Suahasil Dituduh Kompetensi: Alasan Bakom Pilihnya Jadi Menkeu Gantikan Purbaya
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Suahasil Nazar resmi ditunjuk Presiden Prabowo Subianto menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan, dengan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) mengungkap alasan strategis di balik keputusan ini.
Kepala Bakom, Qodari, menegaskan Suahasil dipilih karena memiliki pengalaman mendalam di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) selama 6–7 tahun sebagai Wakil Menteri Keuangan, ditambah latar belakang sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal sebelumnya.
“Beliau sudah sangat mengenal seluk-beluk di Kemenkeu karena sekitar 6–7 tahun menjabat Wamenkeu dan sebelumnya pernah sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal,”
kata Qodari dalam keterangan resmi Selasa (15/9). Menurutnya, Suahasil bukan hanya memiliki bekal ilmu yang mumpuni, tetapi juga kompetensi teknis untuk mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah dinamika ekonomi global yang tidak menentu.
Keunggulan lainnya, menurut Qodari, adalah latar belakang akademis Suahasil sebagai Guru Besar Ilmu Ekonomi di Universitas Indonesia (UI). Hal ini, kata dia, menjadi landasan kuat untuk membangun kebijakan fiskal yang seimbang—menggerakkan pertumbuhan ekonomi sambil menjaga stabilitas makroekonomi.
“APBN merupakan instrumen penting untuk menggerakkan ekonomi sekaligus menjaga stabilitas,”
tegas Qodari, menegaskan Suahasil akan mampu mengoptimalkan potensi ekonomi Indonesia sesuai arah Presiden Prabowo yang mengedepankan Pasal 33 UUD 1945—pengelolaan sumber daya alam untuk kemakmuran rakyat. Optimismenya, keputusan ini akan mengurangi kesenjangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas.
Analisis Redaksi
Pemilihan Suahasil bukan sekadar transisi administratif, melainkan keputusan strategis yang mengandung kebijakan jangka panjang. Pengalaman Suahasil di Badan Kebijakan Fiskal dan sebagai Wamenkeu menunjukkan dia memahami kebutuhan reformasi struktural di sektor fiskal, seperti pengawasan pengeluaran pemerintah dan optimasi pendapatan negara. Hal ini menjadi keunggulan kritis saat Indonesia menghadapi tekanan inflasi dan depresiasi rupiah.
Namun, tantangan terbesar akan datang dari konsistensi kebijakan di tengah arusan reformasi yang berbeda di Kemenkeu. Jika Suahasil berhasil menjembatani kontinuitas dengan inovasi, maka APBN 2025 bisa menjadi titik balik untuk pengurangan defisit. Namun, jika keputusan teknokratis terlalu dominan, risiko ketidakpastian bagi investor akan meningkat.
Penting pula untuk memantau sinergi Suahasil dengan tim Kemenkeu yang baru. Jika dia mampu mengintegrasikan pengalaman lama dengan visi baru Presiden Prabowo—seperti pengembangan sumber daya alam untuk kemakmuran rakyat—maka perekonomian Indonesia bisa lebih resilien di tengah krisis global. Namun, jika keputusan teknokratis terlalu dominan, risiko ketidakpastian bagi investor akan meningkat.
Tantangan lain adalah transparansi dalam pengelolaan APBN. Sebagai Guru Besar UI, Suahasil memiliki akademisitas yang dapat menjadi jembatan antara kebijakan dan masyarakat. Namun, jika komunikasi dengan DPR atau masyarakat kurang efektif, risiko ketidakpercayaan terhadap pengelolaan keuangan negara akan muncul.


