RI Kirim 32 Negosiator ke China, Kunci Tarik Investasi demi Target 8% 2029
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Jakarta - Pemerintah Indonesia menyiapkan 'pasukan negosiator' dengan mengirim 32 pegawai Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian ke China selama 14 hari untuk pelatihan intensif negosiasi. Langkah ini diambil untuk memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan ekonomi dan investasi internasional, sekaligus mengejar target pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029.
Program tersebut merupakan kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah China melalui Ministry of Commerce of China (MOFCOM). Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso menegaskan kemampuan negosiasi menjadi modal penting untuk menarik investasi global, membuka akses pasar baru, hingga mengamankan kepentingan nasional dalam berbagai perjanjian ekonomi internasional.
Negosiasi Jadi Infrastruktur Tak Terlihat
Susiwijono menyebut target pertumbuhan menuju 8% pada 2029 menuntut investasi berkualitas, akses pasar baru, penguatan hilirisasi, dan alih teknologi. Semua itu, katanya, sebagian besar ditentukan di meja perundingan dengan mitra internasional.
Dalam kacamata ekonomi makro, langkah ini adalah investasi jangka panjang pada kapasitas negara. Negosiasi bukan lagi urusan seremonial diplomatik, melainkan instrumen ekonomi yang menentukan nilai tambah, ruang fiskal, dan daya saing industri. Pemerintah ingin aparatur tidak lagi bekerja dengan pola business as usual. Peserta pelatihan diharapkan mampu menciptakan terobosan dalam perundingan internasional yang berdampak langsung pada agenda pembangunan nasional.
Materi pelatihan mencakup psikologi dan strategi negosiasi, komunikasi lintas budaya, negosiasi perdagangan multilateral, perjanjian perdagangan bebas (FTA), hingga penyelesaian sengketa internasional. Peserta juga mengikuti simulasi negosiasi diplomatik yang dirancang menyerupai situasi perundingan sesungguhnya.
Mengapa China?
Susiwijono menilai China tempat tepat untuk mempelajari keterampilan tersebut karena budaya negosiasi telah menjadi bagian penting dari tradisi bisnis dan diplomasi negara itu. Di Tiongkok, negosiasi bukan semata teknik di meja perundingan, melainkan keterampilan budaya yang mengakar kuat dalam tradisi, sejarah, dan keterampilan fundamental.
Deputi Bidang Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian Edi Prio Pambudi menyebut pelatihan ini investasi jangka panjang bagi institusi pemerintah. Hasilnya diharapkan tidak berhenti pada pengalaman individu, tetapi ditransformasikan menjadi kapasitas organisasi untuk memperkuat posisi Indonesia dalam berbagai perundingan internasional.
Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong menegaskan pengembangan sumber daya manusia adalah bagian penting dari Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-China. Menurutnya, kemampuan negosiasi aparatur pemerintah sangat menentukan keberhasilan kerja sama kedua negara, terutama di bidang perdagangan, investasi, hilirisasi, transisi energi, dan teknologi.
Analisis: Jangan Berhenti pada Pelatihan
Dengan semakin besarnya peran China sebagai salah satu mitra dagang dan investor terbesar Indonesia, kualitas negosiator pemerintah akan menjadi faktor penting untuk memastikan manfaat kerja sama diperoleh optimal. Namun, pelatihan 14 hari bukan obat instan. Pemerintah perlu memastikan ada mandat yang jelas, koordinasi lintas kementerian, dan ukuran keberhasilan yang terukur. Tanpa itu, kemampuan negosiasi bisa habis di ruang pelatihan, bukan di meja perundingan.
Bagi Indonesia, taruhannya besar. Setiap kesepakatan investasi, perdagangan, dan hilirisasi akan menentukan apakah target 8% pada 2029 sekadar angka politik atau menjadi lompatan struktural. Pasukan negosiator ini adalah sinyal bahwa pemerintah mulai menyadari bahwa pertarungan ekonomi global tidak dimenangkan hanya dengan regulasi domestik, tetapi juga dengan kecerdasan bernegosiasi.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa tujuan pelatihan 32 pegawai Kemenko Perekonomian di China?
Untuk meningkatkan kemampuan negosiasi aparatur pemerintah dalam menarik investasi, membuka akses pasar, dan mengamankan kepentingan nasional dalam perjanjian ekonomi internasional.
Mengapa China dipilih sebagai lokasi pelatihan?
Karena China dinilai memiliki tradisi negosiasi yang kuat dan telah menjadi bagian penting dari budaya bisnis serta diplomasi negara tersebut.
Apa kaitannya dengan target pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029?
Pemerintah menilai target itu membutuhkan investasi berkualitas, akses pasar baru, hilirisasi, dan alih teknologi yang sebagian besar diperoleh melalui perundingan dengan mitra internasional.


