Trump Janji Bagi-Bagi US$5.000 Jelang Pemilu AS, Parlemen Republik Panik dan Ekonomi Terancam

Dunia
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Trump Janji Bagi-Bagi US$5.000 Jelang Pemilu AS, Parlemen Republik Panik dan Ekonomi Terancam
BAGIKAN:

Janji Rp88 Juta per Warga AS Guncang Washington

Washington, DC — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjanjikan US$5.000 (sekitar Rp88 juta) kepada setiap warga dewasa AS apabila Partai Republik memenangi pemilu paruh waktu November. Janji itu disampaikan di konvensi Partai Republik di Dallas, Rabu (9/9), dan langsung memicu kekhawatiran di parlemen karena berpotensi menambah beban fiskal lebih dari US$1 triliun (sekitar Rp17 ribu triliun) dalam satu tahun.

Anggota parlemen dari Texas, Chip Roy, terdengar skeptis. Kepada Politico, ia mempertanyakan sumber dana. “Yah, saya ingin tahu bagaimana mereka berencana membayar ... perkiraan kasarnya ... sekitar lebih dari US$1 triliun (sekitar Rp17 ribu triliun),” ucap Roy, seperti dikutip The Guardian.

Rekan sesama Partai Republik dari Kentucky, Thomas Massie, juga menolak gagasan itu. Di media sosial, ia menulis merasa tersinggung dengan anggapan bahwa suaranya pada November dapat dibeli seharga US$5.000. “Saya tidak tahu bagaimana pendapat kalian semua, tetapi terus terang saya merasa tersinggung dengan anggapan bahwa suara saya pada bulan November ini dapat dibeli dengan 5.000 dolar,” tulisnya, seperti dikutip Associated Press.

Kepanikan di Dalam Pemerintahan

Menurut penasihat politik Trump yang berbicara kepada CNN, rencana pemberian uang ini hanya dibahas dengan lingkaran kecil penasihat, termasuk Jason Miller dan James Blair. Sebagian besar pejabat pemerintahan tidak mengetahui dan kini kelimpungan mengelola dampak pernyataan presiden.

Dalam perspektif hubungan internasional, janji ini bukan sekadar manuver kampanye domestik. AS adalah penerbit utang global utama. Sinyal fiskal yang tidak disiplin dapat menggetarkan pasar obligasi Treasury, nilai dolar, dan kepercayaan investor terhadap stabilitas kebijakan Washington. Jika preseden ini berhasil, politisi di negara lain berpotensi meniru populisme anggaran: menawarkan transfer tunai besar tanpa sumber pendapatan yang jelas.

Peringatan Ekonom: Defisit dan Inflasi

Wakil Presiden Senior dan Direktur Kebijakan Senior di Committee for a Responsible Federal Budget (CRFB), Marc Goldwein, mengatakan janji Trump bakal mencekik ekonomi AS mengingat Washington memiliki sekitar 240 juta warga dewasa. “Ini akan menelan biaya sekitar US$1,2 triliun hanya dalam satu tahun. Itu lebih banyak daripada SELURUH TIGA PUTARAN bantuan COVID, meskipun tidak terjadi resesi. Hasilnya akan berupa lonjakan besar dalam defisit, dan hampir pasti dalam tingkat inflasi,” kata Goldwein di media sosial X.

Ia menjelaskan inflasi di AS saat ini tak terkendali dan anggaran lebih banyak dihabiskan untuk bunga alih-alih sektor pertahanan dan kesehatan. “Jaminan sosial akan mengalami kebangkrutan dalam enam tahun. Hal terakhir yang kita butuhkan adalah meminjam satu triliun dolar lagi untuk mengirim cek kepada semua orang,” paparnya.

Goldwein mewanti-wanti pengeluaran seperti ini berisiko menyebabkan lonjakan ekonomi sesaat yang kemudian diikuti resesi. “Jika ini berhasil, pelajaran bagi setiap politikus di masa depan adalah: Jika Anda ingin memenangkan pemilu, janjikan satu triliun dolar, dan kalikan satu triliun dolar dengan jumlah pemilihan yang akan datang, itu adalah resep untuk kebangkrutan,” tulisnya.

Respons Demokrat dan Bayang-Bayang Janji Lama

Para politikus dari Partai Demokrat merespons dengan kecaman keras. Gubernur California Gavin Newsom mengatakan uang yang dijanjikan Trump lagi-lagi bakal berasal dari pajak masyarakat. “Setelah membuat Anda sakit dan miskin dengan perangnya, Donald Trump sekarang ingin membeli suara Anda dengan uang haram dari pajak senilai US$5.000,” ucap Newsom.

Komite Nasional Demokrat (DNC) juga mengingatkan masyarakat mengenai janji-janji kosong Trump di masa lalu, salah satunya dividen kebijakan DOGE dan tarif impor. Tahun lalu, Trump menggembar-gembor akan memberikan dividen DOGE sebesar US$5.000 dari pemangkasan jumlah pegawai federal. Baru-baru ini, ia juga berjanji akan mengirim cek sebesar US$2.000 dari pendapatan tarif terhadap berbagai negara. Namun, kedua janji tersebut hingga kini belum terwujud.

“Donald Trump sekali lagi menawarkan janji-janji kosong kepada rakyat Amerika,” kata direktur DNC, Kendall Witmer. “Satu-satunya orang yang menuai manfaat dari ekonomi Trump adalah dirinya sendiri, keluarganya, dan para donatur elitnya. Sementara itu, keluarga pekerja tidak mendapat apa pun kecuali tagihan yang sangat tinggi di toko bahan makanan dan SPBU, layanan kesehatan yang tidak terjangkau, dan upah yang tidak sebanding dengan inflasi.”

Bagi dunia, janji ini menjadi ujian atas kredibilitas fiskal Washington sekaligus cermin pergeseran politik AS menuju transaksionalisme elektoral. Yang belum jelas: apakah ini akan menjadi kebijakan nyata, atau hanya retorika kampanye yang akan menguap setelah pemilu.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa isi janji Donald Trump? Ia menjanjikan US$5.000 kepada setiap warga dewasa AS jika Partai Republik menang pemilu paruh waktu November.

Berapa besar biaya yang harus ditanggung? Dengan sekitar 240 juta warga dewasa, biayanya diperkirakan US$1,2 triliun per tahun, lebih besar dari total tiga putaran bantuan COVID.

Mengapa ini menuai kritik? Kritik muncul karena tidak ada sumber pendanaan jelas, berisiko melonjakkan defisit dan inflasi, serta dianggap membeli suara pemilih.

Meow! Tanya Nesi!
😸