksklusif China, dekat perbatasan Lempeng Eurasia dan Lempeng Laut Filipina.
Global Times melaporkan bahwa konsentrasi rata-rata logam bernilai ekonomi ini jauh melampaui endapan sejenis di daratan. Deposit tersebut terutama terdiri dari kalkopirit, pirit, dan sfalerit yang mengandung tembaga, besi, seng, serta logam berharga lainnya. Proses pembentukannya terkait erat dengan aktivitas hidrotermal di kawasan dengan dinamika tektonik yang tinggi.
Walaupun memiliki potensi nilai ekonomis luar biasa, laporan CCTV News menegaskan bahwa endapan hidrotermal aktif ini belum siap untuk dieksploitasi secara komersial. Faktor utama penghambatnya adalah tekanan ekstrem di laut dalam serta kondisi geologis yang terlalu kompleks untuk teknologi penambangan saat ini. Tim peneliti menekankan bahwa tahap eksplorasi masih memerlukan kajian lebih mendalam mengenai kelayakan teknis.
Langkah China meneguhkan posisi sebagai pemain kunci dalam pemetaan sumber daya maritim global ini menarik perhatian pasar komoditas internasional. Penemuan sulfida polimetalik di kedalaman laut bukan sekadar temuan geologis, melainkan indikator strategis ketahanan supply chain logam industri. Negara-negara dengan kebutuhan logam strategis tinggi kini harus mempertimbangkan kembali peta cadangan sumber daya alam bawah laut Asia-Pasifik.
Analisis Redaksi
Penemuan ini menandai perubahan paradigma dalam strategi keamanan sumber daya China. Dengan memfokuskan riset pada ekonomi biru, Beijing berupaya mengurangi ketergantungan impor logam strategis melalui penambangan domestik di perairan mereka sendiri. Angka konsistensi kadar logam yang dilaporkan menunjukkan kesiapan data ilmiah, meskipun realisasi komersial masih terkendala teknologi.
Pihak berwenang China tampaknya menggunakan momentum ini untuk memperkuat narasi kepemimpinan teknologi kelautan. Namun, tantangan nyata terletak pada kesenjangan antara kapasitas eksplorasi dan implementasi penambangan laut dalam. Isu lingkungan dan regulasi internasional akan menjadi faktor penentu apakah "harta karun" ini bisa menjadi aset ekonomi nyata atau sekadar prestasi akademik semata.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BEI Gencar Audit Acak Free Float, Sanksi Tegas Menanti Direksi Pelanggar

Dirut BEI: Ketahanan Saham Syariah Teguh di Tengah Tekanan Pasar 2026

Indodax Pastikan Layanan Pulih Penuh, Seluruh Aset Kripto dan Data Member Diklaim Aman Usai Anomali
