Pertamax Menuju Rp20 Ribu: Pertamina Proyeksikan Lonjakan Harga BBM Non-Subsidi

PT Pertamina Patra Niaga memproyeksikan harga BBM non-subsidi — mulai Pertamax hingga Pertamina Dex — berpeluang melonjak hingga kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter. Proyeksi ini dilepaskan langsung oleh Direktur Pemasaran Ritel, Eko Ricky Susanto, dalam media gathering di Bantul, Yogyakarta, Jumat (11/9), seiring tak kunjung meredanya tren kenaikan harga minyak mentah global.
Geopolitik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama
Eko menegaskan krisis energi global kali ini terasa lebih berat dibandingkan konflik Rusia-Ukraina. Pemblokiran Selat Hormuz akibat eskalasi militer di Timur Tengah menciptakan efek domino yang meluas ke ketersediaan dan stabilitas harga energi dunia. "Perang di Timur Tengah, di Selat Hormuz ini, ternyata dampaknya secara global selain ketersediaan energi di dunia, itu juga harga yang saat ini belum stabil," ujarnya.
Patokan Minyak Mentah Tembus US$100 per Bare
Data pasar internasional memperkuat pesimisme tersebut. Mengutip Reuters pada Jumat (11/9), harga minyak Brent naik 1 persen ke US$108,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,95 persen ke US$103,45 per barel. Kedua benchmark ini sempat melonjak lebih dari 6 persen sehari sebelumnya, mencatat kenaikan mingguan mendekati 13 persen — laju tertinggi sejak 17 Juli lalu.
Pertamina berharap harga minyak dunia bisa kembali ke kisaran US$60–70 per barel (sekitar Rp1.056.420–Rp1.232.490, kurs Rp17.607) seperti era pra-krisis. "Kalau berharap turun 70 dolar per barel atau 60 dolar per barel sebelum terjadinya krisis geopolitik, ya kita doakan mungkin semoga itu bisa terjadi dalam waktu cepat," tambah Eko.
Dampak ke Konsumen dan Industri Otomotif
Bagi pengendara dan industri otomotif, proyeksi ini berarti tekanan biaya operasional yang signifikan. Kenaikan ke level Rp20.000 per liter akan menggeser kalkulasi Total Cost of Ownership (TCO) kendaraan bensin, mempercepat pergeseran minat ke kendaraan listrik (EV) atau hybrid yang efisiensi energinya lebih terprediksi. Pelaku usaha logistik dan transportasi umum non-subsidi pun dihadapkan pada dilema naikkan tarif atau serap kerugian.
Pertamax dan harga BBM non-subsidi memang mengikuti mekanisme harga pasar (market price), namun lonjakan tajam ini menguji ketahanan daya beli sekaligus percepatan transisi energi nasional.
BERITA TERKAIT (Otomotif)

Polisi Gencar Kejar Pengendara Knalpot Brong, Ancam Pidana Kurungan Sebulan dan Denda

Veda Ega Naik ke Posisi Ketujuh Klasemen Moto3 2026 Usai Podium di Malaysia

Yamaha Tarik Diri dari MotoGP Qatar, Puluhan Pebalap Khawatir Eskalasi Konflik Timur Tengah
