Pabrik Baterai EV CATIB Karawang Beroperasi Juli 2026, Capai 6,9 GWh Tahap Pertama
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Pabrik baterai kendaraan listrik (EV) terbesar kedua di Indonesia, yang dikelola PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB), telah mulai beroperasi komersial sejak Juli 2026 di kawasan Artha Industrial Hill (AIH) dan Karawang New Industry City (KNIC), Jawa Barat.
CATIB adalah perusahaan patungan antara Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd (CBL), anak usaha produsen baterai terbesar dunia, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL). Fasilitas ini memproduksi sel baterai untuk kendaraan listrik serta sistem penyimpanan energi (BESS) dengan kapasitas tahap pertama 6,9 GWh per tahun.
Kecepatan Eksekusi dan Target Ekspansi
Pembangunan pabrik yang diresmikan peletakan batu pertamanya Presiden Prabowo Subianto pada 29 Juni 2025 ini selesai dalam waktu sekitar 13 bulan. Total investasi untuk mencapai kapasitas penuh 15 GWh diperkirakan US$1,2 miliar (sekitar Rp21,19 triliun), dengan target melayani kebutuhan baterai hingga 250.000 unit kendaraan listrik.
Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif menjelaskan, lini produksi terintegrasi mencakup pabrik sel sepanjang 1 kilometer dan fasilitas packing di sebelahnya. Proses dimulai dari pengolahan material baku menjadi sel, hingga pengemasan akhir di fasilitas packer.
Transfer Teknologi dan Komitmen Hijau
Untuk menunjang operasional, IBC telah mengirimkan 600 pegawai mengikuti pelatihan teknis di Tiongkok sebagai bagian dari program knowledge transfer. Sebagai komitmen keberlanjutan, IBC berencana menginstal Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) kapasitas 18 MW peak pada 2027 untuk memasok energi bersih ke pabrik.
Pilar Ekosistem Baterai Terintegrasi Hulu-Hilir
Pabrik CATIB (JV 5) merupakan komponen hilir dari enam joint venture (JV) ekosistem baterai terintegrasi bernilai total US$5,9 miliar yang dioperasikan IBC, Antam, dan CBL. Ekosistem ini memanfaatkan cadangan nikel terbesar dunia, mencakup:
- Hulu (JV 1-3): Tambang nikel (SDA), Smelter RKEF (FHT), dan Smelter HPAL (HPAL JVCO) di Halmahera.
- Hilir (JV 4-6): Pabrik material katoda/prekursor (JV 4), Pabrik sel baterai CATIB (JV 5), dan Pabrik daur ulang baterai (JV 6).
Selain Karawang, IBC dan CATL mengembangkan proyek material baterai di Halmahera bernilai US$600 juta (JV 4) dengan target produksi 2028, serta fasilitas daur ulang (JV 6) target 2031.
Insight: Kecepatan penyelesaian pabrik CATIB (13 bulan) menandakan kemampuan eksekusi proyek strategis nasional yang langka. Integrasi hulu-hilir ini krusial untuk mengurangi ketergantungan impor komponen inti baterai sekaligus mengunci nilai tambah sumber daya nikel domestik, meski tantangan penetapan harga jual baterai ke OEM lokal tetap menjadi uji nyata keberlanjutan bisnis.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Rupiah Melemah Tipis ke Rp18.145 Ditopang Sentimen Minyak dan Perang Iran

Jelang Rilis PDB, Ekonomi RI Didukung PMI Manufaktur Terkuat 2 Tahun & Surplus Neraca Dagang

Bursa Asia Bervariasi: Kospi Anjlok 3,55%, Tekanan Saham Teknologi Global Berlanjut
