Maudy Ayunda Minta Maaf Usai Video Mindfulness Dinilai Tone Deaf

Selebriti
Nadia PutriNadia Putri
Sumber: CNN Selebriti
Nadia Putri
Nadia Putri
Editor Hiburan

Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

Maudy Ayunda Minta Maaf Usai Video Mindfulness Dinilai Tone Deaf
BAGIKAN:

Maudy Ayunda mengeluarkan klarifikasi dan meminta maaf setelah video opini berjudul "Mindfulness in the Age of Bad News" yang diunggahnya pada 21 Agustus 2026 menuai kritik tajam dari netizen. Penyanyi sekaligus penulis itu mengakui pandangannya soal "diet berita" untuk menjaga kesehatan mental ternyata mengabaikan sisi privileginya.

Dalam komentar yang disematkan di video YouTube-nya pada Minggu (13/9), Maudy menuliskan: "Being able to step away from the news is itself a privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya." Ia menegaskan mindfulness bukan alasan untuk tidak peduli atau menjauh dari realita.

Dari "Diet Berita" ke Hujatan Massal

Video asli Maudy berbagi pengalaman pribadi merasa kewalahan menghadapi deretan berita buruk di Indonesia—mulai karhutla, gempa, hingga kebijakan yang dinilai tidak tepat sasaran. Ia memilih membatasi asupan informasi, memilih sumber terpercaya, dan bertanya pada orang yang lebih paham soal isu tertentu demi menjaga keseimbangan mental.

"Aku enggak seharian mengekspos diri aku terhadap bad news karena ya sekali lagi, itu bisa bikin patah semangat, bisa bener-bener bikin disfungsional," ujarnya saat itu. Maudy juga mengakui dirinya tipe orang yang emosional dan overthinker.

Netizen: "Bad News Kamu Adalah Bad Reality Orang Lain"

Respon netizen justru memanas. Kolom komentar dipenuhi kritik keras soal ketidakpekaan privilese. Seorang netizen menuliskan: "For many of us, it's not just a news. It's our REALITY... can't ignore it...." Lainnya menuding: "tone deaf final boss" hingga "Ini kayak nasehat untuk sesama orang kaya."

Kritik paling tajam datang dari komentar: "Imagine describing someone else's suffering as 'negativity' you've chosen to remove from your life. The tone deaf Olympics have a new frontrunner." Banyak yang merasa tersinggung melihat Maudy tampak nyaman berbagi tips mental health sementara masyarakat lain langsung merasakan dampak krisis.

Belajar dari Feedback

Maudy menutup klarifikasinya dengan sikap terbuka: "Terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk mengingatkanku dan menambahkan perspektif menjadi lebih luas dan lebih dalam. Aku dengar dan aku hargai feedbacknya. I'm listening and learning."

Kasus ini jadi pengingat bagaimana diskusi soal kesehatan mental di ruang publik butuh konteks sosial yang lebih luas—bukan sekadar narasi individu yang terpisah dari realita kolektif.

Meow! Tanya Nesi!
😸