AS Akui Pertama Kali Kirim Pasukan Darat ke Iran Sejak 1979 untuk Selamatkan Pilot
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengungkap keberadaan personel militer di daratan Iran dalam operasi penyelamatan dua pilot F-15E Strike Eagle yang ditembak jatuh rudal panggul Iran pada April lalu, menandakan kehadiran pasukan darat AS yang diakui resmi pertama kali di wilayah tersebut selama 46 tahun.
Kepala CENTCOM Laksamana Brad Cooper mengonfirmasi lebih dari 90 personel turun langsung di lapangan, didukung ratusan personel di udara dan ribuan personel pendukung lainnya. Operasi besar-besaran itu melibatkan total 150 pesawat, mencakup 64 pesawat tempur, empat bomber, 48 tanker, serta armada penyelamatan dan peperangan elektronik.
Kronologi Penyelamatan Berisiko Tinggi
Insiden dimulai saat pesawat bernilai US$30 juta (Rp528 miliar) itu digoreng rudal panggul berharga US$100.000 (Rp1,76 miliar) saat menyerang fasilitas rudal dan drone di selatan Isfahan. Kedua awak, bersign "Alpha" dan "Bravo", berhasil melontarkan diri dan mendarat terpisah sekitar 8 kilometer.
Evakuasi Alpha memakan waktu beberapa jam dengan pengerahan 21 pesawat, meski sebuah helikopter terkena tembakan senjata ringan dan pilot A-10 terpaksa melontarkan diri. Bravo yang menderita patah tulang punggung, lengan, dan bahu harus bertahan dua hari di medan pegunungan saat personel Garda Revolusi Iran (IRGC) melakukan pencarian.
Rekaman inframerah memperlihatkan pesawat AS menyerang posisi pasukan IRGC di sekitar Bravo sebelum dua pesawat angkut MC-130J Commando II dan helikopter MH-6 "Little Bird" mendarat untuk menjemputnya. Dua personel para-rescue turun ke tanah untuk mengevakuasi pilot terluka tersebut.
Biaya Militer dan Kerugian Aset
Selama dua tahap penyelamatan, personel AS menembakkan atau menjatuhkan 339 amunisi di wilayah Iranβ123 untuk Alpha dan 216 untuk Bravo. Dua unit MC-130J Commando II yang terjebak di tanah lunak sengaja dihancurkan untuk mencegahnya jatuh ke tangan Iran; masing-masing unit dinilai US$100 juta (Rp1,76 triliun).
Pengungkapan ini menyoroti kemampuan proyeksi kekuatan dan logistik Angkatan Udara AS dalam mengeksekusi operasi Combat Search and Rescue (CSAR) di jantung wilayah musuh, sekaligus mengesankan ketegangan militer di Timur Tengah yang terus mengarah pada konfrontasi langsung.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BPS Catat Surplus Neraca Dagang RI September 2025 Tembus US$3,36 Miliar, Melebihi Ekspektasi Ekonom

PLN Tetapkan Tarif Listrik Non-Subsidi Q4 2026 Tetap, Berikut Daftar 13 Golongan

Doha Jadi Pusat Perundingan Kritis: Iran dan Qatar Dorong Akhir Konflik AS-Israel
