Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Uranium 20 Kg Setara Satu Bom Nuklir Masih Tersimpan di Inuki, Bapeten Beri Peringatan Keras

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Uranium 20 Kg Setara Satu Bom Nuklir Masih Tersimpan di Inuki, Bapeten Beri Peringatan Keras
BAGIKAN:

Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) mengungkap stok uranium sebanyak 20 kg masih tersimpan di PT Industri Nuklir Indonesia (Inuki), meski perusahaan itu sudah berhenti beroperasi. Dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi XII DPR RI di Jakarta, Jumat (11/9/2026), Plt Kepala Bapeten Zainal Arifin menyatakan jumlah material itu setara dengan satu bom nuklir sehingga menuntut penanganan keselamatan dan pengamanan ekstra ketat.

Pernyataan itu bukan alarm kosong. Bapeten mencatat proses serah terima PT Inuki ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) belum tuntas. Di saat yang sama, bahan bakar reaktor nuklir di Serpong dilaporkan habis dan tidak ada lagi produksi lokal. Pasokan dari luar negeri pun tidak bisa serta-merta dibeli karena bahan bakar tersebut sebelumnya diproduksi khusus oleh Inuki.

Ketergantungan Lokal dan Risiko Kelembagaan

Dalam RDP tersebut, Zainal menegaskan Inuki masih menyimpan uranium sekitar 20 kg setara satu bom nuklir. 'Ini yang menjadi perhatian kita semua,' ujarnya. Bagi pasar dan dunia usaha, sinyal ini penting: aset strategis yang tertahan dapat menjadi beban fiskal, risiko regulasi, dan ganjalan transisi kelembagaan. Proses alih status ke BRIN yang belum selesai membuat ketidakpastian kian panjang.

Bapeten juga menyoroti fasilitas Gedung 10 dan Gedung 60 milik Inuki yang masih memerlukan dekontaminasi. Penghentian kegiatan usaha tidak menghapus kewajiban pemenuhan standar keselamatan, keamanan, serta safeguards secara nasional maupun internasional. Ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan prasyarat agar sumber radioaktif dan bahan nuklir tidak terabaikan.

Insight Bisnis: Negara Tak Boleh Kalah Cepat dari Risiko

Sebagai ekonom, saya melihat persoalan ini sebagai cermin tata kelola aset strategis. Ketika sebuah perusahaan berhenti beroperasi, pailit, atau mengalami masalah usaha, kewajiban keselamatan tidak ikut mati. Justru di titik itu risiko membesar karena pengawasan rutin melemah. Bapeten mengantisipasi pemegang izin yang bangkrut, dan pengawasan ketat tetap diberlakukan. Namun, pengawasan saja tidak cukup jika penyelesaian serah terima ke BRIN terus berlarut.

Pemerintah perlu mempercepat kepastian hukum dan operasional. Tanpa itu, Indonesia menghadapi tiga eksposur sekaligus: keselamatan publik, keamanan nasional, dan reputasi di forum internasional. Di sisi lain, hilangnya kemampuan produksi bahan bakar reaktor lokal menunjukkan pentingnya peta jalan teknologi nuklir yang tidak bergantung pada satu entitas. Ini pelajaran mahal bahwa aset nuklir tidak bisa dikelola dengan logika bisnis biasa.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa yang membuat 20 kg uranium di Inuki berbahaya?
Jumlah itu setara satu bom nuklir sehingga memerlukan pengamanan dan keselamatan ketat, terutama karena operasional perusahaan sudah berhenti.

Mengapa bahan bakar reaktor Serpong tidak bisa dibeli dari negara lain?
Karena bahan bakar tersebut sebelumnya diproduksi khusus oleh PT Inuki, sehingga tidak tersedia bebas di pasar internasional.

Apa kewajiban yang tetap melekat meski Inuki berhenti beroperasi?
Kewajiban keselamatan, keamanan, dan safeguards nasional maupun internasional tetap harus dipenuhi, termasuk dekontaminasi Gedung 10 dan 60.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ