Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Mentah Brent Tembus US$107 per Barel

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Mentah Brent Tembus US$107 per Barel
BAGIKAN:

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu guncangan pada pasar energi global setelah harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 2 persen pada perdagangan Senin (14/9). Kenaikan signifikan ini dipicu oleh serangkaian serangan baru kelompok Houthi Yaman ke wilayah Arab Saudi serta insiden keamanan terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz yang mengancam stabilitas pasokan global.

Pada penutupan perdagangan, minyak mentah Brent melonjak sebesar US$2,90 atau sekitar 2,77 persen ke level US$107,51 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat US$2,27 atau 2,27 persen menjadi US$102,32 per barel. Pada awal pembukaan pasar, harga bahkan sempat melesat hingga melampaui 3 persen.

Ancaman Nyata Jalur Distribusi Energi Global

Eskalasi konflik bersenjata ini langsung berdampak pada infrastruktur energi kritis. Kelompok Houthi dilaporkan melancarkan serangan ke Provinsi Jazan, Arab Saudi, yang merusak sejumlah rumah dan fasilitas ibadah, serta mengklaim serangan terhadap pangkalan militer di wilayah tetangga. Di saat yang sama, ketegangan di Selat Hormuz meningkat setelah sebuah kapal dagang terbakar akibat hantaman proyektil, disusul laporan jatuhnya korban jiwa pada kapal dagang Iran di lepas pantainya.

Kekhawatiran pasar kian membubung menyusul penutupan pipa minyak East-West milik Arab Saudi sejak Jumat (11/9) akibat serangan drone dari Irak. Penutupan jalur pipa yang mengalirkan hingga 4 persen pasokan minyak global ini sangat krusial, mengingat fungsinya sebagai rute alternatif ekspor Saudi guna menghindari Selat Hormuz. Risiko hambatan logistik juga meluas ke Selat Bab el-Mandeb seiring pergerakan Houthi di Pulau Perim.

Prospek Pasar dan Upaya Diplomasi yang Tertunda

Secara akumulatif, harga minyak telah melonjak sekitar 8 persen sepanjang pekan lalu, menembus kembali level psikologis US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli. Analis pasar menilai tren penguatan ini masih berpotensi berlanjut apabila pipa East-West tidak segera beroperasi kembali atau jika ketegangan di Selat Hormuz gagal diredakan melalui jalur diplomasi.

Sayangnya, upaya meredakan ketegangan menemui jalan buntu setelah pertemuan negara-negara Teluk dengan Iran yang dijadwalkan pada hari Senin resmi ditunda. Penundaan ini memperpanjang ketidakpastian di tengah konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran beserta sekutunya selama enam bulan terakhir.

Penutupan pipa East-West dan eskalasi di Selat Bab el-Mandeb serta Selat Hormuz menciptakan risiko sistemik yang sangat tinggi bagi rantai pasok energi dunia. Ketika jalur-jalur logistik vital ini terganggu secara bersamaan, premi risiko geopolitik akan langsung terkerek naik, memaksa pasar mengantisipasi kelangkaan pasokan yang berpotensi menahan harga minyak tetap berada di atas level psikologis US$100 per barel dalam jangka pendek hingga menengah.

Pertanyaan Terkait

Mengapa harga minyak dunia melonjak tajam?
Lonjakan harga dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan global akibat serangan Houthi ke Arab Saudi dan insiden keamanan terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz.

Apa pentingnya pipa East-West bagi Arab Saudi?
Pipa East-West merupakan jalur alternatif penting bagi Arab Saudi untuk mengekspor minyak tanpa harus melewati Selat Hormuz yang rawan konflik. Penutupannya mengancam sekitar 4 persen pasokan minyak global.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ